Mohamad History

MUHAMMAD SANG NARCIST SEJATI

.

Artikel ini merupakan kelanjutan dari ulasan buku Ali Sina yang berjudul Understanding Muhammad: The Psychobiography of Allah’s Prophet (Mengenal Muhammad: Psikobiografi Sang Nabi Allah) :
Baca: Klik-Link.

.PROFIL PRIBADI..MUHAMMAD.



Terdapat puluhan ribu kisah/riwayat pendek tentang Muhammad. Kebanyakan adalah karangan/dibuat-buat, sebagian lainnya lemah dan diragukan kesahihannya, tapi sisanya dipercaya sebagai Hadits (tradisi/kisah/riwayat dari mulut kemulut) yang Sahih (otentik, benar). Dengan membaca Hadits Sahih ini, sebuah gambaran konsisten yang jelas dari Muhammad muncul dan dimungkinkan utk membuat evaluasi yang kurang lebih tepat mengenai karakternya dan keadaan psikologinya. Gambar yang muncul adalah gambaran seorang Narsisis. Dalam bab ini saya akan mengutip sumber-sumber berwenang dalam hal narsisisme dan kemudian akan mencoba menunjukkan bagaimana Muhammad cocok sekali dengan profil tersebut. Para akademisi dan ilmuwan yang melakukan riset dalam hal ini telah dibatasi karena para muslim tidak mau dan tidak akan mengijinkan penyelidikan objektif kedalam Quran atau kehidupan Muhammad. Tapi, apa yang ditulis mengenai dia tidak hanya konsisten dengan definisi narsisisme, tapi juga bisa dilihat dalam banyak tindakan-tindakan aneh yang mirip, yang dilakukan oleh para muslim itu sendiri seluruh dunia. Dg demikian, penyakit jiwa/kepribadian dari satu orang telah ditularkan seperti sebuah warisan kepada para pengikutnya, dimana sakit kejiwaan dari satu orang, yang luar biasa dalam hal keasyikan-terhadap-dirinya-sendiri, telah menyebar dan menulari jutaan para pengikutnya, membuat mereka bertindak sama berbahaya, irasional dan asyik-sendiri.
Adalah melalui pemahaman dari aspek psikologi Muhammad, kekejamannya dan etika situasionalnya yang begitu penting bagi karakternya inilah kita mulai utk mengerti kenapa para muslim begitu tidak toleran, begitu suka kekerasan dan begitu paranoid. Kenapa mereka melihat diri sendiri sebagai korban ketika mereka sendirilah yang menjadi penyerang dan penyebab adanya korban!

APAKAH NARSISISME? The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM/Buku petunjuk Statistik dan Diagnosa dari Penyakit Jiwa) memberi definisi dari narcissistic personality disorder (NPD/Penyakit kepribadian Narsisistik) sebagai “sebuah pola penyebaran perasaan hebat (dalam khayalan atau tingkah laku), kebutuhan utk dikagumi atau dipuja-puja dan kurangnya empati, biasanya dimulai dari awal masa dewasa dan ada dalam konteks bermacam-macam.” (reference 80, p. 61). Terjemahan bebasnya, seorang narsisistik adalah ciri khas seseorang yang secara obsesif mencari-cari kepuasan, dominasi dan ambisi diri secara berlebihan. Mereka cenderung melebih-lebihkan kemampuan mereka, bakat mereka dan prestasi-prestasi mereka.

Seorang narsisis adalah seorang pembohong yang alami dan patologis. Mereka akan memandangmu tajam-tajam, bersumpah dalam nama tuhan dan mengatakan kebohongan terbesar yang pernah kau dengar. Mereka akan bilang tidak akan melakukan hal itu, sementara yang sebenarnya adalah mereka merencanakan utk melakukan hal yang dia bilang tidak akan mereka lakukan itu.

Edisi ketiga dan keempat dari Diagnostic and Statistic Manual (DSM) tahun 1980 dan 1994 dan European ICD-10 menjelaskan NPD dalam bahasa yang identik: Sebuah pola penyebaran perasaan hebat (dalam khayalan atau tingkah laku), kebutuhan utk dikagumi atau dipuja-puja dan kurangnya empati, biasanya dimulai dari awal masa dewasa dan ada dalam konteks bermacam-macam. Lima (atau lebih) kriteria berikut harus ada pd seorang narsistik:

1. Merasa hebat dan penting (misal, membesar-besarkan prestasi dan bakat hingga terdengar mustahil/bohong, menuntut dikenali sebagai seorang yang superior/lebih tinggi meski tanpa prestasi yang pantas).
2. Terobsesi oleh fantasi-fantasi sukses yang tidak ada batasnya, ketenaran, kekuatan menakutkan atau maha, kepintaran yang tak ada tandingannya (narsisis cerebral), keindahan tubuh atau kemampuan seks (narsisis somatic) atau cinta/birahi yang menuntuk penaklukan, kekal dan ideal.
3. Benar-benar merasa yakin bahwa dia itu unik dan spesial, hanya dapat dimengerti oleh, hanya mesti diperlakukan dengan, atau dihubung-hubungkan dengan, orang (atau institusi) lain yang juga special, unik atau punya status tinggi.
4. Membutuhkan utk dikagumi dengan berlebihan, dipuja-puja, diperhatikan dan diiyakan, jika tidak, ia berharap utk ditakuti dan dikenal karena kejahatannya (narsisis supply).
5. Merasa berhak. Mengharap utk diprioritaskan dalam hal perlakuan baik dan spesial atau tidak masuk akal. Menuntut dipenuhi secara otomatis dan benar-benar sesuai dengan harapannya.
6. Sangat memanfaatkan hubungan antar manusia, yakni, memperalat orang lain utk mencapai tujuan-tujuannya.
7. Tidak punya empati. Tak mampu atau tak rela utk mengenali atau mengakui perasaan-perasaan dan kebutuhan-kebutuhan orang lain.
8. Terus menerus cemburu (iri) terhadap orang lain atau percaya bahwa orang lain mempunyai perasaan cemburu (iri hati) yang sama terhadapnya.
9. Sangat arogan, kelakuan atau sikap sombongnya digabung dengan kemurkaan jika merasa frustasi, ditentang atau dilawan [1]


Semua ciri ini ada dalam diri Muhammad. Diluar dari pemikiran dia adalah utusan Tuhan dan Nabi penutup, (Q.33:40) Muhammad menganggap dirinya sebagai Khayru-l-Khalq “Ciptaan paling baik,” “Suri Tauladan,” (Q.33:21) dan secara tegas dan mutlak mengisyaratkan sebagai “lebih tinggi beberapa derajat dibanding nabi-nabi lain.” (Q.2:253) Dia mengklaim sebagai “nabi yang lebih disukai,” (Q.17:55) dikirim sebagai “rahmat bagi semesta alam,” (Q.21:107) diangkat “ketempat yang terpuji,” (Q.17:79) sebuah posisi/tempat yang mana kata dia tak seorangpun kecuali dia yang mendapatkannya dan itu adalah menjadi perantara/intersesi disebelah kanan Tuhan yang maha kuasa disebelah singgasanaNya. Dengan kata lain, dia akan menjadi orang yang memberi nasihat pada Tuhan siapa yang harus dikirim ke Neraka dan siapa yang dimasukkan ke Surga. Ini baru sedikit saja dari klaim-klaim yang dinyatakan sang Megalomania Muhammad tentang posisi tingginya, seperti yang dilaporkan dalam Quran. Berikut ini adalah dua ayat yang mengungkapkan dengan jelas rasa ‘pentingnya diri’ dan ‘kebesaran’ Muhammad sendiri.
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Q.33.56).
“Supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkanNya, membesarkan-Nya. Dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (Q 48.9)

Ia begitu terkesan dengan dirinya sendiri, hingga dia taruh kalimat berikut ini kedalam mulut makhluk bernama auwloh boneka ciptaannya: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” (Q 68.4) dan “untuk jadi cahaya yang menerangi.” (Q 33.46).

Ibn Sa’d melaporkan Muhammad berkata:
“Diantara semua bangsa didunia Tuhan memilih bangsa Arab. Dari antara bangsa Arab Dia memilih Kinana. Dari Kinana dia memilih Suku Quraish (sukunya Muhammad). Dari suku Quraish Dia memilih Bani Hashim (klannya). Dan dari Bani Hashim Dia memilih Aku.” [2]

Yang berikut adalah beberapa klaim dari Muhammad yang dia katakan sendiri dalam Hadits.
• Hal pertama yang dibuat Allah Maha Kuasa adalah jiwaku.
• Pertama dari segala hal, Allah menciptakan jiwaku.
• Aku dari Allah, dan orang2 percaya adalah dariku. [3]
• Seperti Allah menciptakanku agung, dia juga memberiku karakter Agung.
• Kalau bukan karena kau, [O Muhammad] Aku tidak akan menciptakan jagat raya. [4]

Bandingkan itu dengan perkataan Yesus, yang ketika seseorang memanggilnya “guru yang baik,” dia keberatan dan berkata, “Kenapa kau panggil aku baik? Tak ada seorangpun yang baik – kecuali Tuhan saja.”[5] Hanya seorang narsisis patologis yang bisa begitu terpisah dari kenyataan hingga mengaku jagat raya diciptakan karena dia saja. Bagi orang biasa, seorang narsisis mungkin kelihatan begitu percaya diri dan terampil. Dalam kenyataan dia menderita kurang percaya diri yang sangat besar dan butuh suplai pujian, pujaan dan kemuliaan dari luar.

Dr. Sam Vaknin adalah penulis Malignant Self-Love (Cinta Diri Sendiri yang membahayakan). Dia sendiri mengaku sebagai seorang narsisis dan mungkin karenanya, dapat dianggap sebagai otoritas akan subjeknya. Vaknin menjelaskan:
Setiap orang adalah seorang narsisis, sampai tahap tertentu. Narsisisme adalah sebuah fenomena yang sehat. Hal itu membantu perjuangan hidup. Perbedaan antara narsisisme patologis/penyakit dan yang sehat adalah, tentu saja, dalam ukurannya. Narsisisme Patologis… dicirikan dengan sangat kurangnya rasa empati. Orang narsisis menganggap dan memperlakukan orang lain sebagai objek utk dieksploitasi. Dia gunakan mereka utk mendapatkan suplai narsisistiknya. Dia percaya bahwa dia berhak utk diperlakukan dengan spesial karena dia mengandung banyak khayalan-khayalan agung tentang dirinya. Orang narsisis TIDAK sadar diri. Kesadaran/pengertiannya dan emosinya menyimpang… Orang narsisis berbohong pada dirinya sendiri dan pada orang lain, memproyeksikan “ketidak tersentuhan,’ kekebalan emosional dan perasaan tak terkalahkan… Bagi seorang narsisis segala hal lebih besar daripada kehidupan itu sendiri. Jika dia bersikap sopan, maka dia melakukannya dengan sangat sangat sopan. Janji-janjinya sangat aneh, kritikannya mengandung kekerasan dan tak menyenangkan, kemurahan hati sama sekali tidak ada… Orang narsisis adalah ahli menyamar/menyembunyikan sesuatu. Dia seorang yang memikat hati, aktor berbakat, pesulap dan seorang sutradara baik bagi dirinya maupun bagi lingkungannya. Sangat sulit sekali utk membuka kedoknya pada pertemuan pertama.

ALIRAN PEMUJAAN DARI SEORANG NARSISIS
Seorang narsisis membutuhkan pengagum. Dia menarik lingkaran khayal disekeliling dirinya, dimana dia menjadi pusatnya. Dia kumpulkan para fans dan pengikutnya kedalam lingkaran tersebut, menghadiahi mereka dan mendorong mereka utk menjadi seorang penjilat terhadap dirinya. Mereka yang jatuh keluar lingkaran, di anggap sebagai musuhnya. Vaknin menjelaskan: Seorang Narsisis adalah guru/pemimpin spiritual pada pusat sebuah pemujaan (cult). Seperti guru-guru lainnya, dia menuntut kepatuhan total dari jemaahnya: istrinya, anaknya, anggota keluarga lainnya, teman-teman dan kolega-kolega. Dia merasa berhak utk dipuja dan diperlakukan spesial oleh para pengikutnya. Dia menghukum orang yang tidak patuh. Dia paksakan disiplin, ketaatan pada ajaran-ajarannya dan tujuan-tujuannya. Semakin kurang prestasi yang dia capai dalam kenyataan – semakin keras penguasaannya dan semakin meresap pencucian otaknya. Kontrol dari orang-orang narsisis didasarkan pada kemenduaan, pendirian yang tidak dapat ditebak, ketidakjelasan dan penyalah gunaan situasi.[7] Tingkahnya yang berubah-ubah secara eksklusif mendefinisikan benar dan salah, yang diinginkan dan yang tidak diinginkan, apa yang harus dicapai dan apa yang harus dihindarkan. Dia sendiri menetapkan apa yang benar dan kewajiban-kewajiban dari para pengikutnya dan mengubah-ubah mereka semau dia.

Orang narsisis adalah seorang manajer mikro. Dia memaksa utk mengatur semua rincian yang detil dan segala tindak-tanduk. Dia menghukum dengan kejam dan menganiaya mereka yang menahan informasi dan mereka yang gagal utk memenuhi harapan dan tujuannya. Orang narsisis tidak menghormati batas-batas dan privasi dari para pengikutnya yang terpaksa. Dia mengabaikan harapan-harapan mereka dan memperlakukan mereka sebagai objek atau alat utk kepuasan diri. Dia berusaha utk mengontrol baik situasi maupun orang-orangnya secara paksa.

Dia dengan keras tidak menyetujui otonomi dan kemandirian orang lain. Bahkan aktivitas yang tidak berbahaya, seperti bertemu teman atau mengunjungi keluarga perlu mendapat ijinnya dulu. Pelahan, dia mengisolasi mereka yang dekat dengannya sampai mereka sepenuhnya tergantung pada dia secara emosional, seksual, finansial dan sosial.

“Dia berkelakuan dalam sebuah cara seakan menjadi pelindung dan sekaligus merendahkan dan sering mengkritik. Dia berpindah-pindah dari menekankan kesalahan-kesalahan detil (merendahkan) dan melebih-lebihkan bakat, perlakuan dan kemampuan dari anggota cult-nya. Dia tidak realistis dalam pengharapan-pengharapannya, lalu mengabsahkan penganiayaan setelahnya.[8]

Muhammad menciptakan sebuah kebohongan besar yang oleh para pengikutnya dipercaya sebagai kebenaran yang mutlak yg tak dapat dipertanyakan. Bahayanya adalah bahwa mereka, seperti juga orang-orang yang percaya pada kebohongan Hitler, adalah para pengikut yg ikut secara sukarela.


Dalam bab sebelumnya, dimana kita baca pengenalan pada Muhammad, kita lihat bagaimana dia pisahkan para pengikutnya dari keluarga-keluarga mereka dan tahap kontrol yang dia paksakan pada kehidupan pribadi mereka. Situasi ini tidak berubah banyak setelah 1400 tahun. Saya telah menerima banyak kisah-kisah menyedihkan dari orang tua yang bilang anak mereka masuk islam dan sekarang dikelilingi oleh muslim yang membujuk mereka agar jangan mengunjungi orang tua mereka.

PESAN/ALASAN SANG NARSISIS
Orang narsisis tahu bahwa mengiklankan diri mereka secara langsung akan terlihat sebagai hal yang menjijikan dan akan ditolak. Makanya, dia menyajikan diri mereka sebagai orang yang sederhana, sebagai orang yang hampir tidak menonjolkan diri, orang yang melayani Tuhan, kemanusiaan atau alasan, apapun kasusnya. Dibelakang semua kedok ini terdapat sebuah tipu daya yang jelas. Orang narsisis ‘memberkati’ para pengikutnya dg sebuah ALASAN/PESAN, yang begitu besarnya, begitu agung hingga mereka tidak bisa jadi apa-apa tanpa itu. Melalui muslihat dan manipulasi, pesan ini jadi lebih penting daripada nyawa orang-orang yang akan menjadi para pemercaya. Begitu dicuci otaknya hingga mereka rela mati dan tentu saja, rela membunuh utk itu. Orang narsisis mendorong pengorbanan – semakin banyak, semakin baik. Lalu dia munculkan dirinya sebagai poros dari pesan itu. Pesan-pesan ini berputar-putar disekeliling dia. Adalah dia saja, yang bisa membuatnya terjadi dan yang akan memimpin para pengikutnya ke Tanah Perjanjian. Pesan kolosal ini tidak dapat hidup tanpa si narsisis. Dia, dg demikian menjadi orang yang paling penting sedunia. Begitulah caranya pemimpin cult (aliran kepercayaan sesat) yang narsisis memanipulasi para pengikutnya. Pesan itu hanya sebuah alat utk tujuan akhir mereka. Bisa apa saja. Bagi Jim Jones, orang yang mengajak 911, orang melakukan bunuh diri masal di Guyana, ‘keadilan sosial’ adalah pesannya, dan dia adalah messias bagi pesan itu.

Hitler memilih sosio nasionalisme sebagai pesannya. Dia tidak secara terbuka memuji-muji dirinya sendiri, tapi malah memakai pesan arianisme dan superioritas bangsa Jerman. Dia, tentu saja, adalah seorang pengilham yang tidak tergantikan dan Fuehrer bagi pesan itu. Bagi Stalin pesannya adalah komunisme. Siapapun yang tidak setuju dengannya sama dengan menentang proletariat dan harus dibunuh.

Muhammad tidak meminta para pengikutnya utk memuja dia. Malah dia mengklaim ‘hanya utusan saja.” Sebagai gantinya dia menuntut kepatuhan, dengan tangkasnya meminta para pengikutnya utk taat pada “Auwloh dan UtusanNya.” Dalam sebuah ayat Quran, dia taruh perkataan berikut dalam mulut auwlohnya:
“Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: “Harta rampasan perang itu kepunyaan Allah dan Rasul, sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman” (Q 8.1) Karena auwloh tidak perlu barang-barang curian dari sekelompok orang Arab, semua harta rampasan perang itu secara otomatis harus masuk kepada wakilnya, sang utusan. Karena tidak ada seorangpun yang bisa melihat atau mendengar auwloh, semua kepatuhan adalah kepada Muhammad. Dialah yang harus ditakuti karena hanya dia satu-satunya perantara dari Tuhan yang paling ditakuti ini yang mana telah dia peringatkan hal ini pada orang-orangnya. Sosok auwloh sangat penting bagi Muhammad utk mendominasi. Tanpa percaya pada Allah, maukah para pengikutnya yg dungu mengorbankan nyawa mereka, membunuh orang, termasuk keluarga mereka sendiri, menjarah orang, dan memberikan semuanya pada dia? Auwloh khayalannya ini adalah alat dominasi bagi Muhammad. Auwloh adalah pribadi lain dari Muhammad sendiri, sebuah alat yang enak. Ironisnya Muhammad berkhotbah tentang larangan mempersekutukan auwloh, ketika, dalam kenyataannya, dia bersekutu dengan auwloh dalam cara yang membuat mereka secara logika dan praktek tidak bisa dipisahkan. Orang narsisis perlu sebuah alasan utk mengekang pengikut-pengikut mereka. Orang jerman tidak berperang bagi Hitler. Mereka melakukannya karena alasan yang Hitler jejalkan pada mereka.

Dr. Sam Vaknin menulis: “Orang narsisis memakai apa saja yang bisa mereka ambil dalam usaha mendapatkan suplai narsisistik mereka. Jika Tuhan, kepercayaan, gereja, iman, dan agama yang resmi dapat memberi mereka suplai narsisis ini, mereka akan menjadi taat. Mereka akan meninggalkan agama jika hal itu tidak memberi mereka suplai ini.” [9]

Islam adalah sebuah alat utk mendominasi. Setelah Muhammad, orang-orang lain memakai cult (aliran kepercayaan sesat)-nya utk tujuan yang persis sama. Para muslim menjadi boneka ditangan para pemimpin mereka yang menyebut-nyebut islam.

Mirza Malkam Khan, (1831-1908) seorang Armenia yang masuk islam dan bersama dengan Jamaleddin Afghani meluncurkan ide sebuah “Islamic Renaissance” (An-Nahda/Kebangunan kembali ilsam), punya sebuah slogan sinis yang tak ada tandingannya: “Katakan pada para muslim apa saja yang berasal dari Quran, dan mereka akan bersedia mati bagimu.”

ORANG NARSISIS INGIN MENINGGALKAN WARISAN
Menjelang matinya, Muhammad meminta para pengikutnya agar jangan diam saja, dan memaksa mereka terus mendesak dan meneruskan jihad utk menaklukan. Genghis Khan memberikan perintah yang sama pada anaknya ketika menjelang kematian. Dia bilang dia ingin menaklukan dunia, tapi karena dia tidak bisa melakukannya lagi, merekalah yang harus memenuhi mimpinya. Orang mongol saat itu, seperti para muslim, adalah para penteror. Bagi orang narsisis, yang penting adalah menang. Mereka tidak punya hati nurani. Bagi mereka, nyawa manusia itu murah. Ditahun 1940, Hitler diumur 51 th, menyadari adanya tremor (tumor?) ditangan kirinya. Dia biasa menyembunyikannya dengan memasukan tangan kiri kesaku bajunya, dengan memegang benda, atau dengan mengepalkan tangan kiri ketangan kanannya. Ketika penyakit itu bertambah parah, dia menjauh dari khalayak ramai. Dia sadar kematiannya sudah dekat. Dia menjadi makin tegas, melancarkan serangan-serangannya dengan pengertian baru yang seakan diburu waktu, tahu bahwa dia berpacu dengan waktu. Orang narsisis selalu ingin meninggalkan warisan.

Salah sekali jika berpikir islam sebagai sebuah agama. Aspek spiritual atau religius dari Islam diciptakan belakangan oleh para filsuf muslim dan para mistikus yang memberi tafsir esoterik pada perkataan-perkataan yg dangkal dari Muhammad. Para pengikutnya membentuk agama sesuai dengan keinginan mereka, dan seiring berlalunya waktu, tafsir-tafsir itu mewarisi segel antik dan dg demikian juga kredibilitas.

Jika islam adalah sebuah agama, maka begitu juga dengan nazisme, komunisme, satanisme, Heaven’s Gate, People’s Temple, Branch Davidian, dll. Jika kita memikirkan agama sebagai sebuah filosofi kehidupan utk mengajarkan, utk mengeluarkan potensi manusia, utk mengangkat jiwa, utk merangsang secara spiritual, utk menyatukan hati dan mencerahkan umat manusia, maka islam pastinya gagal uji tsb sepenuhnya, dan dengan demikian Islam adalah, memakai ukuran ini, tidak seharusnya, tidak bisa dikategorikan sebagai sebuah agama.

Orang Narsisis ingin jadi Tuhan
Bagi orang narsisis, yang paling penting adalah kekuasaan. Dia ingin dihormati, dikenal, dan tidak diabaikan. Orang narsisis adalah orang yang kesepian, tidak merasa aman dan merasa malu. Hasrat terbesar mereka adalah utk memuaskan kebutuhan mereka akan rasa hormat dan perhatian yang mereka terima sebagai penyampai dari pesan-pesan yang mulia. Pesannya itu sendiri tidaklah penting. Pesan itu hanya alasan (atau alat mencapai tujuan) saja. Orang narsisis menciptakan sosok tuhan khayalan dan pesan-pesan palsu yang menempatkan diri mereka sendiri sebagai wakil resmi dari pesan-pesan tsb. Semakin mereka mengagungkan tuhan palsu mereka, semakin besar kekuasaan yang mereka dapatkan bagi mereka. Allah bagi Muhammad adalah sebuah “alat” utk memanipulasi orang lain. Melalui auwloh, dia bisa mendapat wewenang tak terbatas terhadap para pengikutnya. Dia menjadi tuan atas nyawa mereka. Hanya ada satu tuhan, maha kuasa, ditakuti, juga murah hati dan pengampun, dan dia, Muhammad, adalah satu-satunya yang menjadi penghubung antara Dia dan manusia. Ini membuat Muhammad menjadi wakil Allah. Meski kepatuhan seharusnya untuk Allah turun kepada dia, dalam kenyataannya, selalu Muhammad dan setiap tingkahnyalah yang berharap utk dipuaskan oleh para pengikutnya. Dr. Vaknin menjelaskan: Menjadi Tuhan adalah yang paling diinginkan oleh seorang Narsisis: maha kuasa, maha tahu, ada dimana-mana, dipuja, dibicarakan, dan membangkitkan rasa hormat. Menjadi Tuhan adalah mimpi basahnya orang narsisis, khayalan terhebatnya. Tapi Tuhan berguna dalam banyak hal juga.

Narsisis berubah-ubah, mengidealkan dan meremehkan figur otoritas.

Dalam fase idealisasi, dia berusaha menyamai mereka, dia mengagumi mereka, meniru mereka (sering secara menggelikan), dan membela mereka. Mereka tidak bisa salah atau boleh salah. Orang narsisis menganggap mereka lebih besar dari hidup itu sendiri, sempurna, lengkap dan brilian. Tapi ketika harapan-harapan sang narsisis yang tidak realistis dan kempes menghadapi kegagalan, dia mulai meremehkan bekas idolanya itu.

Sekarang mereka menjadi “manusia” biasa (bagi sang narsisis menjadi manusia biasa adalah suatu hal yang hina). Mereka makhluk kecil, rapuh, mudah salah, penakut, kejam, bodoh dan biasa-biasa saja. Sang narsisis menjalani siklus yang sama dalam hubungannya dengan Tuhan, figur otoritas tauladannya.

Tapi sering, bahkan ketika kekecewaan dan keputus asaan tentang penyembahan muncul, – sang narsisis terus berpura-pura cinta pada Tuhan dan masih mentaatiNya. Sang narsisis mempertahankan penipuan ini karena posisinya sebagai wakil tuhan membuat dia punya wewenang. Para pendeta, pemimpin jemaah, pengkhotbah, penginjil, aliran pemuja, politisi, kaum intelektual, semua memperoleh wewenang dari yang katanya ‘hubungan khusus mereka dengan Tuhan’.

Otoritas religius membuat sang narsisis (laki-laki) menuruti keinginan sadisnya dan utk menjalankan misogyny (kebenciannya terhadap perempuan) secara terbuka dan bebas… Sang Narsisis, yang sumber kewenangannya adalah religius, mencari para budak yang patuh dan tidak banyak tanya yg mana kemudian dia jalankan keahlian tipu-muslihat dan keinginannya itu pada mereka. Sang narsisis bahkan bisa mengubah sentimen religius murni dan tidak berbahaya menjadi sebuah ritual pemujaan dan hirarki yang berbahaya. Dia memangsa orang-orang yang mudah dibujuk. Para pengikutnya sekaligus jadi sanderanya.

Otoritas religius juga mengamankan ‘Suplai narsisistik’ sang narsisis. Para pengikutnya, anggota jemaahnya, para pendengarnya – semua diubah menjadi Sumber Suplai Narsisistik yang setia dan stabil. Mereka mematuhi segala perintahnya, memperhatikan tegurannya, mengikuti syahadatnya, mengagumi pribadinya, memuji-muji sifatnya, memuaskan kebutuhannya (kadang bahkan kebutuhan seksualnya), memuja dan mengidolakannya.

Selain itu, menjadi bagian dari “Hal yang Lebih Besar” sangat memberi kepuasan secara narsisistikal. Menjadi partikel tuhan, menjadi satu dengan keagungannnya, mengalami sendiri kekuasaan dan berkatnya langsung, hidup bersama dia – semuanya adalah Sumber Suplai Narsisistik yang tak ada habisnya. Sang narsisis menjadi Tuhan dengan memperhatikan perintah-perintahNya, mengikuti semua InstruksiNya, mencintaiNya, mematuhiNya, mengalah padaNya, menyatu denganNya, berkomunikasi padaNya – atau bahkaan dengan menantangNya (semakin besar musuh sang narsisis – semakin merasa lebih pentinglah sang narsisis).

Seperti juga hal lain dalam kehidupan sang narsisis, dia mengubah tuhan menjadi semacam kebalikan dari si narsisis. Tuhan menjadi sumber suplainya yang dominan. Dia bentuk hubungan pribadi dengan entitas lebih kuasa dan lebih melimpah ini – utk melimpahi dan menguasai yang lain. Dia menjadi tuhan itu sendiri, dengan menjadi wakilNya. Dia mengidealkan tuhan lalu meremehkan Dia, kemudian menganiayaNya. Ini adalah sebuah pola narsisistik yg klasik dan bahkan tuhan sendiri tidak akan bisa lolos dari hal ini. [10]

Orang narsisis tidak secara langsung mempromosikan diri mereka sendiri. Mereka bersembunyi dibelakang lapisan kesederhanaan, sementara mereka mengangkat tuhan mereka, ideologi, pesan atau agama, yang dalam kenyataannya adalah alter ego dia sendiri. Mereka mungkin menyebut mereka sendiri sebagai ‘cuma utusan’, sederhana, rendah hati, tanpa penonjolan diri, dari tuhan yang maha kuasa, atau pesan yang sangat berpengaruh, tapi mereka bikin sangat jelas bahwa mereka sajalah yang tahu pesan-pesanNya dan sangat tidak toleran dan tanpa maaf bagi orang yang ingkar dan melawan.

Orang narsisis sangat kejam, tapi tidak bodoh. Mereka sangat sadar akan rasa sakit yang mereka sebabkan. Mereka menikmasi sensasi kuasa yang mereka dapatkan dengan menyakiti orang lain. Mereka menikmati jadi tuhan – menentukan siapa yang diberi hadiah dan siapa yang dihukum – siapa yang hidup siapa yang mati. Narsisisme Patologis menjelaskan segala hal yang ada dalam diri Muhammad – kekejamannya, pengakuan maha hebatnya, kelakuan murah hatinya yang dilakukan utk membuat terkesan mereka yang takluk padanya dan dengan demikian membangun superioritas dia, keyakinan dirinya, juga pribadi karismatik dan keranjingannya.


Apa Penyebab Narsisisme?
Pertanda dari seorang narsisis adalah berkembangnya penyakit superioritas sebagai respon akan perasaan rendah diri. Hal ini melibatkan pembesar-besaran prestasi seseorang dan merendahkan orang lain yang dianggap ancaman bagi sang narsisis. Kesalahan asuh orang tua menjadi penyebab terbesar adanya penyakit narsisistik ini dalam seorang anak. Contohnya, orang tua yang serba membolehkan yang memberi pujian berlebih-lebihan pada sang anak, terlalu menurutkan dan memanjakan sang anak, gagal menerapkan disiplin, dan mengidealisasi si anak menjadi faktor-faktornya. Hasilnya, sang narsisis secara umum merasa tidak siap utk masa dewasa, setelah dibesarkan dalam pandangan hidup yang tidak realistik. Sebaliknya, seorang anak yang tidak menerima dukungan dan dorongan yang cukup bisa juga mengidap penyakit narsisistik.

Kita tahu bahwa Muhammad ketika bayi diberikan dan dibesarkan oleh orang lain. Apakah ibunya tidak sayang padanya? Kenapa dia tidak pernah berdoa dikubur ibunya sampai dia sudah berumur 60 tahun lebih? Apakah dia masih benci (dendam) pada ibunya?

Halima tidak mau mengurus bayi Muhammad karena dia adalah anak yatim dari seorang janda miskin dan penghasilan dia kecil. Apa ini mempengaruhi cara dia atau keluarga memperlakukan Muhammad? Anak-anak bisa sangat kejam. Menjadi anak yatim dijaman itu adalah sebuah aib, seperti juga sekarang masih menjadi aib dinegara-negara islam. Kondisi masa kecil Muhammad tidak kondusif utk membentuk rasa menghargai diri sendiri yang sehat.

Jon Mardi Horowitz, penulis dari Stress Response Syndromes,menjelaskan: “Ketika kepuasan narsisistik yg jadi kebiasaan karena seringnya dipuji, diberikan perlakuan khusus dan mengagumi diri sendiri terancam, hasilnya mungkin adalah depresi, sedih tanpa alasan, gelisah, malu, merusak diri sendiri atau kemarahan yang diarahkan pada orang yang bisa jadi sasaran kesalahan atas situasi tsb. Anak-anak bisa belajar utk menghindari kondisi emosi menyakitkan ini dengan belajar memproses informasi narsisistik ini.” [11]

Muhammad, tentunya, punya masa kecil yang sulit. Dalam surat 93 atau 3-8, (dikutip pada awal bab satu buku ini) dia dengan halus mengingat masa yatimnya yang penuh kesepian dan meyakinkan dirinya bahwa Allah akan baik padanya dan tidak akan meninggalkan dia. Ini menunjukkan betapa ingatan akan masa kecil itu menyakitkannya. Fakta bahwa Muhammad menciptakan dunia khayalan utk lepas dari kenyataan, begitu hidup khayalan itu hingga menakuti orang tua angkatnya, adalah petunjuk lain bahwa masa kecilnya tidaklah menyenangkan sama sekali. Muhammad mungkin tidak ingat rincian apa yang terjadi pada tahun pertama kehidupannya, tapi jelas dia mendapat luka psikologis sepanjang hidupnya. Bagi dia, dunia khayalan yang dia ciptakan itu nyata. Menjadi pengungsian yang aman baginya, sebuah tempat menyenangkan utk mengundurkan diri dan lepas dari kenyataan. Dalam dunia khayalannya, dia bisa dicintai, dihormati, dikagumi, dibutuhkan, berkuasa, dan bahkan ditakuti. Dia bisa menjadi apapun yang dia inginkan dan mengimbangi kekurang-perhatian yang dia dapatkan dari dunia diluarnya.

Menurut Vaknin, “penyebab yang sebenarnya dari Narsisisme tidak sepenuhnya dimengerti tapi jelas dimulai dari awal masa kecil (sebelum umur 5 tahun). Hal itu dipercaya disebabkan oleh kegagalan yang berulang-ulang dan serius pada pihak Objek Primer sang anak (orang tua atau pengasuh). Orang Narsisis dewasa sering berasal dari rumah tangga dimana salah seorang atau kedua orang tuanya mengabaikan dia atau menganiaya sang anak… SEMUA anak (sehat atau tidak) ketika mereka tidak diijinkan utk melakukan sesuatu oleh orang tuanya kadang akan memasuki kondisi narsisistik dimana mereka melihat diri mereka sendiri dan bertindak seakan mereka begitu berkuasa/sangat kuat. Ini alamiah dan sehat karena hal ini membuat kepercayaan diri pada sang anak utk berkaca dari penolakan orang tua.”[12]

Anak-anak yang diabaikan menyerap sebuah perasaan kekurangan. Mereka jadi percaya bahwa mereka itu tidak pantas diperhatikan dan dicintai. Sebagai reaksi terhadap hal itu, mereka cenderung membela ego mereka dengan membanggakan diri secara berlebihan. Mereka melihat kelemahan diri mereka dan merasa bahwa jika orang lain melihat hal itu, mereka tidak akan dicintai, dikagumi dan dihormati. Jadi mereka berbohong dan menciptakan kisah-kisah fantastik, menyombongkan diri mereka sendiri, betapa penting diri mereka. Kekuatan khayal mereka sering berasal dari sumber diluar diri mereka. Bisa ayah mereka atau teman yang kuat. Narsisisme jenis ini yg ada pada anak-anak adalah normal, tapi jika mereka mempertahankan pemikiran ini hingga mereka dewasa, hal itu akan berkembang menjadi penyakit narsisistic personality. Pada Muhammad, sumber kekuatan luarnya tidak lain adalah Allah, yang paling kuat, paling ditakuti dan maha kuasa. Dengan menghubungkan dirinya dengan Allah dan menyajikan dirinya sebagai perantara tunggal, dia mendapatkan kuasa Allah itu sendiri.

Setelah kematian ibunya, ketika Muhammad berumur enam tahun, dia ada dibawah didikan dari kakeknya yang sudah tua, yang memanjakan dia. Dalam beberapa hadits ditunjukkan, Abdul Muttalib terlalu penurut dan selalu membolehkan cucu yatimnya itu. Muhammad kecil akan duduk pada tikar sebelah sang kakek sementara paman-pamannya mengelilingi mereka.

Pengakuannya bahwa Abdul Muttalib bilang pada pamannya Abu Talib, “Biarkan dia karena dia punya nasib yang besar, dan akan menjadi pewaris sebuah kerajaan,” atau bilang pada perawatnya, “Berhati-hatilah jangan sampai dia jatuh ketangan orang yahudi atau kristen, karena mereka mencari-cari dia dan bermaksud melukainya!”, jelas-jelas hanya isapan jempolnya belaka. Itu semua adalah kebohongan yang dia karang dan mungkin juga jadi dipercayainya. Ini adalah ciri khas khayalan seorang narsisis, yang berpikir bahwa diri mereka begitu pentingnya hingga mereka percaya orang lain memburu utk melukainya karena cemburu (iri). Meskipun demikian, jelas bahwa Abdul Muttalib membuat Muhammad merasa spesial. Dia manjakan cucu yatimnya itu. Sang kakek memanjakannya karena kasihan. Tapi, Muhammad menafsirkan perhatian ekstra ini sebagai konfirmasi dari angan-angan maha hebatnya. Bayangan yang dia ciptakan mengenai dirinya sendiri dalam sebuah dunia fantasi dimasa kecil dengan demikian diperparah oleh pemanjaan berlebihan dari kakeknya. Dia seakan lebih dipastikan lagi sebagai orang spesial, unik dan luar biasa.

Setelah kematian Abdul Muttalib, pamannya yang baik hati yakni Abu Talib, juga memperlakukannya berbeda dari yang lain. Statusnya sebagai yatim, tanpa orang tua atau saudara, mengundang rasa simpati. Baik kakek maupun pamannya terlalu memanjakan dan menurut pada dia. Mereka gagal menerapkan disiplin yang cukup padanya. Semua keluar biasaan ini menyumbang pada perkembangan pribadi narsisistiknya. Pakar psikologi J. D. Levine dan Rona H. Weiss menulis:

Seperti kita ketahui, dari sudut pandang fisiologi, bahwa seorang anak perlu diberi makanan secukupnya, yang dia perlukan utk melindungi dari temperatur yg ekstreme, dan bahwa atmosfir yang dia hirup harus berisi oksigen yang cukup, jika tubuhnya mau menjadi kuat dan ulet, jadi kita juga tahu, dari sudut pandang psikologi yang lebih dalam, bahwa dia memerlukan suasana yang empatik, khususnya, sebuah suasana yg menjawab (a) kebutuhan agar keberadaannya diakui dalam semangat kesenangan orang tuanya dan (b) kebutuhan utk bersatu kedalam ketenangan yang meyakinkan dari orang dewasa yg lebih kuat, jika dirinya mau menjadi teguh dan ulet.[13]

Muhammad mendapat pengalaman diabaikan dan disia-siakan pada enam tahun pertama kehidupannya, dan pemanjaan yang berlebihan setelah itu. Keadaan ini dg demikian membuatnya matang dan kondusif utk menjadi seorang narsisis tulen.

Muhammad tidak pernah membicarakan ibunya. Jika dia pernah membicarakannya, pastilah ada tercatat dalam hadits. Dia kunjungi makam ibunya setelah menaklukan Mekah, tapi dia menolak utk berdoa baginya. Apa tujuan dari kunjungannya itu? Mungkin ini adalah usaha utk memulihkan nama baiknya, sebuah cara utk membuktikan pada ibunya bahwa meski dia disia-siakan, dia telah berhasil. Dilain pihak dia ingat kakeknya, yang menghujaninya dengan cinta dan memberinya kelimpahan pujian bagi jiwa narsisisnya, dengan penuh sayang.

Para psikolog mengatakan bahwa pada lima tahun pertama kehidupan seorang anak yang membentuknya atau merusaknya. Kebutuhan emosional Muhammad dimasa lima tahun pertama kehidupannya tidak dipenuhi. Dia membawa kenangan menyakitkan akan tahun-tahun kesepian karena diabaikan dan disia-siakan kedalam masa dewasa dan masa tua. Dia tumbuh dengan kegelisahan dan punya rasa pengertian terhadap dirinya sendiri yang berfluktuasi, sebuah kelemahan yang dia coba sembunyikan dengan melebih-lebihkan kesombongan lewat pertumbuhan rasa punya hak, keagungan, kekurangan empati dan ilusi superioritas.

Muhammad memilih tuhan sebagai pasangannya. Sekutu khayalannya ini maha kuasa dan maha kuat. Ini membuat dirinya kuat tanpa batas. Dia satu-satunya yg punya akses langsung ke Allah dan dialah satu-satunya penguasa dibumi. Agar yakin tak seorangpun merampas posisinya, dia juga mengklaim sebagai nabi terakhir. Kekuasaannya, dg demikian, menjadi mutlak dan kekal.

Pengaruh Khadijah terhadap Muhammad
Peran Khadijah dalam islam belum sepenuhnya dihargai. Pengaruhnya pada Muhammad tidak dapat ditekankan secara berlebihan. Khadijah harusnya dianggap sebagai partnernya Muhammad dalam kelahiran Islam. Tanpa dia, mungkin, Islam tidak akan pernah ada. Kita tahu bahwa Khadijah memuja suami mudanya. Tidak ada laporan bahwa Muhammad pernah bekerja setelah menikahi Khadijah. Setelah pernikahan, bisnis Khadijah kelihatannya menurun tajam. Ketika dia meninggal, keluarganya menjadi melarat.

Muhammad tidak mengurus anak-anaknya juga. Ditolak oleh dunia nyata, dia habiskan waktunya sendiri dalam gua-gua, mengundurkan diri kedunia khayalan dan renungan. Kadang dia membawa makanan utk berhari-hari, kembali hanya ketika makanan sudah habis. Lalu dia akan menuju kekota, mengambil bekal lagi dan kembali.

Khadijah tinggal dirumah mengurus kesepuluh anaknya sendirian. Tapi dia tidak mengeluh. Dia tidak saja mengurus anak-anaknya dan rumah tapi juga suami mudanya, yang bertingkah laku seperti anak kecil yang tidak bertanggung jawab. Tapi Khadijah senang berkorban. Kenapa?

Ini adalah pertanyaan yang penting. Jawabannya adalah bahwa Khadijah sendiri punya kelainan pribadi. Dia punya penyakit yang pd jaman kita sekarang disebut co-dependent (ketergantungan). Pengetahuan ini akan menolong kita utk mengerti kenapa dia berdiri disamping suaminya dan mendorong dia melanjutkan karir kenabiannya.

The National Mental Health Association (NMHA) mendefinisikan co-dependency sebagai: “Kelakuan yang dipelajari yang bisa diturunkan dari satu generasi ke generasi lain. Hal ini adalah sebuah kondisi perangai dan emosi yang mempengaruhi kemampuan seorang individu utk mendapat hubungan yang memuaskan kedua belah pihak dan sehat. Juga dikenal sebagai “relationship addiction” (ketagihan hubungan) karena orang dengan co-dependency sering membentuk atau mempertahankan hubungan yang satu pihak saja, yang secara emosional merusak dan/atau menghina. Penyakit ini pertama diidentifikasi sekitar 10 tahun lalu dari hasil bertahun-tahun mempelajari hubungan-hubungan antar manusia dalam keluarga alkoholik. Kelakuan Co-dependent dipelajari dengan mengamati dan meniru anggota keluarga lain yang menunjukkan kelakuan tipe ini.”[14]

Khadijah adalah seorang wanita yang menarik. Dia anak perempuan favorit dari ayahnya Khuwaylid. Malah Khuwaylid bergantung padanya, melebihi ketergantungan terhadap anak laki-lakinya. Khadijah adalah “anak papa”. Dia telah menolak tawaran orang-orang kuat di Mekah. Tapi ketika dia melihat anak muda ini yang tak dimiliki siapapun, Muhammad yang butuh uang, dia jatuh cinta padanya dan mengirim pembantu utk memintanya melamar dia.

Pada permukaan kelihatannya bahwa Muhammad punya pribadi yang memikat yang membuat wanita berkuasa terpukau. Ini, betapapun, adalah sebuah pengertian yang dangkal mengenai dinamika kompleks.

Tabari menulis: “Khadijah mengirim pesan pada Muhammad, mengundangnya utk mengambil dia. Dia memanggil ayah utk datang kerumahnya, memberinya arak hingga mabuk, memberi parfum, memakaikan pakaian pesta padanya dan lalu memotong seekor sapi. Lalu dia undang Muhammad dan pamannya. Ketika mereka datang, ayahnya menikahkan Muhammad dengannya. Ketika dia sadar dari mabuknya, dia berkata “daging apa ini, parfum ini dan pakaian ini?” Dia menjawab, “kau telah menikahkanku pada Muhammad bin Abdullah”. “Aku tidak melakukan itu,” katanya. “Akankah kulakukan ini ketika orang-orang terhebat di Mekah memintamu namun aku tidak setuju, lalu kenapa aku berikan kau pada seorang gelandangan (muhammad)?”[15]

Pihak Muhammad menjawab dengan marah bahwa persekutuan ini telah diatur oleh anak perempuannya sendiri. Orang tua itu marah dan menarik pedang dan kerabat Muhammad juga menarik pedang mereka. Darah akan mengalir jika saja Khadijah tidak menyatakan cintanya pada Muhammad agar diketahui banyak orang dan mengaku telah mengatur semua ini. Khuwaylid lalu menenangkan diri, sampai akhirnya dia menyerah telah di fait accompli dan rekonsiliasipun terpaksa terjadi.

Khadijah adalah seorang wanita berhasil yang pesolek. Dia telah menolak lamaran dari banyak orang Quraish yg terkenal. Bagaimana orang menjelaskan seorang wanita yang kelihatan sukses dan berpikiran sehat mendadak jatuh cinta pada anak muda miskin yang 15 tahun lebih muda? Kelakuan aneh ini mengungkapkan adanya kelainan pribadi dalam diri Khadijah.

Bukti-bukti menandakan bahwa ayahnya Khadijah adalah seorang pemabuk. Khadijah mestinya tahu kelemahan ayahnya ini hingga dia merancang rencana yang begitu berani. Orang-orang yang ketagihan alkohol cenderung lepas kontrol dan mabuk. Ketika Khuwaylid mabuk, pestanya belum lagi mulai dan para tamu belum lagi datang. Hal ini memberitahukan kita bahwa dia bukanlah peminum musiman saja tapi benar-benar peminum (alcoholic) berat. Sekarang, kenapa hal ini jadi masalah? Karena ini adalah petunjuk lain utk mendukung hipotesa bahwa Khadijah seorang yang mempunyai kecenderungan co-dependent. Anak seorang alkoholik sering mengembangkan co-dependency.

Ayah Khadijah terlalu melindungi anak perempuannya dan punya harapan-harapan yang tinggi baginya. Dari reaksinya akan pernikahan anaknya yang berumur 40 tahun pada seorang yang biasa-biasa saja dan dari perkataannya “orang-orang terhebat di Mekah memintamu dan aku tidak setuju,” jelas bahwa Khadijah adalah mutiara dimatanya. Khuwaylid punya anak-anak yang lain juga, termasuk beberapa anak lelaki, tapi terlihat jelas bahwa anak perempuannya inilah yang menjadi kebanggaan dan kebahagiaannya. Anak ini satu-satunya yang berhasil.

Anak-anak yang dipuji dan ditempatkan ditempat tinggi oleh orang tua yang memujinya tumbuh dalam bayang-bayang mereka. Mereka sering mengembangkan ‘codependency personality disorder’. Mereka menjadi terobsesi oleh ayah mereka (atau ibu mereka) dan melihat fungsi mereka utk membuat orang tua mereka terlihat hebat dimata orang lain. Mereka diharapkan jadi semacam ‘wunderkind’ (orang sukses).

Dibawah tuntutan yang terus menerus meminta kemampuan lebih baik, sang anak menjadi tidak mampu mengembangkan pribadi mandirinya. Dia mencari pemenuhan utk memuaskan kebutuhannya dari orang tua narsisis dan perfeksionis. Dia tidak merasa dicintai APA ADANYA, tapi dicintai karena dilihat BAGAIMANA prestasinya. Orang tua yang alkoholik mengeluarkan semua muatan emosinya pada sang anak, khususnya yang punya potensi. Dia mengharap anak itu utk cemerlang dalam segala hal dan menggantikan kekurangan dan kegagalan dia sendiri.

Co-dependent tidak dapat menemukan kepuasan dan kebahagiaan dari hubungan emosional yang normal dan sehat yang biasa terjadi diantara orang-orang sederajat. Hanya dalam kapasitas pemberi kesenangan dan menjadi penyenanglah orang codependent menemukan kebahagiaan mereka. Pasangan yang “cocok dan tepat” bagi orang co-dependent adalah seorang Narsisis yang sangat butuh pemuasan.

Khadijah menolak para pelamarnya yang lebih dewasa dan sukses, jatuh cinta pada anak muda miskin yang sangat butuh baik uang maupun emosional. Codependent keliru mengartikan rasa cinta dan rasa kasihan. Mereka punya kecenderungan utk ‘mencintai’ orang yang seharusnya mereka kasihani dan bisa mereka selamatkan.

Vaknin memakai istilah “self effacing” (tidak menonjolkan diri sendiri) atau “inverted narcissism” (narsisisme terbalik), untuk istilah co-dependency. Inilah apa yang dia katakan tentang hubungan codependent-narsisis: “Orang narsisis invert dikondisikan dan diprogram dari awal utk menjadi teman sempurna bagi sang narsisis – utk memberi makan Ego mereka, utk secara murni menjadi kepanjangan tangan mereka, utk mencari pujian dan pengelu-eluan dan jika hal itu menghasilkan pujian dan pemujaan yang lebih besar kepada sang narsisist.”[16]

Hal diatas menjelaskan kenapa seorang wanita sukses dan cantik seperti Khadijah tertarik pada seorang narsisis dan butuh uang seperti Muhammad. Meski orang ‘narsisis invert’ cenderung sukses dalam bisnisnya, hubungan mereka sering tidak sehat. Vaknin lebih lanjut menjelaskan: “dalam sebuah hubungan, narsisis invert berusaha utk menciptakan kembali hubungan orangtua-anak. Sang narsisis invert berkembang dengan meniru/bercermin pada ‘kehebatan khayal’ sang narsisis dan ketika melakukannya sang narsisis invert itu sendiri mendapatkan suplai bagi ego narsisistiknya SENDIRI (ketergantungan sang narsisis pada sang invert akan suplai narsisistik sekundernya). Sang invert mesti punya bentuk hubungan sedemikian dengan sang narsisis demi merasa lengkap dan terpenuhi. Sang invert akan sudi bertindak sejauh yang dibutuhkan utk meyakinkan bahwa sang narsisis itu merasa bahagia, merasa disayangi, merasa dipuja dengan cukup, karena dia pikir hal itu sudah menjadi hak sang narsisis. Sang invert memuliakan sang narsisis, menempatkannya ditempat tinggi, memikul semua pengorbanan bagi sang narsisis dengan ketenangan hati dan tahan penghinaan sang narsisis.”[17]

Perkawinan Muhammad dan Khadijah kelihatannya cocok sekali. Muhammad adalah seorang narsisis yang haus utk dipuji terus menerus, diperhatikan dan dikagumi. Dia seorang miskin, yatim dan secara emosional membutuhkan banyak hal. Dia seorang dewasa tapi jiwanya masih seperti anak-anak yang butuh perhatian. Dia membutuhkan seseorang yang merawatnya dan menafkahinya, seseorang utk diperalat dan dimanfaatkan, seperti bagaimana anak kecil memperalat dan memanfaatkan ibunya.

Kedewasaan emosional seorang narsisis berhenti pada masa anak-anak. Kebutuhan masa kanak-kanaknya tidak pernah terpuaskan. Dia terus menerus mencoba memuaskan kebutuhan masa kanak-kanaknya tsb. Semua bayi adalah narsisis dan itu diperlukan bagi tahap pertumbuhan mereka. Tapi jika kebutuhan narsisis mereka tidak dipuaskan ketika masa anak-anak, kedewasaan emosi mereka akan berhenti pada tahap ini. Mereka mencari perhatian yang mereka tidak dapatkan ketika kecil dalam hubungan dengan pasangan dan dengan yang lainnya, termasuk dengan anak-anak mereka.

Hasrat Muhammad akan cinta diungkapkan olehnya dalam banyak kejadian. Ibn Sa’d mengutip perkataanya bahwa keluarga-keluarga Quraish semuanya punya hubungan padaku dan meski jika mereka tidak mencintaiku karena pesan yang aku bawa pada mereka, mereka seharusnya mencintaiku karena kekerabatanku dengan mereka.[18] Dalam Quran Muhammad berkata: “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali cinta dari keluarga terdekat.”[19] Perkataan ini jelas merupakan jeritan putus asa dari seseorang yang butuh cinta dan perhatian.

Khadijah, dilain pihak, adalah seorang narsisis invert yang memerlukan objek utk diperhatikan, seseorang utk membuat khayalannya sendiri sebagai seorang pemberi kesenangan. Orang co-dependent bukan saja rela diperalat, malah dia menikmati hal itu.

Vaknin menulis: “Narsisis invert hidup dan menggantungkan diri pada narsisis utama dan inilah suplai narsisistiknya. Jadi dua buah tipe narsisis ini dapat, pada pokoknya, menjadi saling mendukung, sistem yang simbiosis. Namun dalam kenyataannya, baik sang narsisis maupun sang invert perlu sadar akan dinamika hubungan mereka jika ingin hubungan mereka sukses dan awet.”[20]

Pakar psikologi Dr. Florence W. Kaslow, menjelaskan tentang pola simbiosis ini dengan mengatakan bahwa kedua pihak masing-masing punya kelainan kepribadian (Personality Disorder/PD) – tapi keduanya berada pada kedua ujung berlawanan dari spektrum ini hingga bisa saling mengisi. “Mereka nampak memiliki ‘ketertarikan maut’ (fatal attraction) satu sama lain dimana pola kepribadian mereka saling bertentangan tapi saling mengisi – itu sebabnya, jika mereka sampai bercerai, mereka akan tertarik pada pasangan yang mirip mantan pasangan mereka.”[21]


Hubungan simbiosis antara Sang Narsisis Utama, Muhammad, dan Sang Narsisis Invert, Khadijah memang bekerja sempurna. Muhammad tidak lagi harus bekerja setelah menikahi Khadijah yang kaya raya. Dia habiskan waktunya menggelandang digua-gua dan tempat sepi sambil menikmati fantasinya yg subur, dunia yang menyenangkan dan baik padanya, dimana dia menjadi seorang yang paling disayang, paling dipuja, paling dihormati dan paling ditakuti. Khadijah jadi begitu sibuk dengan si suami yang narsisis ini dan memenuhi semua kebutuhan-kebutuhannya hingga dia mengabaikan urusan dagangnya. Bisnisnya kemudian jadi menurun dan kekayaannya menyusut drastis. Dia mestinya sudah berusia sekitar 50 tahunan ketika melahirkan anaknya yg paling muda. Ia tinggal dirumah sementara sang suami kebanyakan tidak pernah dirumah, menyendiri digua-guanya, baik gua sebenarnya maupun gua mentalnya. Menurut Vaknin, “Sang invert ini (Khadijah) mematikan keberadaan dirinya, penuh pengorbanan, bahkan berpura-pura manis dalam hubungan-hubungan dengan orang lain dan akan menghindari bantuan dari orang lain itu dengan segala cara. Dia hanya bisa berinteraksi dengan orang lain jika dia bisa dilihat sebagai orang yang memberi, mendukurng dan menghabiskan usaha-usaha yang tak biasa utk membantu.”[22]

Dia juga menjelaskan co-dependent sebagai “orang yang menggantungkan diri pada orang lain utk memberi kepuasan emosional dan hasil dari Ego atau fungsi sehari-hari lainnya.” Dia mengatakan “mereka butuh dukungan emosional, penuh tuntutan dan patuh. Mereka takut diacuhkan, sangat bergantung dan menunjukkan kelakuan tidak dewasa dalam usaha-usahanya utk mempertahankan “hubungan” dengan pasangan yang dia jadikan tempat bergantung tsb.”[23]

Melody Beattie, penulis “Codependent No More” (Tidak Lagi Codependent) menjelaskah bahwa orang codependent secara tak sadar memilih pasangan yang bermasalah dg maksud agar punya tujuan, merasa diperlukan dan merasa dipuaskan. Ingin selalu menjadi “hero” bagi orang lain yang bermasalah. Ingin selalu merasa dibutuhkan oleh orang lain.

Orang waras manapun akan mengartikan pengalaman aneh Muhammad sebagai sakit jiwa atau “kerasukan setan,” seperti yang biasa dikatakan pada jaman itu. Bahkan Muhammad sendiri pikir dia telah menjadi seorang Kahin (penyihir) atau kerasukan setan. Seperti yang kita baca dalam Qur’an, orang-orang yang memakai akal di Mekah pikir Muhammad telah jadi majnoon, yang arti harafiahnya adalah kerasukan jin dan diartikan sebagai gila. Tapi pikiran demikian tidak kuat ditanggung Khadijah yang mengejar pemuasan dan kebahagiaan dengan cara memuaskan kebutuhan-kebutuhan sang suami. Dia harus bergantung pada sang Narsisis miliknya, apapun akibatnya. Sebagai seorang Codependent (Narsisis Inverted), Khadijah merasa harus maju menolong, memberi saran dan menyelamatkan sumber utama suplai narsisistiknya.

Sang narsisis sering menuntut pengorbanan dari orang-orang disekelilingnya dan mengharapkan mereka utk menjadi ‘codependent’ bagi dia. Mereka juga hidup diatas kode-kode moral yang ada. Mereka terlalu tinggi utk taat pada moralitas atau aturan apapun.

John de Ruiter adalah orang yang menyatakan diri sebagai Messiah dari Alberta, Canada. Para pengikutnya memuja dia seperti Tuhan. “Satu hari kami duduk didapur merokok,” kata Joyce, istrinya, yang sekarang cerai, selama 18 tahun, dalam sebuah wawancara. “Dia membicarakan kematian saya. Ia mengakui bahwa saya telah melalui banyak kematian, yg katanya itu bagus. Saya harus melepaskan 95% dari hidup yang harus saya lepaskan. Tapi katanya saya tidak membiarkan diri saya lepas sepenuhnya. Dia bilang bahwa ‘kemaian akhir’ saya akan terjadi jika dia mengambil dua orang istri lagi.” Joyce bilang dia pikir John becanda. Ternyata tidak. Ia mengangkat maslaah ini kedua kalinya, dan meminta Joyce apakah ia merasa tiga orang istri bisa hidup dalam satu rumah.”[24]

Untungnya Joyce belum sampai pada tahap co-dependent berat sehingga ia tidak sudi menerima penghinaan ini, dan meninggalkan suami narsisisnya. Seorang codependent asli akan melakukan apapun utk menyenangkan pasangan narsisisnya. Hubungan antara codependent dan narsisisnya adalah hubungan Sadomasochisme (kecenderungan praktek mental-seksual yang dicirikan oleh gabungan kesadisan dan kepuasan karena siksaan).

Sialnya bagi umat manusia, Khadijah adalah seorang Co-dependent Sejati, yang sudi mengorbankan apapun bagi sang narsisis tercinta. Dialah yang mendorong Muhammad utk mengejar ambisi kenabiannya dan memacunya kearah itu. Ketika Muhammad tidak lagi mengalami ‘ayan’ dan tidak lagi melihat ‘para malaikat’, dia kecewa. Ibn Ishaq menulis: “Setelah itu, Jibril tidak datang padanya selama beberapa waktu dan Khadijah berkata, “kupikir tuhan mestinya benci padamu.”[25] Hal ini menunjukkan betapa berhasratnya dia agar sang narsisis tercinta menjadi seorang nabi.

Kenapa Muhammad tidak mengambil istri lain selama Khadijah masih hidup? Karena, muhammad hidup dari uangnya dan masih tinggal dirumahnya. Lagipula, mayoritas orang Mekah mengejeknya. Dia disebut orang Gila. Tak seorangpun mau menikah dengannya meski misalnya dia punya uang sendiri dan Khadijah tidak jadi masalah. Di Mekah, para pengikutnya hanya segelintir budak dengan hanya sedikit wanita diantara mereka – tak seorangpun memenuhi hasratnya utk dinikahi. Kalau saja Khadijah masih hidup dan menyaksikan peningkatan kekuasaan suaminya, kemungkinan besar dia akan menelan penghinaan dimadu oleh wanita yang jauh lebih muda dan cantik.

Setelah kematian Khadijah, Muhammad tidak pernah menemukan co-dependent lain utk mengurusi kebutuhan emosionalnya seperti yang pernah dilakukan Khadijah. Malahan, dia cari pemenuhan kepuasan tsb dengan menjadi seorang playboy seksual. Hanya sebulan setelah kematian istrinya, Muhammad meyakinkan teman dan pengikut setianya, Abu Bakr, utk mempertunangkan dia dengan anak perempuan Abu Bakr yang masih kanak-kanak berumur 6 tahun, Aisha. Abu Bakr terkejut! Dia mencoba menolaknya dengan halus, dengan berkata “tapi kita ini masih saudara.” Muhammad meyakinkan Abu Bakr bahwa mereka hanya saudara dalam iman dan bahwa pernikahannya dengan anak kecil yang bahkan masih jauh dari usia ABG itu, tidaklah haram.[26]

Dia lebih lanjut mengatakan padanya bahwa Aisha telah ditunjukkan padanya dua kali dalam mimpi; dimana dia melihat seorang malaikat membawa Aisha kecil yang dibungkus kain. “Aku bilang (pada diriku sendiri), ‘Jika ini dari Allah, maka ini harus terjadi.’”[27] Sekarang Abu Bakr tidak punya pilihan lain kecuali meninggalkan Muhammad, orang yang telah dia beri banyak pengorbanan, mencela dia, menyebut dia pembohong, kembali keorang-orangnya sendiri dan mengakui pada mereka bahwa dia selama ini telah bodoh, atau, melakukan apapun yang Muhammad minta. Ini sering jadi pilihan yang sulit bagi para pemeluk aliran pemujaan (cult). Mereka terjebak dan setelah mengorbankan begitu banyak utk mengikuti guru mereka; balik kembali jadi pilihan yang lebih menyakitkan dibanding tunduk akan keinginan dan tuntutan pemimpin mereka. Abu Bakr memohon pada Muhammad utk menunggu tiga tahun lagi sebelum melaksanakan pernikahan (yakni meniduri si bocah ingusan yg dikatakan dlm sebuah hadis ia masih suka bermain boneka dan ayunan pd saat si Mamad bandot tua itu menikahinya). Muhammad setuju, tapi sementara menunggu itu, dia menikahi Sauda dulu beberapa hari kemudian. (Saoda cuma buat “ganjel” aja sementara, sambil nunggu masa panen ke Aisha. –admin).

Muhammad menciptakan sebuah harem yang terdiri dari banyak wanita. Dia mencoba menggantikan hilangnya ‘ibu penyenang’-nya dengan setumpuk wanita muda. Dia terus menambah koleksi istri dan selirnya tapi tak satupun memenuhi kebutuhan kekanakannya seperti yang dilakukan oleh Khadijah. Dia butuh seorang ibu utk mengurus ‘jiwa kekanak-kanakan’-nya, sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh para ‘istri remaja’ dari seorang lelaki yang sebenarnya patut jadi kakek mereka.

Keyakinan Muhammad atas Tindakannya
Dari awal masa mudanya, Muhammad menghadiri pasar malam yang diadakan secara berkala di Okaz, dimana orang dari segala tempat bertemu utk berdagang dan bersuka ria. Disana, para pengkhotbah kristen membacakan kisah para nabi dari Bible mereka utk ‘menangkap’ para hadirin. Muhammad terkagum-kagum oleh kisah-kisah tersebut. Menjadi orang yang dicintai dan dihargai adalah satu-satunya pemikiran yang memenuhi benaknya. “Betapa hebat rasanya menjadi seorang nabi, menjadi orang yang dicintai, dikagumi dan ditakuti setiap orang,” itu yang dia pikirkan sambil mendengarkan kisah-kisah tersebut. Sekarang, istrinya meyakinkan dia bahwa dia telah menjadi seorang nabi dan bahwa fantasinya telah menjadi kenyataan. Sepertinya Tuhan pada akhirnya memperhatikan dia dengan murah hati, telah memilih dia diantara semua orang dan mengangkat dia menyampaikan pesan-pesannya dan mengundang orang-orang untuk tunduk. Pikiran-pikiran yang ada dalam benak Muhammad semuanya mengenai hal-hal yang besar (muluk-muluk). Malah ide besar dan keyakinannya yang teguh inilah yang membangkitkan para pengikutnya utk berusaha mendapatkan perhatiannya, utk membunuh, menjarah dan membunuh, meski itu ayah mereka sendiri, demi Muhammad. Berkat ide-ide besar (muluk) tentang superioritas inilah, dia selalu merasa berhak utk mendapat perlakuan spesial, meskipun menyimpang.

Muhammad adalah orang yang selalu berhasrat utk memanipulasi dan mengeksploitasi. Dia bangun kerajaannya tanpa pernah turun sendiri melakukan pertempuran secara langsung. Dengan menjanjikan hadiah didunia lain dan sebuah surga penuh dengan pesta seks tak berkesudahan bagi mereka yang percaya padanya, dia mampu membuat mereka gigih bertempur demi namanya, menghabiskan kekayaan mereka demi dia, mengorbankan nyawa mereka, merampok utk membuat dia kaya dan melesatkannya ke puncak kekuasaan.

Orang Narsisis adalah ahli tipu muslihat. Mereka sendiri, sebenarnya, adalah korban pertama dari penipuan itu sendiri. Mereka secara tidak sadar menyangkal gambaran diri mereka yang miskin dan tidak toleran dengan menggelembungkan ego mereka tentang hal yang muluk-muluk. Mereka mengubah diri mereka menjadi sebuah gambar yang berkilauan akan hal-hal hebat dikelilingi oleh dinding-dinding penyangkalan. Tujuan dari penipuan diri ini adalah agar tidak mempan terhadap kritik luar dan lautan keraguan yang berputar-putar dalam diri mereka. Orang narsisis adalah pembohong alami, mereka benar-benar percaya akan kebohongan yang mereka buat sendiri dan sangat tidak suka bila ditentang.

Vaknin menyatakan, “Orang narsisis selalu berada dalam usaha utk mencapai kesenangan dan drama yang dimaksudkan utk mengurangi kebosanan dan kesedihan yang meresap masuk. Tentu saja, usaha itu sendiri dan tujuannya harus memenuhi pandangan-pandangan besar yang dia punya tentang dirinya sendiri (pandangan yang sebenarnya palsu). Mereka harus dibuat setaraf dengan pandangannya mengenai hak dia dan keunikannya.”[28]

Hal ini menjelaskan peperangan terus menerus yang dilakukan Muhammad. Drama, aliran adrenalin dan kesenangan adalah suplai yang dibutuhkan jiwa narsisistiknya. Betapapun, si narsisis itu sendirilah yang pertama percaya akan omong kosong yg dia ucapkan.

Dr. Vaknin menjelaskan: “Pegangan sang narsisis akan kenyataan adalah lemah (orang narsisis kadang gagal dalam test kenyataan). Tak dapat disangkal, sang narsisis sering seperti percaya pada perkataan mereka sendiri. Mereka tidak sadar akan sifat patologis dan sumber dari ‘khayalan diri’ mereka dan dg demikian secara teknis mereka delusional/menganggap khayalan sebagai kenyataan. (meski mereka jarang menderita halusinasi, kesulitan berbicara atau kelakuan yang tak menentu atau tidak normal). Dalam kalimat yang lebih tepatnya, orang narsisis kelihatan seperti orang sakit jiwa.”[29]

Vaknin, berkata bahwa orang narsisis, meski ahli dalam penipuan diri atau bahkan adalah seorang penipu yang berbahaya, mereka ‘biasanya sadar sepenuhnya akan perbedaan antara benar dan salah, kenyataan dan karangan, hal ciptaan dan yang telah ada. Orang narsisis secara sadar memilih utk mengadopsi satu versi kejadian, sebuah cerita yang bisa membuat dia lebih besar, keberadaan sebuah dongeng, sebuah kehidupan ‘yang tak ada’ dari permainan pikiran ‘bagaimana-jika’ (what-if). Dia secara emosional menanam saham dalam mitos pribadinya sendiri. Orang narsisis merasa lebih baik dalam fiksi dibanding kenyataan – tapi dia tidak pernah kehilangan pemikiran akan fakta bahwa itu semua hanya fiksi saja. Orang narsisis punya kontrol penuh akan kemampuannya, sadar akan pilihannya dan orientasi tujuannya. Tingkah lakunya diniatkan dan terarah. Dia adalah seorang manipulator dan khayalannya ada utk melayani tipu muslihatnya. Karena itu ia punya kemampuan seperti bunglon utk berganti samaran, berganti tingkah laku, dan pendirian secara seketika… Orang narsisis “berusaha utk mengkondisikan orang-orang terdekat dan yang mencintanya utk secara positif membangun “dirinya yang palsu’ yang dikhayalkannya.”[30] Dalam kasus Muhammad, peran itu dimainkan oleh Khadijah.

Hal ini agak sulit utk dimengerti. Disatu pihak, Vaknin bilang orang narsisis tidak pernah kehilangan kenyataan bahwa semua itu hanyalah fiksi, dan dilain pihak dia bilang bahwa pegangan orang narsisis pada kenyataan adalah lemah dan sering mereka percaya akan omong kosong mereka sendiri. Meski ini menimbulkan dilemma logika bagi orang normal, tapi tidak demikian bagi orang narsisis yang berbohong dan lalu meyakinkan dirinya sendiri akan kebohongan itu seakan hal itu benar dan akan mengubah ceritanya kapan saja ia suka.

Kita cenderung percaya bahwa kalau tidak orang itu gila atau ia seorang pembohong dan bahwa keduanya sama-sama berjalan sendiri-sendiri. Ini tidak benar. Sering para kriminal berdalih gila utk lolos dari hukuman dan masyarakat, termasuk juga para profesional kejiwaan, percaya pada dalih ini. Kebodohan ini telah mencapai tingkat kemustahilan. James Pacenza, 58 tahun, yang dipecat karena menghabiskan waktunya melakukan chat porno di internet, menuntut perusahaan yang memecatnya IBM, dengan kesalahan pemecatan dengan mengaku bahwa dia kecanduan chat online tersebut dan IBM harusnya bersimpati dan merawatnya bukan memecat. Dia dihadiahi kompensasi 5 juta dollar.[31]

Yang sebenarnya adalah bahwa orang narsisis sepenuhnya sadar akan tindakan-tindakan mereka. Pembunuh berantai (serial killer) di New York, David Berkowitz, yang menyebut dirinya ”Son of Sam,” lolos hukuman mati karena kejahatannya begitu tak masuk akal hingga tiap orang berpikir dia tidak bertanggung jawab atas tindakannya karena gila. Sebenarnya dia sepenuhnya sadar yang dia lakukan itu salah. Itu sebabnya dia mencoba dengan keras utk mengelabui polisi bahkan mengejek mereka. Betatapun, dia adalah seorang narsisis dan butuh perhatian lebih. Jadi dia tinggalkan petunjuk-petunjuk agar ditemukan. Kegembiraan karena menjadi tenar dari pemberitaan kasus tersebut lebih menarik bagi dia dibanding kebebasannya. Dia tidak bisa utk tidak menikmati semua ketenaran itu. Apa yang Berkowitz lakukan konsisten dengan penyakit Narsisistik. Ketika dia tertangkap dan dipenjara, dia putuskan utk menjadi Kristen yang dilahirkan kembali. Kenapa tidak dia lakukan sebelumnya? Apa dia mendapat bedah jiwa dipenjara? Tidak! Dia hanya memutuskan utk mengubah taktik agar mendapat perhatian yang begitu dia dambakan lagi. Di penjara, satu-satunya jalan utk itu adalah dengan menjadi orang suci. Orang narsisis seperti bunglon. Dia dengan teliti mengawasi orang lain utk melihat hal apa yang bisa mendatangkan perhatian lebih banyak lalu bertindak sesuai dengan itu.

Orang dengan penyakit jiwa sadar akan tindakan-tindakan mereka. Mereka tahu bedanya salah dan benar. Yang diinginkan psikopat narsisis hanyalah perhatian. Bagaimana cara mendapatkannya tidaklah penting. Jika mereka bisa mendapatkannya dengan menjadi pembunuh berantai, mereka akan menjadi itu dan jika utk itu harus menjadi orang yang religius, itulah juga yang akan mereka lakukan.

Secara luasnya, kita bisa bandingkan pembunuh berantai dengan seorang perokok. Keduanya tahu apa yang mereka lakukan itu salah. Tapi, dorongan utk itu lebih kuat dari kekuatan mereka dan mereka menyerah pada hasrat tersebut. Seorang perokok membunuh diri mereka sendiri dengan pelahan, satu rokok demi satu rokok, dan pembunuh berantai membunuh orang lain. Kenapa perokok tidak bisa berhenti padahal tahu tembakau itu bisa membunuhnya? Ini karena dia ketagihan nikotin. Sama juga, seorang psikopat narsisis tidak bisa berhenti karena mereka ketagihan ‘hentakan adrenalin’ dan kesenangan menjadi tuhan. Mereka tahu apa yang mereka lakukan itu salah karena mereka bersembunyi dan mempermainkan polisi. Mereka meninggalkan petunjuk mengenai diri mereka sampai mereka tertangkap karena dorongan utk mendapat perhatian begitu kuatnya hingga mereka rela mengambil risiko kehilangan kebebasan dan nyawanya utk itu.

Bukti lain psikopat tahu apa yang mereka lakukan itu salah adalah mereka tidak mau menjadi korban perbuatan mereka sendiri. Muhammad merampok dusun-dusun dan setelah membantai penduduk tak bersenjata, dia menjarah harta milik mereka. Tapi, dia siksa sampai mati mereka yang membunuh seorang gembala dan mencuri ontanya. Dia perkosa wanita tangkapan dalam perampokan-perampokannya, meski mereka ada yang telah menikah, tapi dia tidak bisa toleran jika ada yang melirik istrinya dan memerintahkan para istrinya utk menutupi wajah mereka. Bisakah kita katakan dia tidak sadar apa yang dilakukannya itu tidak benar? Tentu saja tidak! Dia larang membunuh dan mencuri, tapi dia benarkan pembunuhan dan perampokannya sendiri. Sebagai seorang narsisis, dia percaya dirinya lebih superior dari orang lain, berhak mendapat hak khusus dan bebas utk melakukan apapun yang didiktekan olehnya. Muhammad adalah seorang gila sekaligus pembohong. Ini hanya mungkin jika dia seorang narsisis yang psikopat.

Jika Muhammad seorang pembohong,
kenapa dia pingin dikenal sebagai Amin (dipercaya) ?

Amin adalah gelar bagi mereka yang menjual dan membeli barang atas nama orang lain. Seseorang disebut wali sekolah atau wali kota karena profesinya dan bukan karena dia orang jujur. Gelar “Amin” adalah label bagi semua profesi. Ini contohnya: Amin El-Makataba (Wali Perpustakaan), Amin El-Shortaa (Wali Polisi Trustee) Majlass El-Omnaa (jamaknya dari Amin) (penasehat dari para wali). Malahan, Abul Aas, suaminya Zeinab dan menantunya Muhammad juga dikenal sebagai Amin karena bisnisnya. Dia tidak menerima Islam sampai dipaksa utk menerimanya, karena Muhammad memerintahkan Zeinab utk meninggalkannya jika dia tidak mau.

Muhammad bertindak sebagai wali dari Khadijah sekali, ketika dia membawa barang dagangannya ke Damaskus dan menjual dalam namanya. Klaim bahwa orang Mekah menyebut Muhammad sebagai Amin karena mereka lihat dia jujur adalah salah. Kalau saja klaim ini benar, mereka tidak akan menolak dan mengejeknya ketika dia bilang telah menerima pesan Tuhan. Mereka yang kenal Muhammad dengan baik menyebutnya pembohong dan orang gila.

Lebih jauh tentang Pecah-Belah dan Jajah
Seperti dinyatakan dalam bab sebelumnya, Muhammad memutuskan ikatan para pengikutnya dengan keluarga mereka demi mengamankan dominasi mutlak atas mereka. Dia perintahkan para pengikut orang mekah, yang pindah ke Medina, agar jangan menghubungi kerabat mereka dikampung halaman. Meski diperingatkan, beberapa diantara mereka tetap melakukan hubungan dengan kerabat mereka, ini mungkin karena mereka butuh uang utk hidup. Agar ini dapat dihentikan, dia mendiktekan ayat berikut dari Allahnya.[32] Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad pada jalan-Ku dan mencari keridaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barang siapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus.[33]

Kita lihat desakan untuk terasing dari keluarga juga ada dalam ayat berikut: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin-pemimpinmu, maka mereka itulah orang-orang yang lalim. (Q 9.23)

Kenapa Muhammad begitu berkeras ingin mengisolasi para pengikutnya? Vaknin menjelaskan: “orang narsisis adalah guru ditengah-tengah lingkaran aliran pemujaan (cult). Seperti guru-guru lain, dia menuntut kepatuhan total dari pengikutnya: istrinya, anaknya, anggota keluarga lain, teman-teman dan sahabat. Dia merasa berhak utk dipuji dan diperlakukan secara khusus oleh para pengikutnya. Dia menghukum mereka yang menyimpang dan domba-domba yang tersesat. Dia paksakan disiplin, ketaatan pada ajarannya, dan tujuan-tujuan umumnya. Jika dalam kenyataan dia kurang berhasil – semakin keraslah penguasaannya dan semakin luaslah pencucian otaknya.”[34]

Dalam hal ini, Muhammad tidak bisa berhasil sepanjang para pengikutnya masih tinggal di Mekah dan mereka yang mampu, ketika keadaan tambah keras, juga kembali kekeluarga mereka. Berdasarkan kebutuhan utk mengisolasi para pengikutnya, pemimpin cult sering mengurung mereka dalam sebuah kamp dimana mempermudah dia utk mencuci otak mereka dan utk memaksakan kontrol total atas mereka. Pertamanya Muhammad mengirim para pengikut yang pertama ke Abyssinia, tapi kemudian, ketika dia membuat pakta dengan orang-orang Arab di Yathrib, dia memilih kota itu sebagai markasnya. Dia bahkan mengubah nama Yathrib dan memanggilnya Medina (yang merupakan kependekan dari Medinatul Nabi, Kota sang nabi).

Vaknin menyatakan: “Para anggota – sukarela – dari aliran pemujaan/cult sang narsisis menempati tempat khayal dari bangunan khayal sang narsisis. Dia paksakan pada mereka kegilaan yang serupa, penuh dengan khayalan penyiksaan, dengan “musuh”, cerita-cerita mitos, dan skenario kiamat jika dia dicemoohkan.”[35]

Lihat betapa akuratnya penggambaran tentang Muhammad dan para muslim yang sampai hari ini masih punya khayalan penyiksaan dan melihat musuh dimana-mana. Mereka percaya akan cerita-cerita mitos seperti Malaikat Jibril membawa wahyu pada Muhammad dan kisah-kisah dongeng lain seperti Jin, Mi’raj (kenaikan Muhammad ke surga), Hari Kiamat, dll.

Menurut Vaknin, “Pendirian yang ditanam dalam-dalam oleh orang narsisis, bahwa dia telah dianiaya oleh orang-orang yang lebih rendah harkatnya, orang-orang pencela, atau orang jahat yang kuat dan berkuasa, berfungsi melayani dua tujuan psikodinamis. Yaitu menegakkan keagungan sang narsisis dan menolak kerukunan.”[36]

Vaknin menulis: “Orang narsisis mengklaim sebagai orang yang sempurna, superior, berbakat, pandai, maha kuasa dan maha tahu. Dia sering berbohong dan mengarang-ngarang utk mendukung pengakuannya yang tak berdasar. Dalam cult ini, dia mengharapkan kekaguman, pujian, hormat dan perhatian terus menerus yang sepadan dengan kisah-kisah dan pengakuan-pengakuannya yang aneh. Dia menafsirkan kembali kenyataan utk disesuaikan dengan khayalannya. Pemikirannya dogmatis, kaku dan bersifat mendoktrinasi. Dia tidak menyambut pikiran-pikiran bebas, pluralisme, atau kebebasan berbicara dan tidak membolehkan kritik dan ketidaksetujuan. Dia menuntut – dan sering mendapatkannya – kepercayaan sepenuhnya dan pemindahan kekuasaan kedalam tangannya semua keputusan-keputusan. Dia paksakan kepada para pengikutnya agar memusuhi kritikan, pihak berwenang, institusi, musuh-musuh pribadinya atau media – jika mereka mencoba membuka kedok tindakan-tindakannya dan menguak kebenaran. Dia memonitor dari dekat dan menyensor informasi dari luar, memberikan pada para pengikutnya hanya data dan analisa yang sudah dia pilih2.”[37]

Dengan menguraikan karakteristik sang narsisis, Vaknin, secara tidak sengaja dan dengan akurasi yang mengherankan telah menjelaskan benak Muhammad dan cara pikir muslim. Para muslim pada umumnya juga adalah orang-orang narsisis karena mereka berusaha meniru nabinya

Perbandingan antara Islam dan
Aliran Pemujaan dari Sang Narsisis

Berikut ini adalah penjelasan mengenai cult* (aliran pemujaan sesat) dari seorang narsisis. Pertama mari kita lihat apa yang Vaknin katakan tentang ini dan kemudian saya akan mengutip episode-episode dari kehidupan Muhammad dan membiarkan para pembaca utk memutuskan apa semua itu berkesesuaian atau tidak.

* kata cult melahirkan kata kultus atau meng-kultus-kan (kata kerja). Cult (aliran pemujaan) Narsisis adalah berupa “da’iyah” (karakteristik dari sebuah ajaran yang diberitakan kepada orang lain) dan “imperialistis” (kebijakan utk mengembangkan kekuatan dan pengaruh satu negara melalui kolonisasi dan kekuatan militer. Dia selalu mencari-cari tenaga baru – para teman istrinya, teman anaknya, tetangganya, teman sepekerjaan, dll. Dia langsung berusaha ‘mengubah’ mereka kedalam ‘iman’nya – utk meyakinkan mereka betapa indah dan mengagumkannya dia. Dengan kata lain, dia mencoba mengubah mereka menjadi sumber penyuplai Narsisistiknya.

Sering, kelakuannya dalam “misi perekrutan” berbeda dengan kelakuannya didalam alirannya sendiri. Dalam fase pertama pembujukan pengagum baru dan menarik masuk orang-orang yang berpotensi – sang narsisis selalu penuh perhatian, sayang, empati, fleksibel, tidak menonjolkan diri dan sangat penolong. Tapi dirumah, diantara para ‘veteran’, dia menjadi tirani, penuntut, cuek, berpendirian keras, agresif dan eksploitatif.

Sebagai pemimpin jemaah, sang narsisis merasa berhak atas segala fasilitas spesial dan manfaat dengan tidak mengikuti aturan orang. Dia mengharapkan utk selalu dinanti-nanti, bisa memakai uang siapa saja dan memakai harta siapa saja dengan bebasnya dan bebas dari aturan-aturan yang dia sendiri tetapkan (jika pelanggaran itu mendatangkan kenikmatan atau keuntungan).

Dalam kasus-kasus yang ekstrim, sang narsisis merasa ada diatas hukum, hukum apapun. Keagungan dan pendirian yang takabur ini berujung pada tindakan kriminal, hubungan incest atau poligami, dan selalu bergesekan dengan pihak berwenang. Karena itu sang narsisis mudah panik dan kadang bereaksi keras utk ‘lari’ dari cult-nya. Ada banyak hal yang ingin disembunyikan oleh sang Narsisis. Terlebih lagi, si narsisis harus menstabilkan perasaan harga dirinya yang berubah-ubah dengan mengambil suplai narsisistik dari korban-korbannya. Jadi pengabaian menjadi ancaman yang berbahaya bagi kepribadian narsisisnya yang tidak seimbang.

Ditambah lagi dengan rasa paranoid si narsisis dan kecenderungan schizoid-nya (gila), kurangnya kesadaran-diri yang introspektif dan sense-of-humor yang tidak ada, serta risiko mendendam kepada anggota cultnya sudah jelas. Sang narsisis selalu melihat ada musuh dan ada persekongkolan dimana-mana utk menjatuhkan dirinya (ini bentuk dr mental paranoid tsb). Dia sering membentuk dirinya sendiri menjadi ‘pahlawan yang jadi korban (martir)’ dari kekuatan yang gelap dan mengagumkan. Dalam setiap penyimpangan prinsipnya dia melihat kedengkian dan usaha-usaha subversif yang tak menyenangkan baginya. Oleh karena itu dia cenderung mengurangi kekuasaan para pengikutnya dengan segala cara. Orang-orang narsisis itu berbahaya.[38]

Sekarang mari kita lihat apa ada kesamaan antara penjelasan ini dgn apa yang kita tahu tentang Muhammad dan cultnya.

Islam juga berupa ‘daiyah’ dan imperialistis. Tujuan utama dari Muhammad adalah utk menaklukan dan mendominasi. Dia coba memaksa tiap orang utk masuk kedalam cult-nya, dimulai dari keluarga dan kerabatnya. Dia minta Abu Talib, paman dan pelindungnya utk masuk islam menjelang ajalnya. Ketika sang orang tua menolak, Muhammad keluar sambil bergumam, “Aku ingin berdoa baginya tapi auwloh melarangku utk melakukannya.” Betapapun, dia berhasil mengubah anak-anaknya Abu Talib, termasuk Ali, istrinya dan beberapa temannya.

Pertamanya, ketika Muhammad masih lemah dan hanya punya pengikut sedikit, dia sopan, penuh perhatian, pengasih, empatik, fleksibel, penolong dan bahkan tidak menonjolkan diri. Terdapat perbedaan sangat kontras antara ayat-ayat Quran yang ditulis pada periode ini dan yang ditulis di Medina ketika dia menjadi berkuasa dan kuat dan tidak perlu lagi memakai kedok utk membujuk orang menjadi pengikut-pengikutnya. Setelah dia menjadi berkuasa, dia menjadi penuntut, tirani, keras kepala, agresif dan mengeksploitir. Lalu dia rampok dusun-dusun dan kota-kota dan setelah membunuh para lelaki yang mampu bertempur dan menjarah mereka, dia tuntut orang-orang yang masih hidup utk tunduk padanya atau mati.

Berikut ini adalah contoh jenis ayat yang Muhammad tulis di Mekah;

1. Dan BERSABARLAH terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik. (Q.73:10)

2. Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku. (Q. 109:6)

3. Maka SABARLAH kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu,. (Q.20:130)

4. Ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia. (Q.2:83)

5. Kami lebih mengetahui tentang apa yang mereka katakan, dan kamu sekali-kali bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka. (Q.50:45)

6. Jadilah engkau PEMAAF dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh. (Q.7:199)

7. Maka MAAFKANLAH (mereka) dengan cara yang baik. (Q.15:85)

8. Katakanlah kepada orang-orang yang beriman hendaklah mereka MEMAAFKAN orang-orang yang tiada takut akan hari-hari Allah karena Dia akan membalas sesuatu kaum terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (Q.45:14)

9. Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Q.2:62)

10. Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik. (Q.29:45)

Sekarang mari kita bandingkan tulisan itu dengan tulisan yang dibuat di Medina ketika Muhammad sudah menjadi berkuasa;

1. Hai orang-orang yang beriman, PERANGILAH orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui KEKERASAN daripadamu. (Q.9:123)

2. Kelak akan Aku jatuhkan rasa KETAKUTAN ke dalam hati orang-orang kafir, maka PENGGALLAH KEPALA mereka dan PANCUNGLAH tiap-tiap ujung jari mereka. (Q.8:12)

3. Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (Q.3:85)

4. BUNUHLAH orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka. (Q.9:5)

5. Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan USIRLAH mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu. (Q.2:191)

6. Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. (Q.9:193)

7. Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman. (Q.9:14)

8. Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan daripada kamu (lantaran mereka tobat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.. (Q.9:66)

9. Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini. (Q.9:28 )

10. Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk. (Q.9:29)

*Sisipan editor [-admin] :

Perhatikan kata dg WARNA BIRU dan kata dg WARNA MERAH di atas, maka anda akan langsung melihat perbedaan siginifikan dari ayat-ayat Mekah (sebelum si Mamad berkuasa), dan ayat-ayat Madinah (setelah si Mamad berkuasa). Begitu kontrasnya, seakan dari dua ‘kitab suci’ yang berbeda sama sekali. Ayat-ayat Mekah begitu lunak dan bersahaja. Namun, begitu anda sampai pada ayat-ayat Madaniah, maka yg anda temui adl terma-terma yg penuh kekerasan dan sadisme, seperti perintah kepada muslim utk memerangi, membunuh, memenggal kepala, memancung, menyiksa dan menghina kaum non-muslim di seluruh muka bumi dimana saja mereka dijumpai oleh muslim. Dan terakhir, bila tdk secara fisik dibunuh atau disiksa, maka non-muslim harus patuh dan tunduk kpd muslim dengan membayar jizyah (hukum dhimmi), sebagai uang keamanan; persis seperti preman pasar yg selalu malakin pedagang pasar sebagai uang keamanan. Btw, ayat-ayat Mekah yg lemah lembut otomatis gugur oleh keberadaan ayat-ayat Medinah yg turun paling akhir.

Sebelum beranjak ke alinea berikutnya, ada baiknya bagi muslim yg mbaca tulisan ini utk sejenak introspeksi dng cara begini; GANTI atau TUKAR-lah kata “orang kafir” dengan kata “orang muslim” pada ayat-ayat Medinah. Misalnya (kata yg saya ganti diwarnai hijau):

· Hai orang-orang yang beriman, PERANGILAH orang-orang muslim yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui KEKERASAN daripadamu. (Q.9:123)

· Kelak akan Aku jatuhkan rasa KETAKUTAN ke dalam hati orang-orang muslim, maka PENGGALLAH KEPALA orang muslim dan PANCUNGLAH tiap-tiap ujung jari orang muslim. (Q.8:12)

· BUNUHLAH orang-orang muslim itu di mana saja kamu jumpai mereka. (Q.9:5)

· Dan bunuhlah muslim di mana saja kamu jumpai mereka, dan USIRLAH mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu. (Q.2:191)

· Perangilah muslim, niscaya Allah akan menyiksa muslim dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan muslim dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman. (Q.9:14)

· Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang muslim itu najis, maka janganlah mereka mendekati… (Q.9:28)

Bagaimana perasaan anda sebagai muslim seandainya ada Kitab Suci agama lain memerintahkan kpd para pengikutnya utk melakukan hal-hal sadis itu terhadap kalian? Jujurlah terhadap hati nurani-mu wahai sauadara muslim-ku; bagaimana perasaan kalian?

Berhentilah disini dulu sejenak utk instropeksi. Setelah itu silakan membaca alinea selanjutnya. — Dan lagi, dari sini juga hati nurani kita, sebenarnya dapat mempertanyakan; Tuhan macam apa yg begitu sadis, kejam dan merasa terancam oleh manusia ciptaanNya sendiri sehingga mereka harus disembelih, dipancung, dipenggal kepalanya? Maaf, bagi kami (non-muslim) auwloh islam yg diperkenalkan si muhammad bukanlah ALLAH sebagaimana TUHAN yg kami sembah. “Allah quran” bukanlah Allah yg sama yg terdapat di dalam Talmud Yahudi dan Injil (Alkitab) Kristen. [-adm].

-Lanjutan- :

Ini saja sudah cukup utk bukti bahwa Muhammad berubah secara drastis setelah dia berkuasa. Pengkhotbah yang baik, perhatian, penuh sayang dan empatik berubah menjadi seorang Lalim yang penuntut, tirani, kejam dan keras kepala. Tepat setelah Perang Badar-lah kekejaman dan sifat ingin balas dendam Muhammad kepada lawannya mulai pertama kali muncul dg sendirinya. Muir menceritakan: Para tawanan dibawa kehadapannya. Ketika dia memeriksa satu persatu, matanya jatuh dengan nyalang pada Nadir, anak dari Harith (saudara sepupu Muhammad sendiri yang menulis puisi yg sangat kritis terhadapnya). “Ada maut dalam tatapannya,” bisik Nadir, gemetar, pada orang disampingnya. “Tidak begitu,” jawab yg lain, “itu hanya imajinasimu saja.”

Tawanan sial itu punya pikiran sebaliknya, dan memohon pada Musab (teman dia dulu yang sekarang telah masuk islam) utk menjadi perantara baginya. Musab mengingatkan dia bahwa dia telah menyangkal iman dan menganiaya orang muslim. “Ah!” kata Nadir, “kalau saja orang Quraish menangkapmu, mereka tidak akan pernah menghukum mati kamu!” “Meski begitu,” Musab menjawab, “Aku tidak seperti itu; Islam telah memutuskan semua ikatan kekeluargaan.” Musad, yang menangkapnya, dan tahu bahwa tawanan ini bisa memberinya uang tebusan yang banyak, merasa rejeki akan lepas dari tangannya, berteriak, “tawanan ini milikku”! Pada saat itu, perintah utk “Potong Kepalanya!” diucapkan oleh Muhammad, yang mengawasi semua ini. “Dan, Oh Tuhan!” tambahnya, “Apa kau dengan harta jarahanmu memberi mangsa yang lebih baik dari ini pada Musab?” Nadir tanpa ampun dipancung oleh Ali.

Dua hari kemudian, sekitar setengah jalan ke Medina, Oqba, tawanan lain, dikeluarkan utk dipancung. Dia meminta utk bicara dan menuntut kenapa dia diperlakukan lebih parah daripada tawanan lain. “Karena permusuhanmu pada Allah dan RasulNya,” jawab Muhammad. “Dan anak perempuanku yg masih kecil” tangis Oqba, “siapa yang akan mengurusnya?” – “Api Neraka!” teriak sang penakluk (muhammad) tanpa hati itu; dan seketika itu juga si korban dijatuhkan ketanah. “celakalah kau!” lanjut Muhammad, “dan penganiaya! Tidak percaya Allah dan rasulnya dan Kitabnya! Kupanjatkan sukur pada Allah yang telah menyiksamu dan membuat mataku nyaman dengan itu.”[39]

Terdapat kisah cinta yang mengharukan dalam cerita diatas itu yang justru lebih menunjukkan kekejaman dari Muhammad. Setelah beberapa tawanan yang tertangkap dalam Perang Badar dipancung karena mereka telah menghina Muhammad beberapa tahun sebelumnya, ketika dia masih di Mekah, sisanya ditawan utk dimintai tebusan pada keluarganya. Diantara mereka terdapat Abul Aas, suami dari anak perempuan Muhammad, Zeinab. Keluarga para tawanan mendapatkan apa yang dituntut sang bandit agar orang yang mereka cintai selamat dari kematian. Zeinab mengirim kalung emas yang dia dapatkan dari ibunya Khadijah saat menikah utk menebus suaminya. Muhammad, yang mengenali kalung tsb karena pernah dipakai istrinya Khadijah, tergerak hatinya dan setuju utk melepaskan Abul Aas tanpa tebusan yang diminta asalkan Zeinab meninggalkan dia (suaminya) dan bergabung dengannya (Muhammad) di Medina. Orang ini (muhammad) tidak mampu melakukan sesuatu kebaikan tanpa menuntut sesuatu sebagai balasannya. Bahkan kebaikannya didesain utk membuat mereka yang menerima kebaikan itu terkesan dan kemudian jadi pindah kepihak dia. Abul Aas tidak tahan berpisah dari istrinya dan agar bisa bersamanya dia harus masuk islam dan bergabung bersamanya di Medina, itupun cuma sebentar karena tidak lama kemudian istrinya meninggal.

Para muslim menampilkan Islam sebagai sebuah agama damai dan toleran terhadap orang luar dan akan memasang muka tersenyum pada orang yang berpotensi utk direkrut. Mereka jadi sangat penolong, rendah hati dan sangat menarik pada orang yang ingin mereka tarik dan dihadapan media. Diantara mereka sendiri, mereka bertingkah laku sangat berbeda. Mereka jadi tiran dan penuntut. Sekali kamu masuk islam dan masa bulan madunya selesai, para muslim akan melepas muka senyum mereka dan menjadi sangat agresif dan kejam. Mereka mengharapkan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan ‘anggota baru’ itu disudahi, dan setelah masuknya mereka ke islam, semua kemungkinan keluar dari Islam akan ditiadakan. Ini konsisten dengan aturan yang diajarkan oleh Muhammad sendiri melalui perbuatan-perbuatannya, aturan yang telah dituliskan dalam hukum-hukum islam.

Muhammmad merasa berhak mendapat keuntungan dan perlakuan spesial yang tidak diberlakukan pada yang lain, termasuk para pengikutnya sendiri. Dia melakukan hal-hal yang tidak saja bertentangan dengan prinsip-prinsip etika universal, bahkan pada masyarakat dijamannya, tapi juga tindakannya bertentangan dengan aturan-aturan yang sudah ditetapkannya sendiri. Dia pada dasarnya melakukan hal apa saja yang dia inginkan dan sukai dan ketika hal itu membuat para pengikutnya terkejut, dia keluarkan ayat dari auwloh khayalannya utk membenarkan segala tindakannya itu dan membuat terdiam mereka yang mengkritik dan mempertanyakannya. Dengan ayat dari auwloh ada dalam kantungnya, siapapun yang berani berbisik menentangnya sama saja dengan menentang auwloh dan, tentu saja, nasib mereka yang mempertanyakan auwloh dan rasulnya adalah mati. Semua kata-katanya adalah faslul-khitab (akhir dari diskusi). Contohnya banyak, ini salah satunya:

Quran membatasi empat istri bagi muslim. Tapi, Muhammad pikir dia tidak terikat oleh aturan itu dan dengan demikian dia buat auwlohnya menurunkan ayat 33:49-50 yang mengatakan padanya dia adalah sebuah pengecualian dan boleh punya sebanyak mungkin perempuan, sebagai istri, selir atau budak, sebanyak dia mau. Lalu dia tambahkan “ini hanya khusus bagimu (muhammad), bukan untuk semua orang mukmin. …supaya tidak menjadi kesulitan bagimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Kesulitan apa? Kesulitan mengontrol birahinya, menjadi manusia normal yang santun, setia pada satu istri! Apa kita harus percaya pada orang yang sulit mengontrol insting kebinatangannya padahal katanya dia adalah “makhluk ciptaan yang terbaik?” Bukankah tindakan berbicara jauh lebih kencang daripada perkataan? Disatu pihak, dia hidup seperti binatang buas, dan dilain pihak dia berbicara tentang dirinya sendiri dengan begitu mulia, menaruh perkataan-perkataan pujian dimulut auwloh-nya utk dia. Ingat ketika masih di Mekah, hidup dari harta istrinya, Muhammad tidak berani membawa wanita lain kerumah. Semua kelakuan birahinya dimulai ketika dia berkuasa. Apa kita harus percaya bahwa ketika dia masih muda dan kuat dia tidak punya kesulitan ini dan hanya tidur dengan wanita yang lebih tua tapi kesulitannya muncul di 10 tahun terakhir kehidupannya ketika dia sudah tua dan ditimpa segala macam penyakit? Atau kita harus artikan ini sebagai pertanda lain dari orang yang beranjak tua dan bertingkah liar dengan kebebasan yang dia temukan, seperti anak kecil yang dibiarkan bebas ditoko permen, tidak mampu membatasi dirinya sendiri?

Satu hari Muhammad mengunjungi istrinya Hafsa, anak dari Omar dan ketika melihat pembantu (babu) istrinya, Mariyah, dia birahi terhadapnya. Mariyah adalah perempuan muda Coptic yang sangat cantik yang dikirim sebagai hadiah dari Pejabat di Mesir kepada Muhammad. Dia suruh Hafsa pergi dengan alasan dipanggil ayahnya (hwuehehehe… dasar buaya darat, ada aja akal busuknya. –adm). Segera setelah istrinya pergi, dia gagahi Mariyah diranjangnya Hafsa, istrinya. Tahu ayahnya ternyata tidak memanggil, Hafsa kembali dan memergoki apa yang sedang terjadi serta sadar kenapa Muhammad menipunya dengan menyuruh pergi ke rumah bapaknya. Dia marah dan mulai berteriak-teriak (Ah, perempuan dimanapun dan kapanpun akan selalu perempuan!).

Utk menenangkannya, si om-om girang, Muhammad bersumpah utk melarang Mariyah dipakai olehnya. [Dari sinilah nama Surat Tahrim (Larangan) dalam Quran didapatkan]. Tapi, dia masih birahi terhadap budak cantik itu. Bagaimana caranya membatalkan sumpah? Well, gampang saja kalau anda punya “Allah” dikantung. Pencipta Jagat Raya ini lalu menurunkan Surat Tahrim dan bilang tidak apa-apa melanggar sumpah dan melakukan seks dengan budak cantik itu karena dia adalah “harta milik tangan kanannya.” Malah Allah Maha Kuasa, yang sekarang jadi mucikari (germo) bagi nabi favoritnya ini, bahkan dikatakan auwloh marah pada Muhammad dan menegur dia karena mengekang kenikmatan jasmani bagi dirinya sendiri dan karena telah bersumpah utk berlaku santun hanya demi menyenangkan istrinya. Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu; kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepada kamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu; dan Allah adalah Pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Q 66.1-2)

Ibn Sa’d menulis: “Abu Bakar menceritakan bahwa sang Rasul (PBUH) telah melakukan hubungan seks dengan Mariyah dirumahnya Hafsa. Ketika rasul keluar rumah, Hafsa duduk di pintu depan (dibelakang pintu yang terkunci). Dia berkata pada rasul, O Rasul Allah, kau lakukan ini dirumahku dan ketika giliranku? Rasul berkata, kontrol dirimu dan biarkan aku pergi karena aku telah mengharamkannya utkku. Hafsa berkata, aku tidak terima, kecuali kau bersumpah untuk itu bagiku. Rasul berkata, Demi Allah aku tidak akan menyentuhnya (Mariyah) lagi.” [40]

Seperti biasa, para muslim membenarkan Muhammad akan pelanggaran sumpahnya ini. Tidak jadi masalah apapun yang dilakukan Muhammad, para muslim akan selalu membenarkan tindakan-tindakannya. Mereka telah menyerahkan kecerdasan logika dan hati nurani mereka padanya dan berhenti berpikir secara rasional. Ibn Sa’d melanjutkan: “Qasim ibn Muhammad bilang bahwa sumpah yang melarang Mariyah untuknya sendiri itu cacat – jadi tidak menjadi suatu pelanggaran (hormat).[41]

Pertanyaannya adalah jika sumpahnya cacat, kenapa dia bersumpah, dan jika sah, kenapa dia langgar? Terdapat banyak sekali contoh-contoh dari pelanggaran janji dan sumpah Muhammad. Disini, dia telah bersumpah dalam nama auwloh-nya dan itupun tidak jadi halangan baginya. Eksistensi auwloh-nya hanya isapan jempol khayalannya dan dia tidak bodoh dengan membiarkan imajinasinya menghentikan dia utk mendapat seks dari perempuan secantik Mariyah. Keseluruhan ide penciptaan Tuhan ini adalah untuk menyetujui apapun yang dia inginkan tanpa halangan. Sosok Tuhan yang menempatkan batasan-batasan padanya akan menghalangi keseluruhan tujuan dari kepura-puraannya menjadi nabi.

Qur’an milik saya berisi tafsir berikut, berdampingan dengan Surat Tahrim:
Juga dilaporkan bahwa nabi telah membagi hari-harinya diantara istri-istrinya. Dan ketika tiba giliran Hafsa, disuruhnya Hafsa pergi kerumah ayahnya Omar Khattab, dengan alasan ayahnya memanggilnya. Ketika Hafsa pergi, nabi memanggil budak wanita Mariyah, orang Coptik yang (belakangan) melahirkan anaknya Ibrahim dan Mariyah adalah hadiah dari Najashi, lalu melakukan hubungan seks dengannya. Ketika Hafsa kembali, dia dapatkan pintu terkunci dari dalam. Dia duduk didepan pintu tsb sampai sang nabi selesai dengan ‘bisnis’-nya (hwuahahaha… kacian de lo Hafsa) dan keluar rumah dengan keringat bercucuran diwajahnya. Ketika Hafsa melihat dia dalam kondisi demikian dia menegurnya dan berkata kau tidak menghargai kehormatanku, kau kirim aku keluar rumah dengan alasan agar kau bisa meniduri budak wanita itu. Dan pada hari giliranku ini kau berhubungan seks dengan orang lain. Lalu nabi berkata, diamlah meski dia itu budakku dan oleh karenanya halal bagiku, utk menyenangkanmu, aku saat ini, membuatnya jadi haram bagiku. Tapi Hafsa tidak menerima ini dan meminta nabi bersumpah demi Allah, nabi melakukannya. Ketika nabi keluar rumah dia ketuk dinding yang memisahkan kamarnya dengan Aisha dan menceritakan semuanya.[42]

Bagi orang muslim sumpah tidak ada artinya. Mereka menjanjikan sesuatu dan melanggarnya jika mereka mau. Bukhari melaporkan sebuah hadits dimana Muhammad berkata: “Demi Allah, dan jika Allah menghendaki, jika aku mengambil sumpah dan belakangan kudapatkan sesuatu yang lebih baik dari itu, maka aku lakukan yang lebih baik itu dan kuabaikan sumpahku.”[43] Dan dia sarankan para pengikutnya utk melakukan hal sama: “Jika kau pernah mengambil sumpah utk melakukan sesuatu dan belakangan kau dapatkan sesuatu yang lebih baik, maka kau harus mengabaikan sumpahmu dan melakukan hal baik itu.”[44]

Orang narsisis percaya mereka berhak utk apapun yang mereka inginkan dan janji-janji, sumpah-sumpah dan kewajiban-kewajiban tidaklah mengikat mereka.

Satu hari Muhammad menemui anak angkat/adopsinya yaitu Zaid, namun Zaid kebetulan sedang tak berada di rumah dan disana (di rumah Zaid) dia hanya mendapatkan istrinya Zaid yaitu Zainab, Muhammad melihat tubuh Zainab lewat baju rumahnya yang tersingkap. Dia terangsang oleh keindahan dan kecantikan Zainab dan tidak mampu menahan birahinya. Ketika Zaid menyadari hal ini, dia merasa berkewajiban utk menceraikan istrinya agar Muhammad bisa memilikinya.

Hal yang menarik adalah bahwa beberapa tahun sebelumnya, ketika Muhammad mengaku naik kesurga, dia bilang disana dia bertemu seorang wanita. Dia bertanya-tanya tentang wanita itu, kata mereka itu adalah Zainab, yang lalu jadi istrinya Zaid. Lalu dia ceritakan kisah ini pada Zaid yang lalu menikahi Zainab karena dia pikir pernikahannya itu sudah diatur disurga dan harus dia lakukan. Tapi sekarang, ketika Muhammad melihat tubuh setengah telanjang Zainab, dia lupa semua kisah-kisah surganya, tentang perkawinan Zaid dan Zainab disurga. Tentu saja, tak seorangpun tahu selain dia bahwa seluruh kisah Mi’raj (kenaikan ke surga) itu hanya khayalannya belaka. Pernikahannya dng Zainab, menantunya sendiri, mengagetkan orang bahkan para pengikutnya juga. Utk mendiamkan mereka, lagi-lagi sang auwloh keluar dari kantungnya dengan ayat yang mengatakan Muhammad bukanlah ayah siapapun tapi utusan auwloh dan Nabi Penutup (Q.33:40). Dia klaim bahwa pernikahannya dengan Zainab telah diatur tuhan utk menunjukkan pada orang-orang bahwa adopsi anak itu hal yang buruk dan harus ditiadakan. Seperti yang anda lihat, hanya karena dia tidak bisa mengontrol birahinya, dia membuat Allah palsunya menyatakan bahwa adopsi itu salah, menghilangkan harapan tak terhitung anak-anak yatim utk mendapatkan kesempatan kedua bagi hidupnya. Tidakkah ini saja mendiskualifikasinya sebagai utusan Tuhan? Bagaimana bisa Tuhan Maha Kuasa terhina oleh adopsi, yang mungkin menjadi salah satu tindakan paling manusiawi dan mulia?

Ada kisah menarik yang berhubungan dengan topik ini. Setelah Muhammad meniadakan adat kebiasaan adopsi, Abu Hudayfa dan istrinya Sahla, yang telah mengadopsi seorang anak bernama Salim, mendatangi Muhammad utk meminta nasihat. “Rasul Allah, Salim (budak yg dibebaskan oleh Abu Hudhaifa) tinggal bersama dirumah kita,” kata Sahla. “Dia telah mencapai puber sebagai seorang laki-laki dan telah tahu perihal seks seperti layaknya lelaki dewasa.” Sebagai jawabannya, Muhammad mengarang solusi yang ‘mengherankan’. “Susui dia,” katanya. “Bagaimana bisa kususui dia sedang dia sudah dewasa?” Tanya Sahla terkejut. Muhammad tersenyum dan berkata: “Aku tahu dia sudah jadi lelaki muda.” Malah Salim sudah cukup umur utk ikut dalam peperangan di Badar. Dalam hadits lain, ada yang menceritakan bahwa setelah pernyataan Sahlah itu, Muhammad tertawa terbahak-bahak.[45]

Menurut Muhammad, dengan menyusui telah ditetapkan hubungan satu tingkat antara anak-ibu, meskipun bila seorang wanita menyusui seorang anak yang bukan anak biologisnya. Dr. Izzat Atiya dari Universitas Al-Azhar Mesir, salah satu institusi Sunni Islam yang paling terkenal, yg terilhami oleh hadits ini, menawarkan cara lain utk mengatasi pemisahan ruangan utk yang berbeda jenis kelamin ditempat kerja. Dia mengeluarkan sebuah FATWA (aturan religius yg harus diikuti) yang mengijinkan para wanita utk menyusui teman kerjanya yang lelaki “langsung dari payudaranya” sedikitnya lima kali utk menjadikan adanya ikatan keluarga dan dengan demikian mereka diijinkan utk berdua dalam satu ruangan ditempat kerja. “Menyusui seorang dewasa bisa mengakhiri masalah pertemuan atau rapat dalam tempat kerja dan tidak melarang pernikahan,” tuturnya. “Seorang wanita ditempat kerja bisa melepas kerudungnya atau memperlihatkan rambutnya didepan seseorang yang telah dia susui.”

Meski sebagian muslim tidak punya masalah dengan fatwa ini, karena mereka diberitahu bahwa ini berdasarkan Hadis yang Sahih, tetap saja fatwa ini menimbulkan kemarahan diseluruh Mesir dan dunia Arab, dan Dr. Atiya dipaksa utk menarik fatwanya kembali.[46]
(hwuaahh… uenaak tenan kalo MUI mengeluarkan fatwa yg sama disini. LOL…)

Ada sebercik harapan dalam hal ini. Episode ini menunjukkan bahwa ada batas dimana Muslim rela utk dibodohi dan lebih dari itu mereka tidak mau menerima. Disanalah bergantung keyakinan saya, bahwa sekali saja kebenaran islam ditelanjangi, sejumlah besar orang muslim akan melihat sinar dan meninggalkan keyakinan mereka.

Muhammad mengenalkan kembali tradisi kaum pagan, yaitu puasa dibulan Ramadhan. Tapi, dia dapat kesulitan utk tidak mendapat makanan dan air, dari subuh sampai magrib, jadi dia makan kapan saja dia mau. Ibn Sa’d menulis: “Rasul Allah suka berkata ‘Kami para nabi perlu melakukan sarapan pagi kami lebih lambat dari orang lain dan secepatnya mengakhiri puasa disore hari.’”[47] (huuu… curang!!! -adm).

Ini baru sedikit saja contoh-contoh betapa Muhammad melakukan semau dia dan membuat auwlohnya setuju apa yang dia lakukan. Aisha yang cerdas dan masih muda melihat hal ini dan secara sarkastik, atau lugu berkata (menyindir muhammad) “kurasa Allahmu cepat sekali dalam hal memenuhi keinginan-keinginan dan hasrat-hasratmu.” [48]

Muhammad tidak pernah mempertaruhkan nyawanya dalam semua perang yang dia lakukan. Dia seringnya berdiri dibelakang pasukan dengan memakai dua lapis baju besi,[49] satu baju melapisi baju lainnya. Baju besi dobel ini membuatnya begitu berat hingga gerakannya terbatas dan dia perlu dibantu utk berdiri atau berjalan. Dengan begini dia akan berteriak kearah depan dan dengan kerasnya menyemangati anak buahnya agar berani dan jangan takut mati, menjanjikan mereka perawan-perawan berdada montok bak Dolly Parton dan makanan surga didunia lainnya. Kadang dia menggenggam pasir dan melemparkannya kearah musuh sambil mengutuk mereka.

Utk mendanai ekspedisi militernya, sang nabi Allah mendesak para pengikutnya utk menyumbang dari harta mereka. Dia dorong mereka utk melayaninya dan menanti-nantinya. Dia dorong pemujaan mereka dan dengan sangarnya mengerutkan dahi pada mereka yang tidak setuju dengannya. Suku Quraish punya seorang negosiator (perunding) bernama Orwa, yang mengunjungi Muhammad di Hudaibiyyah. Dia bilang pernah melihat sang Khusraos, sang Kaisar dan sang Najashi, tapi belum pernah dia melihat, sampai saat ini, pelayanan dan perhatian yang begitu hebat, pada raja manapun. Dia bilang pada orang-orang Quraish bahwa para pengikut Muhammad “berlari utk menadahi air bekas wudhunya, berlomba menangkap ludahnya, atau menangkap rambutnya agar jangan jatuh menyentuh tanah.”[50] Jangan menganggap bahwa ini cerita yang dibesar-besarkan dikemudian hari, karena sejarawan Sir William Muir percaya itu. Muhammad, sama seperti pemimpin aliran cult lain, yang menciptakan sebuah kultus pribadi bagi dirinya. Kita bisa melihat pemujaan pribadi seperti ini dalam aliran cult modern sekarangpun. Inilah caranya sang narsisis ingin diperlakukan.

Muhammad berpikir dirinya ada diatas hukum. Dia melanggar kode etika dan moral kapanpun dia suka, dan dia buat auwlohnya mengelurakan ayat utk mengkonfirmasi bahwa apa yang dia lakukan itu benar.

Orang-orang Arab adalah orang gurun pasir yang sederhana, tapi mereka punya harga diri dan bangga akan sikap ksatria mereka. Dalam setahun ada beberapa bulan dimana mereka tidak boleh berperang. Bulan-bulan Ini dikenal sebagai bulan suci, dimana orang melakukan perjalanan dengan aman utk ziarah. Disalah satu bulan suci ini, Muhammad mengirim sebuah ekspedisi ke Nakhlah, sebuah tempat yang dikenal karena pohon-pohon palemnya, utk mengepung dan menyergap sebuah karavan yang membawa kismis, mentega, arak dan barang-barang lain dari Taif ke Mekah. Bertempur dan membunuh dibulan suci adalah sebuah pelanggaran terhadap hal yang dianggap keramat. Dia mengirim delapan orang kearah Nakhlah tanpa memberitahu mereka tentang misinya. Dia memberi surat yang disegel kepada pemimpin ekspedisi dan memberi instruksi utk membukanya setelah mencapai tujuan. Ketika mereka buka surat itu, mereka sadar Muhammad meminta mereka utk merampok sebuah karavan dibulan suci. Dua orang dari mereka, kehilangan (sengaja menghilangkan) onta dan pura-pura mencarinya agar tidak ambil bagian dalam perampokan itu (hwuehehe… lucu-lucu jg pengikut si Mamad ini. Kayak nonton film warkop Dono-Kasino-Indro, hihiix). Enam orang lainnya, berdiskusi dan akhirnya meyakinkan diri mereka sendiri bahwa perintah sang nabi harus dipatuhi meskipun bertentangan dengan hati nurani mereka karena hal itu tidak bermoral dan tidak etis. Utk menyiapkan sergapan, mereka mencukur gundul rambut mereka dan pura-pura bersiap utk melakukan ziarah, dan ketika para penjaga karavan menurunkan level penjagaan karena mereka lihat yang datang adalah para ‘peziarah’, para begundal si Mamad (yg nyamar sbg peziarah itu) menyergap, membunuh satu orang dan menawan dua orang sebagai sandera. Orang keempat lolos. Ini adalah kucuran darah pertama yang dilakukan atas nama Islam. Pertumpahan darah pertama dalam sejarah Islam adalah darah seorang non-muslim. Muslim yang memulai permusuhan-permusuhan. Mereka yang menganiaya orang yang tidak se-tujuan dengan mereka, bukan sebaliknya. Pembunuhan ini menimbulkan kegemparan diseluruh suku Quraish yang sadar bahwa lawan mereka, utk mendapatkan kekuasaan, tidak akan menghormati hukum apapun, bahkan konsensus yg selama ini berlaku dan dipandang sakral sekalipun.

Tak terhitung banyaknya kasus dimana Muhammad melanggar hukum-hukum daerah/tanah tsb dan mengabaikan kode etik, kesopanan dan moralitas. Mengepung karavan dagang atau merampok wilayah-wilayah dan menyita harta mereka adalah sebuah pencurian dan ini bertentangan dengan hukum dalam masyarakat mana saja. Muhammad menyergap kelompok-kelompok sipil tak bersenjata ketika mereka tidak menyadari akan diserang (tidak siap), membunuh sebanyak mungkin laki-laki tak bersenjata, memperbudak para wanita dan anak-anak, dan membuat auwlohnya menyetujui semua yang dia lakukan. Dia juga meng-oke-kan utk melakukan seks dengan para wanita tawan perang, meski wanita itu telah/masih menikah. (Q 4.24)

Dari incest hingga poligami, dari perkosaan hingga pedofilia, dari pembunuhan sampai pembantaian masal, Nabi Allah telah/pernah melakukan semuanya dan mendorong para pengikutnya utk melakukan hal yang sama. Dia menghina pihak berwenang, dan begitu juga yang dilakukan para pengikutnya hingga kini.

Kata “Islam” artinya adalah “kepatuhan” (dlm konotasi tunduk/takluk). Quran bilang: “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan.” (Q 33:36) Yang benar adalah bahkan orang-orang yang tidak percaya juga tidak punya pilihan. Mereka harus tunduk/patuh atau dibunuh. Muhammad menafsirkan ketidakpercayaan sebagai penghianatan. Bagi orang narsisis, orang yang tidak percaya padanya tidak bisa ditoleransi. Mereka jadi panik dan merasa terancam. Ingatan menyakitkan ketika diabaikan waktu kecil bangkit menggoyang ego pribadinya yang tidak seimbang. Mereka merasa sangat sakit dan mencari pembalasan dendam utk itu.

Muhammad memandang mereka yang tidak menjadi pendukung dan pengikutnya sebagai musuh. Dia sangat paranoid dan melihat persekongkolan dimana-mana. Dia bentuk dirinya sebagai ‘pahlawan yg jadi korban’ dari kekuatan musuh yang jahat. “Musuh invisible” ini, tentunya, tidak ada dimanapun kecuali hanya didalam imajinasinya saja. Satu faktor utama yang membuat sukses Muhammad adalah dia punya mata-mata dimana-mana yang bertindak sebagai pengumpannya dan yang membawa berita dari tempat yang akan dia serang. Begitu paranoidnya dia hingga dia mendorong para pengikutnya utk jadi mata-mata satu terhadap lainnya, diantara mereka sendiri. Orang-orang muslim masih melakukan ini sampai sekarang.

Seperti nabi mereka, para muslim berpikir merekalah yang jadi korban dan dengan begitu, semua tindakan terorisme mereka sepenuhnya dibenarkan. Mereka pikir kekuatan jahat asing sedang bekerja utk menghancurkan Islam dan ada persekongkolan dunia melawan para muslim yang dipimpin oleh orang Yahudi dengan gerakan Zionisme-nya. Mereka yakin orang Yahudi yang mengontrol dunia, khususnya Amerika, yang melakukan kehendak Yahudi dan melakukan perang melawan para muslim demi organisasi Yahudi yang misterius dan kuat. Para muslim waspada akan perkataan dan tindakan mereka sendiri satu sama lain; tiap muslim memata-matai muslim lain utk melihat apa hukum-hukum islam telah dengan benar diperhatikan. Suasana teror terciptakan disemua negara-negara berbasis syariah islam, dimana hampir tak seorangpun berani mempertanyakan hal-hal remehpun akan ajaran-ajaran dan prinsip-prinsip islam. Ayahmu sendiri, anak atau saudaramu bisa melaporkan ketidak patuhanmu, yang tentu saja, akan menyebabkan kematian yang pasti bagimu.

Narsisis patologik benar-benar percaya mereka itu spesial dan dg demikian berhak mendapat perlakuan dengan baik oleh orang lain. Muhammad menemukan cara yang sempurna utk tidak perlu berterima kasih pada mereka yang melakukan kehendaknya. Tidak perlu mengungkapkan rasa terimakasih, cukup dengan mengatakan pada mereka bahwa mereka harus bersukur karena telah diberi keistimewaan untuk melayani rasul auwloh.

Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena ria kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. (Q 2.263)

Muhammad mencoba menggantikan hasrat cintanya dengan kekuasaan. Dia rindu akan cinta sejati karena dia tidak cukup mendapatkannya dari pemberi kesenangan utamanya. Masa kecil tanpa kasih sayang adalah akar utama dari Narsisme, kelaliman dan kelakuan psikopat. Kakek dan pamannya yang terlalu memanjakan serta kegagalan mereka utk menetapkan batasan-batasan, telah lebih jauh mengembangkan sifat narsistiknya. Muhammad menangis dengan pedih dikuburan ibunya. Airmata itu bukan utk ibunya, tapi utk dirinya sendiri. Orang narsisis tidak punya perasaan bagi orang lain. Mereka hanya sadar, bahkan terlalu menyadari, perasaan mereka sendiri, kesakitan mereka sendiri dan emosi mereka sendiri.


BAB III
PENGALAMAN
BAWAH SADAR MUHAMAD


MUHAMMAD’S ECSTATIC EXPERIENCES Teknologi baru dlm mempelajari cara kerja otak manusia semakin mempermudah pengertian akan pengalaman mistik Muhamad yg diakuinya sendiri secara gamblang. Utk menghindari orang menuduhnya membual, ia menunjuk Allah utk menggambarkan apa yg dilihatnya.

Dari ia berada diufuk yang tertinggi.
Dia datang mendekat dengan bergerak turun kebawah.
Lalu Dia menurunkan kepada hambaNya apa yang patut diturunkan.
Hati tidak mengada-ada ttg apa yang telah dilihatnya.
Adakah kamu meragukan apa yang dia telah lihat?
Dia telah melihat disuatu turunan yang lain.
Dipenghujungan kesudahan.
Dimana lokasi Syurga yang abadi ditempatkan.
Mata mata tidak berpaling, dan tidak juga menjadi buta.

(Q.53:6-1 http://www.submission.org/indonesia/quran/sura-53.html

Dlm ayat lain ia secara tegas menyatakan ttg pengalaman visualnya:
Dia melihatnya diufuk yang tinggi. (Q.81:23)

Sebuah hadis melaporkan sang nabi bercerita ttg pengalamannya:
“Saat saya sedang berjalan, saya mendengar suara dari langit. Saya melihat ke atas dan lihatlah! Saya melihat malaikat yg sama yg mendatangi saya di Goa Hira’, duduk disebuah kursi antara langit dan bumi. Saya begitu takut olehnya sampai saya jatuh ketanah. Dan saya pergi ke isteri saya dan mengatakan, ‘Selimuti saya dgn jubah! Selimuti saya dgn jubah!’ Mereka menyelimuti saya dan lalu Allâh mewahyukan:
Saat seseorang bertanya, “Bgmn wahyu ilahi datang kepadamu?” Muhamad menjawab, “Kadang seperti bunyi lonceng, bentuk wahyu ini yg paling sulit dari semuanya dan lalu keadaan ini lewat sampai saya mengerti apa yg diwahyukan. Kadang malaikat datang dlm bentuk lelaki dan berbicara kepada saya dan saya mengerti apapun yg dikatakannya.” ‘Aisha menambahkan: Sesungguhnya saya melihat Nabi sedang mendapatkan wahyu pada sebuah hari yg sangat dingin dan melihat keringat deras dari keningnya (saat wahyu selesai).

Ibn Sa’d mengatakan, “Pada saat turunnya inspirasi, kecemasan melanda Nabi, dan raut wajahnya nampak gundah gelisah.” Ia melanjutkan, “Ketika wahyu diturunkan pada Nabi, selama beberapa jam ia biasanya menjadi mengantuk spt orang tertidur. Bukhari mengatakan: “Wahyu ilahi kpd Rasulallah dimulai dalam bentuk mimpi-mimpi dlm bentuk sinar terang.”

Sebuah hadis yg dicatat Muslim menulis: “A’isha, istri Rasulullah melaporkan: (Bentuk) pertama yg memulai wahyu kpd Rasulullah adalah gambaran dlm mimpi. Dan ia tidak melihat gambaran apapun kecuali wahyu yg datang spt sinar cerah fajar.” Tabari melaporkan: “Nabi mengatakan, ‘Saya berdiri, namun jatuh pada lutut saya; dan merangkak pergi, bahu saya gemetaran.” Bukhari juga mencatat sebuah hadis panjang yg menggambarkan seluruh episode ttg bgm Muhamad menerima wahyu-wahyunya.

Diriwayahkan oleh ‘Aisha:
Permulaan Wahyu Ilahi kpd Rasulullah adalah dlm bentuk mimpi dlm tidurnya. Ia tidak pernah bermimpi tetapi (wahyu) itu datang spt terang sinar pagi hari. Ia biasanya menyingkirkan diri ke (goa) Hira’ dimana ia memuja (Allah saja) berulang-ulang selama berhari-hari dan bermalam-malam. Dlm perjalanannya, ia biasanya membawa makanan dan lalu kembali kpd (isterinya) Khadijah utk menjemput makanan utk melanjutkan periode berikut (di goa Hira), sampai Kebenaran tiba-tiba turun padanya saat ia berada dlm goa Hira. Malaikat datang padanya didalam wahyu tsb dan memintanya (Muhamad yg buta huruf) utk membaca. Nabi menjawab, “Saya tidak dapat membaca. Malaikat memegang saya (dgn keras) dan menekan saya begitu keras sampai saya tidak tahan lagi. Ia kemudian melepaskan saya dan sekali lagi meminta saya agar membaca dan saya menjawab, “Saya tidak bisa membaca,” dan dgn itu ia kembali memegang saya dan menekan saya utk kedua kalinya sampai saya tidak tahan lagi. Ia kemudian membebaskan saya dan kembali meminta agar saya membaca, “Saya tidak tahu bgm membaca (atau, apa yg harus saya baca?).” Saat itu ia memegang saya utk ketiga kalinya dan menekan saya dan membebaskan saya dan mengatakan, “Bacalah: Dlm Nama Allah yg Menciptakan (semua yg ada). Ia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmu yg Maha Mulia … ” (Q.96:1-5)

Lalu Rasulullah kembali dgn wahyu itu, otot-oto lehernya bergetar-getar dgn keras sampai ia menemui Khadijah dan mengatakan, “Selimuti saya! Selimuti saya!” Mereka menyelimutinya sampai seluruh ketakutannya padam dan lalu ia mengatakan, “O Khadijah, ada apa dgn saya?” Lalu ia menceritakan semua yg terjadi dan mengatakan, ‘Saya khawatir bahwa sesuatu akan terjadi pada saya.’ Khadijah mengatakan, ‘Tidak mungkin! Namun berbahagialah, karena Allah tidak akan pernah mempermalukanmu karena kau membina hubungan baik dgn sanak saudaramu, berbicara kebenaran, membantu fakir miskin dan melarat, melayani tamu-tamumu dgn murah hati dan membantu mereka yg memerlukan, yg dilanda bencana.”

Khadijah lalu membawanya kpd (saudara sepupunya) Waraqa bin Naufal bin Asad bin ‘Abdul ‘Uzza bin Qusai. Waraqa adalah putera paman dari garis ayah, yi, kakak ayahnya, yg selama masa Pra-Islam menjadi seorang Kristen, ahli menulis abjad Arab dan menulis Injil dlm bahasa Arab sesuai dgn kehendak Allah. Ia adalah orang tua dan kehilangan daya penglihatannya. Khadijah mengatakan kpdnya, “Ya saudaraku! Dengarkanlah cerita keponakanmu.” Waraqa mengatakan, “Ya keponakan! Apa yg kau lihat?” Nabi menggambarkan apa yg ia lihat.

Waraqa mengatakan, “Ini adalah Namus yg sama (yi., Jibril, malaikat yg menyimpan rahasia-rahasia) yg dikirim Allah kpd Musa. Seandainya saya masih muda dan bisa hidup pada jaman ketika rakyatmu… Waraqa menjawab ya dan mengatakan: “Belum pernah seseorang datang dgn sesuatu yg mirip dgn apa yg kau bawa namun disambut dgn permusuhan. Kalau saya masih hidup pada hari kau… maka saya akan mendukungmu sepenuhnya.”

Namun beberapa hari kemudian Waraqa wafat dan Wahyu Illahi juga berhenti selama beberapa waktu dan nabi menjadi begitu sedih dan spt kami dengar ia berkali-kali ingin melemparkan dirinya (bunuh diri) dari puncak gunung dan setiap kali ia pergi ke puncak sebuah gunung utk melemparkan dirinya kebawah, Jibril nampak didepannya dan mengatakan, “Ya Muhamad! Kau memang rasulullah yg sebenarnya” dan hatinya kemudian terhening dan ia tenang kembali dan kembali pulang. Dan setiap kali periode datangnya wahyu menjadi panjang, ia akan melakukan yg sama, tetapi saat ia mencapai puncak sebuah gunung, Jibril nampak padanya dan mengatakan apa yg dikatakan sebelumnya.

(Ibn ‘Abbas ttg arti: ‘Ialah yg memisahkan sinar matahari (dari kegelapan)’ (6.96) bahwa Al-Asbah berarti sinar matahari selama siang hari dan sinar bulan pada saat malam hari).

Cerita Waraqa, saudara sepupu Khadijah, mengakui Muhamad sbg rasulullah, yg didasarkan pada studinya atas kitab-kitab suci yg sudah ada, tentu omong kosong. Inilah bentuk cerita-cerita Muhamad yg dikarang Muhamad utk menguatkan claim-nya. Tidak ada apapun dlm kitab-kitab suci Yahudi atau Kristen yg menunjuk pada Muhamad. Waraqa mati dan Muhamad merasa bebas utk menyusun kebohongan, seolah-olah cerita-cerita itu datang dari Waraqa, spt juga claim bohongnya bahwa kakeknya mengatakan bahwa ia masa depannya gemilang. Tidak heran kalau Khadijah, sbg co-dependent Muhamad, menegaskan kebohongan-kebohongan itu. Seorang co-dependent sering meng-kolaborasi kebohongan-kebohongan pasangannya yg narcissist (narsisis).

Ada claim yg serupa yg dibuat Muhamad ttg saat ia pergi ke Busra utk urusan dagang Khadijah. Ia mengatakan bahwa pada saat karavan-karavan masuk dari pinggir Busra, ia duduk berteduh dibawah sebuah pohon dan kemudian seorang biarawan Nestorian melihatnya.

“Siapa lelaki dibawah pohon itu?” tanya biarawan kpd Maysarah, lelaki remaja, pembantu Khadijah yg menemani Muhamad dlm ekspedisi dagangnya ini. “Lelaki Quraish,” jawab Maysarah.” “Tiada lain daripada seorang nabi yg duduk dibawah pohon itu,” kata sang biarawan. Menurut cerita yg disusun Muhamad ini, sang biarawan mengetahui status Muhamad dari dua awan kecil yg memberinya keteduhan dari panas matahari. “Apakah ada … warna kemerah-merahan disekitar matanya yg tidak pernah hilang ?” tanya sang biarawan. Ketika remaja itu menjawab ya, ia mengatakan, “Ia pastilah nabi terakhir; selamat kpd siapapun yg percaya padanya.”

Ditempat lain ia mengaku bahwa tahi lalat diantara kedua bahunya adalah tanda kenabiannya. Saya belum pernah menemui kitab suci yg menegaskan bahwa tahi lalat diantara kedua bahu dan kemerahan disekitar mata adalah tanda-tanda seorang nabi (wuakakakak…). Kemerahan kronis disekitar mata adalah sebuah kondisi medis yg dinamakan blepharitis yg diakibatkan oleh radang/kebengkakan pada pelupuk mata. Satu jenis blepharitis, spt meibomian gland dysfunction (MGD) bisa mengakibatkan kelainan kulit pada pasien yg dikenal sbg rosacea dan seborrheic dermatitis. Rosacea juga ditandai dgn wajah yg kemerah2an. Ali, putera Abu Talib, menggambarkan wajah Muhamad sbg putih-kemerah-merahan.

Muhamad menemukan penonton yg mudah percaya apa saja dan ia merasa bebas utk mengatakan apapun pada mereka, karena ia tahu bahwa mereka akan percya, bahkan gejala-gejala berbagai penyakitnya dinyatakan sbg tanda-tanda kenabian. Tidak ada sebutan apapun ttg Maysarah diantara para pengikut paling dini. Kalau memang cerita ini benar, maka seharusnya Maysarah adalah orang yg pertama yg menjadi pengikut Muhamad.

Dlm hadis diatas kami melihat peran penting Khadijah dlm Islam. Saat Muhamad mengalami halusinasi anehnya ini, ia menyangka bahwa ia kesurupan. Khadijah-lah yg meyakinkannya bahwa ia dipilih utk menjadi nabi Tuhan dan mendukungnya utk terus menggali ketidakwarasannya itu. Ada halusinasi Muhamad yg visual, ada yg didapat dari mimpi dan ada juga yg didapatkan lewat pendengaran.

Ibn Ishaq menulis: “bahwa nabi, pada saat Allah menurunkan rahmatnya kdpnya sbg nabi, akan pergi membawa pengalamannya ini dlm perjalanan jauhnya, sampai ia tiba di Mekah dan bukit-bukit tanpa satu rumahpun atau batu ataupun pohon yg dilewatinya, namun ia mendengar ‘Damai besertamu, ya Rasulullah.’ Dan nabi menengok kekanan dan kekiri dan melihat kebelakang, dan ia tidak melihat apapun kecuali pepohonan dan batu-batu.”

Muhamad juga memiliki sejumlah halusinasi lain. Diriwayahkan Abu Huraira: “Nabi menawarkan solat dan mengatakan, “Setan datang didepan saya dan mencoba menggangu solat tetapi Allah memberi saya kekuatan dan saya mencekiknya. Saya berpikir utk mengikatnya pada salah satu pilar mesjid sampai kau bangun dipagi hari dan melihatnya. Lalu saya mendengar pernyataan Nabi Solomon (sulaiman), ‘Ya Tuhan! Berikan saya kerajaan yg tidak akan dimiliki oleh siapapaun setelah saya.’ Lalu Allah mengusirnya (Setan) dgn kepala tunduk (dihina).”

Diriwayahkan Aisha:
Penyihiran terjadi pada Rasululah shg ia menyangka bahwa ia telah senggama dgn istri-istrinya padahal tidak (Sufyan mengatakan: Itu penyihiran paling sulit mengingat dampaknya). Lalu satu hari ia mengatakan, “Ya ‘Aisha tahukah kau bahwa Allah memerintahkan saya ttg hal yg saya tanyakan padanya? Dua lelaki datang kpd saya dan salah seorang duduk dekat kepala saya dan satunya lagi duduk dekat kaki saya. Yg didekat kepala saya bertanya kpd rekannya. Apa yg terjadi pada orang ini? Yg belakangan menjawab bahwa ia berada dlm pengaruh sihir. Yg pertama bertanya, Siapa yg menyihirnya?’ Yg lainnya menjawab, Labid bin Al-A’sam, lelaki dari Bani Zuraiq, sekutu Yahudi dan seorang munafik.’ Ditanya kemudian, ‘Apa bahan-bahan yg digunakannya?’ Dijawabnya, ‘Sebuah sisir dan rambutnya yg menyangkut padanya.’ Yg pertama kemudian bertanya, ‘Dimanakah (benda itu)?’ Yg lainnya menjawab. ‘Dlm kulit sari pohon kurma jantan yg disimpan dibawah sebuah batu dlm sumur Dharwan.’ Jadi, nabi pergi ke sumur itu dan mengeluarkan barang-barang itu dan mengatakan ‘Inilah sumur yg ditunjukkan pada saya (dlm mimpi). Airnya mirip sari daun Henna dan pepohonan kurmanya nampak spt kepala setan.’ Nabi menambahkan, ‘Kemudian benda itu dicabut’. Saya mengatakan (kpd nabi) ‘Mengapa anda tidak merawat diri anda dgn Nashra?’ Katanya, ‘Allah sudah menyembuhkan saya; saya tidak suka membiarkan setan tersebar diantara orang-orang saya.’

Dlm hadis lain ditulis: “Wahyu datang kpd rasulullah dan ia diselimuti dgn selembar kain dan Ya’la mengatakan: Bisakah saya melihat datangnya wahyu kpd rasulullah. Ia (Omar) mengatakan: Apakah kau akan senang melihat Rasulullah menerima wahyu. ‘Omar mengangkat sudut jubah nabi dan saya melihat padanya dan ia (nabi) terdengar sedang mengorok. Ia (narator) mengatakan: Saya menyangka itu suara onta.” (hwuahaha… masya’alah…nabi tidur ngorok kok dikira onta seh?! Asli lucu..Kikikikiiii…)

Lagi-lagi hadis: “Ketika Jibril menurunkan Wahyu Ilahi kpd Rasulullah, ia menggerak-gerakkan lidah dan bibirnya, keadaan itu sangat menyiksanya dan gerakan itu menunjukkan bahwa wahyu sedang diturunkan..”

Jadil inilah daftar dampak fisik dan psikologis turunnya wahyu terhdp jiwa dan raga Muhamad berdasarkan pada hadis.
1. halusinasi melihat malaikat, sinar terang atau mendengar suara
2. kejang tubuh dan sakit perut yg sangat menyiksa
3. tiba-tiba dirasuki perasaan gelisah & ketakutan
4. gerakan dlm otot-otot leher
5. gerakan bibir dan lidah yg tidak dapat dikontrol
6. berkeringat pada hari yg sangat dingin
7. wajah kemerah-merahan
8. raut wajah yg gundah gelisah
9. gerakan jantung yg sangat cepat
10. mengorok spt onta
11. mengantuk
12. keinginan utk bunuh diri

Semua ini adalah gejala penyakit temporal lobe epilepsy [TLE] alias penyakit ayan. Satu lagi karakteristik TLE adalah bahwa TLE terjadi tiba-tiba tanpa peringatan terlebih dahulu kpd pasien. Ini sesuai dgn pengalaman mistik Muhamad.

Bukhari melaporkan: “Rasulullah bercerita ttg periode tidak datangnya wahyu … ‘Suatu hari saat saya berjalan, tiba-tiba saya mendengar suara dari langit. Saya melihat keatas dan saya heran melihat malaikat yg sama yg mengunjungi saya di goa Hira’…”

Sekedar ilustrasi ttg letak Temporal Lobe dlm otak manusia


ANGAN-ANGAN UTK BUNUH DIRI

Para narator mengatakan bahwa Muhamad sering mencoba bunuh diri, namun selalu dihentikan oleh Jibril. Ia tadinya menyangka bahwa ia telah menjadi seorang penyair atau seorang juru nujum: “Saya tidak pernah membenci seseorang spt saya membenci seorang penyair atau seorang kahin. Saya tidak sudi memandang keduanya. Saya tidak akan pernah bercerita kpd suku Quraish manapun ttg wahyu-wahyu saya. Saya akan menaiki sebuah gunung dan melemparkan diri saya dan mati. Itu akan melegakan saya. Saya pergi utk melakukannya namun ditengah jalan saya mendengar suara dari langit yg mengatakan ‘Ya Muhamad! Kau adalah rasulullah dan saya Jibril.’ Saya berhenti dan melihatnya. Ia mengalihkan perhatian saya dari apa yg ingin saya lakukan. Saya berdiri di tempat dgn tertegun. Saya mencoba memalingkan mata saya darinya, tetapi ke bagian langit manapun mata saya mengarah, saya melihatnya spt sebelumnya.” Apa yg dilihat Muhamad berada dlm kepalanya sendiri, mengikuti kemanapun matanya bergerak. Gambar pada sampul buku saya ini menunjukkan Jibril menampakkan diri di berbagai tempat pada saat yg sama. Namun, ini bukan cara Muhamad menjelaskan apa yg dilihatnya. Apa yg dilihatnya bisa digambarkan sbg halusinasi visual. Ini terjadi pada berbagai kondisi non-psychiatric termasuk cerebral lesions, sensory deprivation, the administration of psychedelics & migraine.

Ada halusinasi yg bersifat sederhana, yi pasien melihat sinar, warna atau bentuk-bentuk geometris. Macam halusinasi ini sering timbul dlm occipital lobe epilepsy. Delusi dan halusinasi yg complex, spt yg dialami Muhamad terjadi pada serangan temporal lobe & kelainan neurologist lain spt Parkinson’s disease & Creutzfeldt–Jakob disease. Halusinasi ini biasanya merupakan gambaran sangat jelas dari binatang, manusia atau sosok-sosok mitologis spt malaikat, jin dan mahluk luar angkasa (extraterrestrials). Mereka bisa datang lewat pendengaran, perasaan dimulut dan bahkan dlm mimpi (auditory, gustatory, olfactory and even somatosensory hallucinations).

Halusinasi somatosensory dan kinesthetic biasanya diasosiasikan dgn kejang-kejang temporal lobe. Ini menjelaskan pengalaman Muhamad di goa Hira’ saat ia merasakan bahwa Jibril menggenggamnya dgn sebegitu kuat sampai ia kesakitan dlm perut bagian bawah (abdomen) sampai ia menyangka ia akan mati.
Periset sains, Scott Atran, menjelaskan, “Sudden alterations of activity in the hippocampus and amygdala can affect auditory, vestibular, gustatory, tactile, olfactory perceptions and lead to hallucinations involving voices or music, feelings of sway or physical suspension, the tastes of elixirs, burning or caressing, the fragrance of Heaven or the stench of Hell. For example, because the middle part of the amygdala receives fibers from the olfactory tract, direct stimulation of that part of the amygdala will flood co-occurring events with strong smells. In religious rituals, incense and fragrances stimulate the amygdala so that scent can be used to focus attention and interpretation on the surrounding events. In temporal-lobe epilepsy, the sudden electrical spiking of the area infuses other aspects of the epileptic experience with an odorous aura.”

Muhamad menggambarkan Jibril sbg memiliki 600 sayap. Inipun sulit dibayangkan. Buraq, kuda yg ditumpanginya pada malam ia terbang ke Yerusalem dan kesurga, memiliki kepala manusia dan sayap burung rajawali. Kecuali orang bersedia percaya dlm absurditas ini, jelaslah bahwa Muhamad sedang berhalusinasi.

Persian miniature from the mid-1500s depicting Mohammed ascending
to paradise astride the miraculous horse Buraq, surrounded by angels.
In Islamic lore, this event is called the “miraj,” or the Night Journey.
We call it: HALLUCINATION !


Sejarawan dan akademisi Muslim dari Mesir, Haykal, menggambarkan surga yg didatangi muhamad. Surga pertama terbuat dari perak murni dan bintang bergelantungan dari atapnya dgn rantai emas.” [Ini menunjukkan bahwa Muhamad tidak memiliki pengertian apapun ttg sifat bintang. Ia menyangka bintang sbg mirip lampu pohon natal yg bergelantungan dari atap langit. Ini memang konsisten dgn teori kosmologi Ptolemy yg dipercaya luas pada jaman itu]. Pada setiap bintang ada malaikat yg berjaga-jaga utk menghindari gendruwo naik kedlm tempat-tempat suci dan menghindari hantu-hantu yg diam-diam mendengarkan rahasia-rahasia surgawi. [Absurditas in juga dinyatakan dlm Qur’an, bahwa jin berdiri diatas sesama bahu mereka utk mendengarkan diskusi “Majelis Mulia, sampai mereka ditembak jatuh oleh bintang-bintang yg ditembakkan pada mereka spt peluru misil. Dijaman dulu orang menyangka bahwa meteorit adalah bintang-bintang yg berjatuhan (shooting stars).]

Disana, Muhamad menyalami Adam. Dan dalam keenam surga lainnya. ia berjumpa dgn Noah (Nuh), Aaron (Harun), Moses (Musa), Abraham, David, Solomon, Idris (Enoch), Yahya (Yohanes Pembaptis) dan Yesus. Ia melihat malaikat kematian, Azrail, yg tubuhnya begitu besar sampai matanya berjarak 70.000 hari perjalanan berbaris. [Sekitar 10 kali lebih besar dari jarak antara Bulan dan Bumi] Ia memiliki 100.000 batalyon dan melewatkan waktunya dgn menulis dlm sebuah buku raksasa nama-nama mereka yg mati atau dilahirkan. Ia melihat malaikat air mata yg menangis bagi dosa-dosa dunia; Malaikat Pembalas dgn wajah yg besar yg tertutup oleh bisul-bisul yg menguasai api dan duduk dlm singgasana berapi; dan satu lagi malaikat raksasa yg tubuhnya terdiri dari setengah salju dan setengah api yg dikelilingi oleh koor surga yg terus menerus menangis: `Ya Tuhan, Kau menyatukan api dan salju, menyatukan semua abdimu utk tunduk pada hukum-hukumMu. Dlm surga ketujuh dimana jiwa-jiwa orang baik tinggal ada malaikat yg lebih besar dari seluruh dunia dgn 70.000 kepala; setiap kepala memiliki 70.000 mulut dan setiap mulut memiliki 70.000 lidah dan setiap lidah berbicara dlm 70.000 bahasa dan tidak habis-habisnya menyanyikan pujian kpd Sang Maha Kuasa.’


Mahluk berkepala banyak menurut uncle Mohamad !


Muhamad memang memilki daya khayal yg luar biasa. Namun pemikirannya jelas rancu. Mahluk-mahluk diatas itu bahkan sulit dibayangkan, apalagi eksis. • Muhamad melihat malaikat yg ukurannya lebih besar dari bumi ini, yg sebenarnya sebuah oxymoron.
• Malaikat ini memiliki 70.000 kepala; setiap kepala memiliki 70.000 wajah. (Total wajah yg dimilikinya adalah : 4.900.000.000)
• Setiap wajah memiliki 70.000 mulut
(Total mulut : 343.000.000.000.000)
• Setiap mulut memiliki 70.000 lidah
(Total lidah : 24.010.000.000.000.000.000)
• Setiap lidah mampu bercakap dlm 70.000 bahasa (Total bahasa yg mampu digunakannya : 1,680,700,000,000,000,000,000,000)

Mengapa Allâh merasa perlu menciptakan mahluk monster spt itu hanya agar mahluk itu bisa memujanya tanpa akhir dlm berbagai bahasa pula? Mahluk macam itu hanya bisa dibayangkan oleh orang yg sedang menderita halusinasi akut. Bayangkan seseorang mengisi rumahnya dgn ratusan computer dan alat perekam dan memprogram mereka agar alat-alat itu memuja sang pemilik, setiap waktu dalam segala macam bahasa. Bukankah itu gila? Auwloh adalah perwujudan ego Muhamad dan segalanya yg ia inginkan. Psikologi auwloh merefleksikan psikologi Muhamad. Sbg seorang narsisis, ia memiliki kehausan besar agar dipuja, begitu pula tuhannya yg tidak lain hanyalah perwujudan dari dirinya sendiri.

Muhamad adalah orang yg suka menyendiri. Ia menikahi seorang wanita penting, tapi ia sendiri bukan orang penting dan bahkan diejek oleh sukunya sendiri. Halusinasinya, yg ditafsirkan oleh isterinya sbg tanda kenabian, adalah suplai narsistiknya yg paling besar. Saat halusinasinya berhenti, ia menjadi depresif.

Vaknin mengatakan: “Depresi adalah komponen besar dlm sifat emosional sang narsisis. Namun ini sebagian besar adalah karena absen-nya suplai narsisistik tsb. Ini sebagian besar ada hubungannya dgn nostalgia kpd saat lebih bahagia, penuh pemujaan dan perhatian dan tepukan tangan… Depresi adalah sebuah bentuk agresi. Dlm bentuk lain, agresi ini ditujukan kpd sang penderita depresi ketimbang kpd lingkungannya. Agresi yg di-represi dan di-mutasi ini adalah karakter baik narsisme maupun depresi. Namun, sang narsisis, walaupun depresi, tidak pernah melupakan narsisme-nya: grandiositas-nya, perasaan bahwa segala-galanya merupakan hak miliknya, kesombongannya dan kekurangan rasa empati.”

Ini tidak hanya menjelaskan sebab-musabab depresi Muhamad dan pemikirannya utk bunuh diri namun juga mengapa ia tidak pernah menuntaskan bunuh diri tsb. Narsisis jarang bunuh diri. Betapa anehnya bahwa dlm setiap kali Muhamad mencoba utk bunuh diri, Jibril datang menyelamatkannya, dan proses itu diulanginya kembali. Narsisis biasanya tidak pernah menuntaskan bunuh diri mereka, Mereka hanya mengungkapkannya guna mencari simpati.

“Bgm mungkin seorang narsisis yg menganggap diri sbg seorang Colossus, sbg orang yg teramat penting, sbg pusat alam semesta, lalu bunuh diri? Agatha Christie menulis dlm Dead Man’s Mirror: “Ia jauh lebih mungkin akan menghancurkan orang lain – seseorang yg berani mengusiknya… Tindakan macam itu bisa dianggap penting – malah suci! Namun menghancurkan diri sendiri? Penghancuran seorang Diri macam itu?”.

Berbeda dgn pasien bipolar yg memerlukan perawatan medis utk mengobati depresi mereka, seorang narsisis hanyalah memerlukan “satu dose suplai narsistik utk mengangkat perasaannya dari depresi menjadi manic euphoria yg sangat tinggi”, kata Vaknin.

TEMPORAL LOBE EPILEPSY
Temporal lobe epilepsy (TLE) didefinisikan thn 1985 oleh the International League Against Epilepsy (ILAE) (Liga Internasional Melawan Epilepsi) sbg sebuah kondisi yg ditandai oleh kejang-kejang tubuh yg tidak diprovokasi dan berulang-ulang yg berasal dari the medial or lateral temporal lobe. Kejang-kejang tubuh yg di-asosiasikan dgn TLE terdiri dari simple partial seizures atau kejang-kejang sebagian tubuh tanpa kehilangan kesadaran (dgn atau tanpa aura/peringatan) dan complex partial seizures (yi. dgn kehilangan kesadaran). Sang penderita kehilangan kesadaran selama sebuah complex partial seizure karena kejang-kejangnya melibatkan kedua temporal lobes, yg mengakibatkan gangguan ingatan.

Kejang-kejang Muhamad mencakup kedua macam tipe diatas. Kadang ia jatuh dan kehilangan kesadaran, dan kadang tidak. Menurut sebuah hadis, selama konstruksi Ka’bah, sebelum ia menerima pemberitahuan akan diangkat sbg nabi, Muhamad jatuh ke tanah tanpa sadar dgn kedua matanya mengarah pada langit. Pada saat itu ia kehilangan kesadaran. Ini jelas tanda kejang-kejang epilepsi (ayan). Menurut situs emedicine.com, “90% pasien dgn abnormalitas temporal interictal epileptiform pada EEG mereka pernah mengalami kejang-kejang.”
btw, keterangan ttg EEG: Klik-Link.

EEG showing epilepsy 7-283


Kami tahu bahwa sejak masa kecilnya, Muhamad mengalami kejang-kejang. Ia melihat dua lelaki dlm jubah putih membuka dadanya dan mencuci jantungnya dgn salju putih. Neurosurgeon AS dan pionir ahli bedah otak, Harvey Cushing, melaporkan ttg seorang anak lelaki dgn sebuah cystic glioma dlm temporal lobe bagian kanan mengalami halusinasi kuat ttg seseorang dlm tiga dimensi dlm jubah putih. Neurologis Irlandia-AS, Robert Foster Kennedy (1884-1952) adalah salah seorang yg pertama yg mengidentifikasikan halusinasi kuat yg bersifat audio-visual (bisa didengar dan dilihat) yg terjadi diluar tubuh penderita, sbg berasal dari temporal lobe.


Memonitor Epilepsi Ttg masa mudanya, Muhamad mengatakan:
Saya berada diantara anak-anak lelaki Quraish, mengangkat batu-batu spt yg digunakan anak-anak utk bermain. Kami semua membuka baju kami, masing-masing membuka lapisan atas (selembar kain) dan dililitkan disekeliling leher sambil mengangkat batu-batu itu. Saya berbolak-balik bersama mereka ketika sebuah sosok yg tidak nampak menampar saya sampai sakit sambil mengatakan, ‘Kenakan bajumu’. Jadi saya mengenakannya dan memulai mengangkat batu-batu itu dileher saya, berbeda dari teman-teman saya.”

Nampaknya sosok-sosok dlm halusinasi Muhamad se-kasar dan se-agresif Muhamad.

An epilepsy sufferer, hooked to brain-monitoring equipment, sits with her seizure-predicting dog. (A/P Wide World Photos. Reproduced by permission.)
Gambar ini akan digunakan utk menjelaskan hubungan hewan dan epilepsi


Sadeghian, Muslim asal Teheran ini mengatakan, ia mendasarkan penemuannya atas pengalamannya dlm bidang kesehatan mental dan 5 thn meriset dokumen bersejarah ttg biografi Muhamad. “Selama pekerjaan saya di RS psikiatris, saya sering menemui pasien yg menyatakan diri NABI. Ini memang pemandangan lazim di Rumah Sakit Syaraf di mana pun.” Ia adalah neuropsychologist sejak 1988, dan mendapatkan ijazah S3 dari Alliant International University di San Diego, dan bekerja di Massillon State Hospital. Sadeghian mengatakan, ia tidak percaya Muhamad sakit secara mental, tetapi bahwa ia menderita “complex partial seizures,” yg gejala-gejalanya adalah keringat berlebihan, tubuh gemetaran, olfactory, auditory and visual hallucinations, epigastric sensations (rasa tidak sedap di mulut), & “hyper-religiosity.”

“Ada Muslim yg benci dgn kesimpulan saya ini dan menakut-nakuti saya dgn mengatakan ‘Remember Salman Rushdie.’ Saya mengorbankan segalanya — keluarga, warisan dan teman-teman saya — utk datang kesini, shg saya dapat menikmati kebebasan. Kalau saya tidak dapat melakukan ini, apa gunanya mendapatkan kebebasan?”

Footnote:

[37] http://samvak.tripod.com/journal79.html.

[38] The Cult of Narcissist http://samvak.tripod.com/journal79.html

[39] Sir William Muir: The Life of Mohamet, Vol. 3 Ch. XII Page 115-116

[40] Ibn Sa’d, Tabaqat Vol 8: p 195

[41] Ibid.

[42] Diterbitkan oleh Entesharat-e Elmiyyeh Eslami Tehran 1377 lunar H. Tafseer dan terjemahan kedalam bahasa Farsi oleh Mohammad Kazem Mo’refi.

[43] Sahih Bukhari Vol.7 Book 67, No.424

[44] Sahih Bukhari Vol.9 Book 89, No.260

[45] Sahih Muslim 8.3424, 3425, 3426, 3427, 3428

[46] http://news.bbc.co.uk/2/hi/middle_east/6681511.stm

[47] Tabaqat, Volume 1, hal. 369

[48] Sahih al-Bukhari, Volume 6, Book 60, Number 311)

[49] baju pelindung tentara dari rangkain cincin besi.

[50] Sirat Ibn Ishaq, hal. 823.


Penerjemah:
Adadeh, Ali5196, Pod-Rock (Faithfreedom)

Disadur dari:
http://www.indonesia.faithfreedom.org/forum/viewtopic.php?t=14106

addthis

5 Balasan ke Mohamad History

  1. wong Fei Hung Muslimin mengatakan:

    HITLER PENGANUT KHATOLIK ROMA

    Hitler Penganut Katholik Roma

    Penandatanganan Reichskonkordat pada 20 July 1933.
    Dari kiri ke kanan: German Vice-Chancellor Franz von Papen,
    representing Germany, Giuseppe Pizzardo, Cardinal Pacelli,
    Alfredo Cardinal Ottaviani,
    Para Jesuit telah mempersiapkan Perang Dunia II secara rahasia dan Hitler adalah mesin perang yang dibentuk dan dibiayai oleh Vatikan untuk menaklukkan dunia demi KeKatolikan Roma. Hitler, Mussolini, dan Franco merupakan pahlawan bagi iman Katolik Roma. Mereka dirancang untuk hmenang dan menaklukkan dunia, dan membentuk kerajaan seribu tahun bagi Paus. Di belakang layar, para Jesuit mengatur Gestapo. Semuanya ini didokumentasikan dalam ‘The Secret History of The Jesuits’.

    Bacalah pernyataan pers dari diktator Spanyol, Franco, yang diterbitkan pada tanggal 3 Mei 1945, yang merupakan hari kematian Hitler. Artikel itu mengatakan, ”Adolf Hitler, seorang anak Gereja Katolik, meninggal karena mempertahankan Kekristenan.” Kemudian lanjutnya, ”Diatas kematiannya tetap meninggalkan seorang figur dengan moral yang berkemenangan. Karena kemartirannya, Tuhan memberikan Hitler mahkota Kemenangan.”

    Hitler sendiri menyatakan, ”Saya belajar banyak dari Ordo Jesuit. Sampai sekarang, tidak satupun di dunia ini yang lebih besar daripada organisasi gereja Katolik. Saya kagum dengan organisasi ini dan menerapkannya dalam kehidupan partai saya.”

    16 November 1922, Parlemen Italia memilih Benito “Il Duce” Mussolini menjadi pemimpin. Sebelumnya Mussolini telah mengadakan negosiasi-negosiasi rahasia dengan para agen Pius XI. Salah satunya adalah Pastor Tacchi Venturi, sekretaris Serikat Yesus (Jesuit) dan bapak rohani Mussolini, yang telah melakukan misinya dengan sangat baik.

    Berawal di Italia ini, tahun 1922 paham fasisme mulai disebarkan oleh Jesuit di Eropa. Mussolini menetapkan Katolik Roma sebagai agama negara, menghadiahkan Tahta Suci 1.750.000.000 lira (± _ 20.000.000) dan kekuasaan atas daerah kota Vatikan. Italia telah membiarkan dirinya jatuh ke tangan Roma yang licik.

    Benito Mussolini, pemimpin gerakan fasisme Italia, terlahir ke dunia di kota Predappio, Italia pada tanggal 21 Mei 1883. Pada tahun 1914, Musolini menerbitkan suratkabar yang beraliran fasis dan mendirikan organisasi fasis.
    Seusai Perang Dunia I, gerakan fasisme ini berkembang menjadi gerakan politik dan pada tahun 1921, Mussolini terpilih sebagai anggota parlemen Italia.

    Tahun berikutnya, ketika pemerintahan Luigi Facta gagal, Mussolini diperintah oleh Raja untuk membentuk pemerintahan. Selama memerintah, Mussolini menerapkan dikatorisme dan sistem sensor yang sangat ketat.

    Dari Italia, paham fasisme memasuki Jerman. Adolf Hitler menerimanya dengan terbuka. Tahun 1923, Facism (pimpinan Mussolini) bergabung dengan National-Socialism (pimpinan Hitler); Mussolini sangat bersahabat dengan Hitler.

    Di Italia, partai Katolik Don Sturzo mendukung Mussolini untuk berkuasa. Sedangkan di Jerman, Monseigneur Kaas, kepala partai “Catholic Centre” juga melakukan hal yang sama kepada Hitler, dan dalam kedua peristiwa itu konkordat ditandatangani.

    30 Januari 1933, Adolf Hitler, pemimpin Partai Nazi di Jerman, menjadi kanselir dan membentuk Pemerintahan ke-Tiga (The Third Reich) yang brutal. Dia mendirikan kamp-kamp konsentrasi didirikan di berbagai tempat untuk menghabisi kaum Yahudi. Juga terdapat 45 kamp konsentrasi di Jerman, dengan 40.000 tahanan yang berasal dari berbagai latar belakang pandangan politik, tetapi kebanyakan adalah yang liberal.

    26 April tahun 1933, polisi rahasia pemerintah atau Gestapo, didirikan oleh rezim Nazi Jerman. Pendiri Gestapo adalah Herman Goering, seorang perwira tinggi Jerman yang merupakan orang dekat Hitler. Tujuan didirikannya Gestapo adalah untuk menangkap dan menghukum orang-orang yang dianggap penentang Nazi dan Hitler.

    Pada tanggal 20 Juli 1933, Terjadi perjanjian (konkordat) antara Jerman dan Tahta Suci (Vatikan). Para Uskup bersumpah untuk setia kepada para pemerintah Jerman (Nazi) dan negara. Ini menunjukkan betapa sangat erat dan saling mendukung hubungan antara Gereja Katolik dengan NAZI Jerman itu.

    Yang ikut dalam penandatanganan itu adalah Kardinal Pacelli (kemudian menjadi Paus Pius XII). Sebelum tahun 1933 dia adalah Sekretaris Negara Vatikan. Juga ada Franz von Papen, seorang nazi yang kejam dan seorang Katolik Roma yang setia dan juga diplomat penting Hitler dan agen Vatikan yang menolong Hitler untuk berkuasa. Lalu ada pula seorang wali gereja Vatikan yang kurang terkenal, Montini, yang kemudian menjadi Paus Paulus VI.

    Hitler adalah seorang yang setia kepada Vatikan. Dia berjanji untuk “mencekik” para anti-paus. Mereka (Pius XI, Pius XII, Hitler) mengirimkan kaum liberal dan orang Yahudi ke kamp konsentrasi. Nasib bangsa Yahudi sudah ditentukan (oleh Hitler): dibunuh atau disuruh bekerja sampai kehabisan tenaga kemudian dibinasakan.

    Walter Schellenberg, mantan kepala spionase Nazi membuat pernyataan ini: “Organisasi S.S. dibentuk oleh Himmler berdasarkan prinsip-prinsip dari Ordo Jesuit. Peraturan dan Latihan Kerohanian yang disusun oleh Ignatius Loyola adalah model yang ditiru habis oleh Himmler. Julukan Himmler sebagai kepala tertinggi S.S. adalah setara dengan Jenderal Jesuit dan seluruh struktur S.S. adalah tiruan dari hierarki ordo dalam Gereja Katolik.”

    Adolph Hitler mengatakan: “Saya yakin akan kekuasaan besar dan pentingnya Kekristenan, dan saya tidak akan membiarkan agama lain manapun muncul ke permukaan. Maka dari itu saya beralih dari Ludendorff dan menolak buku yang ditulis Rosenberg. Buku itu ditulis oleh seorang Protestan. Buku itu bukan buku partai. Buku itu tidak ditulis olehnya sebagai bagian dari Partai. Biarkan saja para Protestan berdebat dengan dia… Sebagai seorang Katolik saya tidak pernah merasa suka berada dalam gereja Injili ataupun di dalam strukturnya. Makanya saya akan menemui kesulitan jika saya mencoba untuk menjalin hubungan dengan gereja-gereja Protestan. Penginjil-penginjil atau orang-orang Protestan akan menolak saya. Tetapi anda tidak perlu khawatir: Saya akan melindungi hak dan kebebasan dari gereja-gereja tersebut dan tidak akan membiarkan mereka dicampuri, jadi anda tidak perlu khawatir tentang masa depan Gereja Injili.”

    Hitler juga bersedia berdiskusi dengan uskup mengenai pandangannya terhadap pertanyaan yang berkenaan dengan bangsa Yahudi: “Mengenai bangsa Yahudi, saya hanya menjalankan kebijakan yang sama yang telah diterapkan oleh Gereja Katolik selama 1500 tahun, dimana sudah ditetapkan bahwa bangsa Yahudi adalah bangsa yang berbahaya dan harus dipaksa masuk ke dalam ghetto (perkampungan khusus untuk orang Yahudi), karena Gereja mengetahui seperti apa orang Yahudi itu. Saya tidak meletakkan sebuah ras diatas agama, saya betul-betul melihat sesuatu yang berbahaya dari ras ini terhadap Gereja dan negara, dan mungkin saya telah memberikan pelayan agung terhadap kekristenan.”

    Anda akan temukan dalam Mein Kampf (buku karangan Hitler), dia berkata: “Disini, aku meyakini bahwa aku bertindak sebagai utusan dari Pencipta kita. Dengan melawan bangsa Yahudi, berarti aku melakukan pekerjaan Tuhan”.

    Hitler mengatakan kembali dalam perayaan natal Nazi tahun 1926: “Kristus adalah pejuang terbesar yang lebih awal dalam pertempuran melawan musuh dunia, yaitu bangsa Yahudi… Pekerjaan yang dimulai oleh Kristus tetapi tidak bisa diselesaikan, Aku –Adolf Hitler– akan menyelesaikannya.”

    Penulis biografi John Toland menulis tentang agama Hitler: “Masih seorang anggota didalam kebaikan yang berdiri pada Gereja Roma di samping kebencian tentang hirarki nya, ia membawa di dalam pengajarannya bahwa orang-orang Yahudi adalah pembunuh Tuhan. Pembasmian, oleh karena itu, harus dilakukan”

    Jadi, Hitler itu melakukan pembantaian terhadap bangsa Yahudi karena dia dendam, Tuhannya Hitler yaitu Yesus Kristus telah dibunuh oleh orang Yahudi. Oleh karena itu sebagai seorang Kristen (Katolik) yang taat, maka Hitler membalaskan dendam kematian Yesus itu dengan mengirim orang-orang Yahudi ke kamp-kamp konsentrasi dan memasukkan mereka ke kamar gas untuk menghirup gas beracun sampai mati.

    Di Reichstag dalam pidatonya tahun 1938, Hitler lagi mengemukakan religius asal dari Perang Salib nya. “Aku percaya hari ini bahwa aku sedang bertindak sebagai perwujudan dari Sang Pencipta Yang Maha Kuasa. Dengan memerangi bangsa Yahudi, aku sedang memperjuangkan pekerjaan Tuhan.”

    Hitler menganggap dirinya sendiri sebagai sebagai seorang Katolik sampai kematiannya. “Aku sekarang sebagaimana sebelumnya adalah seorang Katolik dan akan selalu begitu,” ia menceritakan hal itu kepada Gerhard Engel, salah satu dari jenderalnya, pada 1941.

    Manakala Hitler berhasil selamat dari percobaan pembunuhan terhadapnya di Munich pada bulan November, 1939, ia memberi pujian untuk hal itu. “Sekarang aku dengan sepenuhnya telah berisi,” ia berseru. “Fakta bahwa aku meninggalkan Burgerbraukeller lebih awal dari biasanya adalah suatu bukti-bukti yang menguatkan bahwa Pemeliharaan baik telah memberi aku kesempatan untuk menyelesaikan tujuanku.” surat-surat kabar Katolik mengumumkan bahwa itu adalah sebuah pekerjaan yang ajaib yang telah melindungi Fuhrer (pemimpin) mereka. Satu kardinal, Michael Faulhaber, mengirim sebuah telegram yang menginstruksikan bahwa sebuah Te Deum harus dinyanyikan di katedral Munich, “untuk berterima kasih kepada Tuhan atas nama archdiocese untuk penyelamatan yang beruntung kepada Fuhrer.” Sri Paus juga mengirim ucapan selamat pribadi khususnya!

    Ketika Hitler menyerang Rusia, Sri Paus didepan umum menguraikan serangan Hitler ke Rusia sebagai “keberanian berjiwa besar di dalam pertahanan bagi pondasi kebudayaan Kristen.” Beberapa uskup Jerman secara terbuka mendukung invasi Hitler ke Rusia, dan menyebutnya sebagai “Perang salib Eropa.” Seorang uskup mendesak semua orang Katolik untuk berjuang untuk “sebuah kemenangan yang akan mengijinkan Eropa untuk terbebas lagi dan akan berjanji semua bagi negara-negara sebuah masa depan yang baru.”

    Photobucket – Video and Image Hosting

    Tiga orang pahlawan iman Katolik Roma adalah Hitler, Mussolini dan Franco. Semuanya menandatangani konkordat dengan Vatikan. Ketiganya merupakan pahlawan bagi iman Katolik Roma dan dirancang untuk menang dan menaklukkan dunia, dan membentuk kerajaan seribu tahun bagi Paus.

    Photobucket – Video and Image Hosting

    Mussolini membentuk aliansi militer dengan Nazi Jerman pada tahun 1939 dan tak lama kemudian meletuslah Perang Dunia Kedua. Nazi pertama-tama mencaplok Sudetenland, dengan bantuan Partai Sosial Kristen dan Republik tersebut pun terbagi. Tetapi Hitler berkeinginan untuk mencaplok Slovakia dan berkuasa penuh atasnya. Hal ini tidak terlalu sulit bagi Hitler karena sebagian besar pemimpin politik Slovakia adalah pengikut Katolik, termasuk seorang pastor bernama Hlinka (seorang Jesuit).

    Kita mengetahui, berdasarkan Kanon (hukum dalam lembaga Katolik), tidak seorang pastor pun bisa mempunyai kedudukan baik di publik maupun di dunia politik tanpa persetujuan Tahta Suci. Jadi karena persetujuan Tahta Sucilah, seorang pastor dapat mempunyai kedudukan dalam parlemen Cekoslowakia.

    Pada tanggal 1 September 1939. Pagi-pagi buta, Komando Tertinggi Jerman mengeluarkan perintah harian yang berbunyi: “Saat penuh cobaan telah tiba. Tatkala semua upaya lain telah habis, maka senjatalah yang harus memutuskan. Kami memasuki pertempuran ini dengan menyadari bahwa keadilanlah yang menuntun kami. Kami percaya akan Fuehrer, pemimpin kami. Maju, BERSAMA TUHAN, demi Jerman.”

    Saya sengaja menulis kata-kata “bersama Tuhan” diatas dengan huruf kapital, adalah untuk menunjukkan bahwa erat sekali kaitan antara motivasi agama -dalam hal ini Katolik- dengan ambisi-ambisi NAZI.

    Pada saat Nazi menyapu habis negara Balkan, dalam perjalanannya untuk menyerang Rusia, Yugoslavia menjadi negara yang dikuasai oleh Nazi. Paus pada saat itu memandang rendah para kaum Orthodoks Rusia. Mereka adalah orang-orang Serbia dan harus berbaris untuk kemudian dibunuh di Yugoslavia. Mereka hanya diberi satu pilihan: menjadi Katolik atau mati.

    Hitler mengakui bahwa dia belajar banyak dari Ordo Jesuit. Organisasi S.S. dibentuk berdasarkan prinsip-prinsip Ordo Jesuit, baik itu berdasarkan peraturan-peraturannya, maupun latihan spiritual yang “diresepkan” oleh Ignatius de Loyola; sedangkan struktur perintah/birokrasi meniru susunan hirarki Gereja Katolik. Salah satu prinsip yang dijunjung tinggi pihak kepausan adalah pembunuhan yang terorganisir, yaitu inkuisisi. Apakah inkuisisi hanya terjadi di masa lalu? Tidak! Apakah bisa terjadi pada masa sekarang? Ya. Mengapa? Karena prinsip yang dijunjung tinggi itu tidak berubah!

    Hitler, Joseph Goebbel, Himmler dan sebagian besar anggota Nazi adalah Katolik. Hitler sendiri menganggap Himmler, pimpinan Gestapo, sebagai Ignatius de Loyola-nya Nazi. Hitler mempunyai alasan untuk menyebutnya
    demikian. Kurt Heinrich Himmler, Reichsfuhrer (Jenderal) S.S., Gestapo dan pasukan polisi Jerman adalah seorang yang paling banyak diisi oleh paham Kekatolikan dibandingkan dengan anggota-anggota Katolik lainnya dalam grup Hitler. Ayahnya seorang direktur sekolah Katolik di Munich (Muenchen), guru pribadi Pangeran Ruprecht dari Bavaria. Saudara laki-lakinya seorang biarawan Benedictine. Pamannya memegang posisi penting di Mahkamah Bavaria.

    Para Katolik adalah para tuannya Nazi Jerman yang melaksanakan prinsip-prinsip kepausan. Gereja Roma merasa berhak untuk memusnahkan siapa saja, baik dengan cara lambat atau cepat, yang menghalanginya, yaitu orang-orang liberal dan kaum Yahudi, dikirim ke Auschwitz, Dochau, Belsen, Buchenwald dan kamp-kamp kematian lainnya.

    Vatikan sendiri cuci tangan terhadap kekejaman ini, seperti yang dinyatakan oleh Pius XII kepada Dr.Nerin F. Gun, jurnalis Swiss yang mempertanyakan mengapa paus tidak menolong orang-orang malang tersebut: “Kami mengetahui bahwa, karena asalan politik, adanya pembunuhan kejam terjadi di Jerman, tetapi kami tidak pernah diinformasikan seperti apa penindasan Nazi yang tidak berperikemanusiaan itu”.

    Tahta Suci diketahui terlibat dalam pendeportasian 528 misionaris Protestan dari penjara, oleh orang-orang Jepang, di Kepulauan Pasifik dan diasingkan ke kamp-kamp konsentrasi di Filipina. Cukup banyak bukti yang menyatakan keterlibatan Gereja Roma dalam hal-hal yang dilakukan Oustachi, Nazi, pemusnahan kaum Ortodoks dan bangsa Yahudi. Gereja Roma tidak pernah mengakui bahwa setiap warga negara mempunyai hak yang sama. Gereja Katolik harus bertanggung jawab karena telah menghabisi nyawa ratusan juta manusia sejak awal berdirinya agama mereka.
    Photobucket – Video and Image Hosting

    Mussolini giving the Roman salute. Mussolini funneled arms and money to Hitler
    to help his rise to power.

    Photobucket – Video and Image Hosting

    Nazi Coin with Catholic church on it

  2. anak2 mengatakan:

    ………..satu2nya agama yang boleh dusta,taqqiyah.

    aneh bin muhammad.
    sehingga turunannya jadi,penipu dan koruptor.

  3. supri mengatakan:

    banyak yg tidak berdasar. pembuatan artikel sepertinya penuh dengan emosi dan sentimen yg berlebihan. ceritanya malah banyak yg direkayasa. kurang banyak refrensi sehingga asal-asalan. penulis baru sedikit tahu tapi terlalu banyak komentar jadi malah aneh. dan kalau ditelaah dari segi bahasa penulisan sepertinya sang penulis yg terkena paranoid.

  4. Anonim mengatakan:

    penulise edan…bar metu seko RSJ ,,,wkwkwkwkkw
    mg ndang tobat….ndang moco syahadat…..

  5. adik muhammad mengatakan:

    kalau sudah terpojok pasti cuma kalimat ini yg keluar “Bagimu ya agamamu,bagiku ya agamaku”. tanpa tau harus berbuat apa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: