Catatan Tentang Sejarah Islam



The Quran’s Historicity

MEMPERTANYAKAN BUKTI
HISTORIS QURAN

Sebelum 750 AD (sekitar 100 tahun setelah wafatnya Muhamad) tidak ada satupun dokumen yang dapat memberikan gambaran tentang perioda pembentukan Islam. Tidak ada sedikitpun keterangan/kesaksian dari masyarakat Islam selama 150 tahun pertama mereka, antara masa penjajahan Arab pertama pada permulaan abad ke 7, sampai timbulnya literatur pertama Islam abad ke 8 (Riwayah SIRA-MAGHAZI).

Satu-satunya hal yang kita miliki sebelum tahun 750 itu terdiri dari ‘hampir seluruhnya pernyataan yang tidak jelas asalnya’ (“almost entirely of rather dubious citations in later compilations’’[Humphreys]).

Memang luar biasa bahwa Islam tidak dapat menunjukkan satupun bukti sejarah buku suci mereka bahkan dalam waktu 100 tahun setelah kelahiran nabi mereka.

Sejumlah cerita dalam Quran berasal dari abad ke-2 literatur Yahudi:

  • cerita Cain & Abel (Kain & Habil) dalam dalam Surah 5.31-32 dipinjam dari Targum Jonathan ben Uzziah dan Mishnah Sanhedrin 4.5;

  • cerita Abraham, berhala dan penghancuran mereka dalam Sura 21.51-71 adalah dari Misdrash Rabbah ;

  • cerita Solomon dalam Sura 27.17-44, tentang burung yang dapat berbicara dan ratu Sheba yang mengangkat gaunnya karena menyangka lantai mengkilap sebagai air, diambil dari Targum kedua cerita Esther.

Bahkan cerita Gunung Sinai diangkat dan mengambang diatas kepala rakyat Yahudi sebagai ancaman kalau menolak hukum Yahwe (Surah 7.171) berasal dari The Abodah Sarah. Dan seterusnya dst.

Dalam Surah 17.1 terdapat laporan tentang perjalanan Muhamad dari mesjid suci ke mesjid terjauh. Dalam tradisi berikutnya, ayat ini menunjuk kepada Muhammad menaiki langit ke 7, setelah sebuah perjalanan malam ajaib (MI’RAJ) dari Mekah ke Yerusalem, diatas kuda bersayap bernama Buraq. Ini berasal dari berbagai sumber : Testamen Ibraham (~200), Rahasia Enoch (chap.1.4-10 and 2.1), dan buku Persia tua berjudul Arta-I Viraj Namak.

Quran menunjukkan bahwa Muhammad memutuskan hubungan dengan orang-orang Yahudi pada tahun 624 dan memindahkan arah Kiblat (Surah 2.144 and 149-150) dari Yerusalem ke Mekah. Namun, dokumen yang ada dalam kepemilikan kami, yaitu Doctrina Iacobi Chronicler (dari tahun 661) dan dokumen Usup Sebeos (dari tahun 660) menunjukkan hubungan baik antara kaum Yahudi dengan kaum Ismaeli yang dahulu dikenal sebagai kaum Saracen. Sumber berikut dari Armenia bahkan menyebut gubernur Yerusalem adalah orang Yahudi pada tahap akhir masa penjajahan/conquest. Jadi, testimoni-testimoni sejarah ini bertentangan dengan kesaksian dalam Quran.

MEKAH

Dalam Surah 3.96 dan 6.92 terdapat sebutan Mekah (Bakkah) yang merupakan tempat perlindungan pertama umat manusia, atau the ‘’Mother of all settlement’’ Adam menempatkan batu hitam dalam Ka’bah pertama, namun dalam Sura 2.125-127 disebutkan bahwa Abraham dan Ishmael yang membangunnya kembali beberapa tahun kemudian.

Riset oleh Patricia Crone dan Michael Cook menunjukkan bahwa Mekah tidak disebut-sebut dalam dokumen arkeologi sebelum permulaan abad ke 8. Ingatlah bahwa ini merupakan 1 abad setelah wafatnya Muhamad.

Bahkan lebih aneh lagi adalah pernyataan kaum Muslim bahwa selain merupakan kota tua dan besar, Mekah juga pusat dagang Arab di abad ke7 dan sebelumnya. Pernyataan ini lebih mudah diperiksa kebenarannya karena bukti-bukti dokumen dari jaman itu cukup banyak.

Dari riset ekstensif Bulliet bisa dikatakan dengan pasti bahwa pernyataan kaum Muslim ini SALAH. Ini dibuktikan lebih lanjut oleh Groom dan Muller yang mengatakan bahwa Mekah tidak mungkin berada pada rute perdagangan karena secara geografis ini berarti orang harus mengadakan de-tour (jalan memutar yg lebih panjang, yg justru bertentangan dengan logika ekonomi kaum pedagang) ketimbang melewati rute normal, yaitu melalui jalur barat. (It would have entailed a detour from the natural route along the western ridge.)

Bahkan Patricia Crone menambahkan ‘’Mekah adalah tempat gersang dan kering dan tempat-tempat macam itu bukan pilihan pedagang. Mengapa karavan harus turun kedalam lembah gersang Mekah kalau mereka dengan mudah dapat berhenti di Ta’if?”

Ia juga mempertanyakan, komoditi macam apa di wilayah Arab saat itu yg bisa ditransportasi melewati jarak jauh dan alam kering, dan tetap bisa dijual dengan mendapatkan keuntungan yang cukup besar untuk mendukung pertumbuhan sebuah kota yang kedudukannya tidak strategis itu?”

Faktanya adalah, pada abad-abad tidak lama menjelang kelahiran Muhamad di tanah Arab ini tidak ada satupun jalur pedagangan internasional, apalagi di Mekah. Ternyata kebanyakan data mengenai asal pernyataan “Mekah sarang dagang” ini adalah gara-gara riset tidak teliti seorang Jesuit, Henry Lammens, seorang “akademik yang tidak reliable”.

Lammens menggunakan sumber-sumber abad pertama (seperti orang-orang Romawi, Periplus dan Pliny) dan bukannya sumber-sumber sejarawan Yunani yang hidup lebih dekat pada masa tersebut seperti Cosmas, Procopius dan Theodoratos (P. Crone).

Kenyataannya, di abad pertama, jalur perdagangan Yunani antara India dan negara-negara Mediterania sepenuhnya bersifat maritim. Silahkan anda membuka atlas untuk mengerti mengapa. Tidak ada gunanya mengangkut barang dagangan melewati jalan darat yang cukup jauh jika jarak itu bisa ditempuh dalam separuh waktu lewat sungai/laut. Selain lebih cepat dan menjaga agar komoditi dagangan tidak rusak termakan waktu, juga lebih hemat dalam biaya dan resiko perjalanan. Logika pedagang mana yg mau mengambil jalan/rute yg sama sekali tidak ekonomis itu?

Menurut Nn. Croone, pada masa kaisar Dioclesias, lebih murah bagi kerajaan Romawi untuk mengangkut gandum lewat laut sepanjang 780 km (1,250 miles) ketimbang mengangkutnya lewat jalan darat sepanjang 30 km (50 miles). Mengapa para pedagang dari India mengirim lewat laut barang dagangan mereka, menurunkannya di pelabuhan Aden dan meneruskan perjalanan di pundak onta sepanjang 780km lewat gurun gersang?

Jika Lammens melakukan riset secara benar, ia juga akan melihat bahwa jalur perdagangan Yunani-Romawi dengan India runtuh pada abad 3 AD (sesudah Masehi), sehingga pada jaman Muhammad tidak ada jalur darat maupun pasar Romawi yang menjadi tujuan barang dagang tersebut. Croone juga menunjukkan bahwa, seandainya Lammens meluangkan waktu untuk membaca sumber-sumber Yunani kuno, ia akan menemukan bahwa orang-orang Yunani — tujuan barang dagangan tsb — belum pernah mendengar nama kota Mekah. Kalau memang tempat itu begitu penting, tentunya mereka yang akan menerima barang dagangan tersebut pasti mengetahui eksistensinya. Namun, kita TIDAK MENEMUKAN SEDIKITPUN KETERANGAN, kecuali bahwa orang Yunani menyebut kota Ta’if dan Yathrib (kemudian dinamakan Medina), juga Khaybar di bagian utara. Tidak adanya sebutan Mekah dalam dokumen historis memang merupakan fakta problematik dalam membuktikan keberadaan sebuah kota yang dianggap pusat kelahiran Islam.

Bahkan terdapat kebingungan dalam tradisi Islam tentang dimana sebenarnya letak Mekah. Menutut riset J. van Ess, baik pada masa perang sipil pertama dan kedua, ada kesaksian tentang orang-orang yang bergerak dari Medina ke Iraq, lewat Mekah. Namun kota MEKAH itu terletak di bagian south-west Medina sementara Iraq berada di belahan north-east. Maka kota perlindungan Islam, menurut tradisi tersebut terletak di bagian timur Medinah, yaitu arah berlawanan dari letak Mekah sekarang!?!?!

(According to the research by J. van Ess, in both the first and second civil wars, there are accounts of people proceeding from Medina to Iraq , via Mecca , yet the town is situated south-west of Medina and Iraq is north-east. Thus the sanctuary for Islam, according to these traditions was at one time north of Medina , which is the opposite direction from where Mecca stands today!)

Ini mengakibatkan kebingungan. Bukan hanya bukti-bukti dokumenter Arab dan Yahudi tentang penanggalan saling kontradiksi, namun kota pusat Islam itu dikenal hanya jauh kemudian.

BUKTI ARKEOLOGIS ARAH KIBLAT

Dikatakan bahwa arah kiblat ditetapkan pada Mekah pada sekitar tahun 624. Namun bukti-bukti arkeologis yang masih berlangsung pada mesjid-mesjid pertama yang dibangun pada abad ke7 oleh para arkeolog Creswell dan Fehervari mengenai 2 mesjid Umayyad di Iraq dan didekat Baghdad, menujukkan bahwa Kiblat tidak diarahkan pada Mekah tetapi jauh ke utara. Mesjid Wasit malah melewati Mekah sebanyak 33 derajat dan mesjid Baghdad sebanyak 30 derajat. Ini sesuai dengan kesaksian Balahhuri (yang disebut Futuh) bahwa Kiblat mesjid pertama di Kufa, Iraq, yang dibangun tahun 670 mengarah ke barat, padahal kalau mau mengarah ke Mekah, seharusnya mengarah ke selatan.

Mesjid Amr b. al As diluar Kairo di Mesir menunjukkan bahwa arah Kiblat menunjuk jauh ke utara sampai harus diperbaiki oleh gubernur Qurra b. Sharik. Bukti-bukti diatas menunjukkan bahwa Kiblat tidak diunjukkan pada Mekah tetapi pada sebuah kota jauh di utara, kemungkinan didekat Yerusalem.

Ini diperkuat oleh pelancong dan penulis Kristen Yakub dari Edessa, yang tulisannya berasal dari tahun 705 dan merupakan saksi mata di Mesir. Ia menulis bahwa kaum Mahgraye (nama Yunani bagi kaum Saracen) di Mesir bersolat menghadap ke timur dan TIDAK ke selatan atau tenggara (menghadap Mekah). Suratnya (yang disimpan di British Museum) memang merupakan pembuka mata. Oleh karena itu bisa disimpulkan bahwa sampai tahun 705 pun, arah kiblat ke Mekah BELUM JUGA DITETAPKAN.

Menurut Dr. Hawting, dari SOAS (School of Oriental and African Studies di London), penemuan arkeologis baru juga menunjukkan bahwa sampai saat itu, kaum Muslim (atau disebut juga kaum Hagar, dari nama ibu Ishmael, yang dihamili nabi Ibrahim) memang solat tidak mengarah ke Mekah tetapi ke utara, kemungkinan besar Yerusalem. NAMUN QURAN MENGATAKAN KEPADA KITA (dalam Surah 2) BAHWA ARAH KIBLAT ADALAH MENUJU MEKAH, kira-kira 2 tahun setelah HIjrah, atau sekitar 624 dan tidak pernah berubah sampai sekarang.

Apa yang terjadi disini? Mengapa Kiblat tidak mengarah kepada Mekah sebelum tahun 705? Mari sekarang kita melihat Yerusalem.

THE DOME OF THE ROCK

Dome megah ini didirikan oleh Abd al-Malik pada tahun 691 dan sampai sekarang masih berdiri. Pertama, kita harus mengingat bahwa the Dome of the Rock bukan sebuah mesjid karena tidak memiliki arah kiblat. Hanya sebuah gedung oktagonal dengan 8 pilar.

Muslimin puas dengan keterangan bahwa Dome ini didirikan guna memperingati malam Muhamad terbang ke surga guna berbicara dengan Musa dan Allah tentang jumlah sholat yang harus dipatuhi pengikutnya. Namun, menurut riset oleh Van Berchem dan Yehuda Nevo, kaligrafi disana tidak menyebtukan apa-apa tentang Mi’raj NAMUN MENOLAK STATUS KETUHANAN YESUS, PENERIMAAN PARA NABI, PENERIMAAN WAHYU OLEH MUHAMAD DAN PENGGUNAAN ISTILAH ‘’Islam’’ DAN ‘’Muslim’’.

Mengapa, kalau memang khusus didirikan untuk memperingati Mi’raj Nabi gedung itu tidak menyebut sepatah katapun tentangnya? Gedung megah ini yang didirikan pada masa kelahiran Islam menunjukkan bahwa GEDUNG INILAH DAN BUKAN MEKAH yang merupakan tempat perlindungan Islam pertama dan pusat kelahiran Islam sampai paling tidak abad ke7.

Menurut tradisi Islam, kalif Sulaiman, yang berkuasa antara tahun 715-717, pergi ke Mekah dan bertanya tentang naik haji. Ia tidak puas dengan jawaban yang diterimanya disana dam memilih untuk mengikuti Abd al-Malik (i.e. melancong ke the Dome of the Rock). Fakta ini saja, kata Dr. Hawting, menunjukkan bahwa bahkan pada abad ke 8 sudah adanya ketidakpastian tentang letak tempat lahirnya Islam.

Menurut tradisi, WALID I, kalif yang berkuasa antara 705-715 menulis kepada semua daerah, memerintahkan penghancuran dan peluasan mesjid-mesjid. Mungkinkah ini saat Kiblat ditetapkan kearah Mekah? Kalau iya, ini menunjukkan kontradiksi besar-besaran dalam Quran.

Dr. John Wansbrough, otoritas terbesar dalam tradisi dini Islam, menunjukkan pengamatan menarik terhadap Muhamad. Sumber-sumber non-muslim terbaik masa ini diberikan oleh kaligrafi Arab pada batu-batuan yang tersebar di gurun dan daratan Syria-Yordan, khususnya di gurun Negev. Alm. Yehuda Nevo, dari Universitas Yerusalem, melakukan riset ekstensif dan menerbitkan hasilnya pada tahun 1994 dalam bukunya ‘’Toward a Prehistory of Islam/Menuju Masa pra-sejarah Islam’’, yang saya jadikan bahan acuan disini.

Nevo menemukan dalam teks-teks religius Arab, dari satu setengah abad kekuasaan Arab (abad ke 7 dan ke adanya sebuah kepercayaan monotheis yang ‘’jelas-jelas bukan Islam, namun sebuah kepercayaan dari mana Islam bisa berkembang” (“demonstrably not Islam, but a creed from which Islam could have developed’’.)

Ia juga menemukan bahwa dalam semua institusi religius selama masa SUFYANI (th 661-684) tidak ada sedikitpun sebutan tentang Muhammad atau petunjuk bahwa Muhamad adalah nabi Allah. Ini benar, sampai sekitar tahun 691, dimana tujuan utama inskripsi adalah religious atau hanya commemorative, seperti inskripsi pada bendungan didekat Ta’if, yang didirikan oleh Kalif Muâwiya pada tahun 660-an. Absennya nama Muhamad pada inskripsi-inskripsi kuno adalah penting.

Kemunculan pertama nama Muhamad rasul Allah ditemukan pada coin Arab-Sassanian dari Xalib ben Abdallah dari tahun 690, yang dibuat di Damaskus. Pernyataan Kepercayaan, termasuk Tauhid (KeTunggalan Allah), pernyataan bahwa Muhammad rasul Allah dan penolakan keTuhanan Jesus (rasul Allah wa-abduhu) ditemukan dalam inskripsi Abd al-Malik dalam the Dome of the Rock, tertanggal 691. SEBELUMYA, PERNYATAAN KEPERCAYAAN MUSLIM TIDAK DAPAT DIPASTIKAN.

Setelah dinasti MAARWANID (sampai 750), nama Muhammad biasanya timbul dalam pernyataan religius, seperti pada coin, milestones and papyrus ‘’protocols’’. Namun, papirus bahasa Arab pertama di Mesir, dalam bentuk bukti penerimaan pajak tahun 642, ditulis dalam bahasa Yunani dan Arab dan menganut judul ‘’BASMALA’’, namun karakternya bukan Kristen maupun Muslim.

Inskripsi-niskripsi dalam the Dome of the Rock, walaupun mengandung teks religius, tidak pernah menyebut nama nabi atau kepercayaan Muslim, 30 tahun setelah kematian Muhammad, walaupun menganut suatu bentuk monotheisme yang berkembang dari gaya literatur Yahudi-Kristen. Terlibih lagi, ketika kepercayaan itu diperkenalkan pada masa MARWANID (setelah 684) it is carried almost ‘’overnight’’. Tiba-tiba, kepercayaan itu menjadi satu-satunya deklarasi religius negara. Namun lagi-lagi tidak begitu saja diterima rakyat.

Menurut Y. Nevo, rumusan Mohammedan ini hanya dimulai digunakan dalam inskripsi umum pada jaman Kalif Hisham (724-743). NAMUN WALAUPUN MEREKA PEGIKUT MUHAMAD, MEREKA BUKAN MUSLIM. Untuk itu, kata Nevo, kita harus menunggu sampai permulaan abad ke 9 (sekitar 822), bersamaan dengan ditemukannya Quran tertulis pertama. Jelaslah bahwa bukan semasa hidupnya Muhamad diangkat kepada posisi nabi, BAHKAN KETIKA ITU, KEPERCAYAAN KEPADA MUHAMAD TIDAK SAMA DENGAN APA YANG DITEMUKAN SEKARANG.

QURAN

Sumber-sumber menunjukkan bahwa buku ini (Quran) disusun secara tergesa-gesa. Wansbrough mengatakan bahwa ‘’nampak jelas bahwa buku ini (Quran) tidak memiliki struktur keseluruhan, sering tidak jelas, baik dari segi bahasa maupun isi, menghubung-hubungkan materi yang terpisah-pisah dan cenderung mengulang-ulang anak-kalimat dalam berbagai versi. Atas dasar ini dapat disimpulkan bahwa buku ini adalah produksi editing tidak sempurna di masa kemudian dari bermacam-macam tradisi’’ seperti dikutip dalam buku Crone-Cook ‘’Hagarism’’.

Mengenai kapan Quran itu disusun kami hanya bisa menerka dari penanggalan manuskrip-manuskrip yang ada. Dari sini, kami bisa menyimpulkan bahwa Quran tidak eksis sebelum akhir abad ke 7. Referensi tertua dari luar tradisi literatur Islam mengenai sebuah buku yang dinamakan dengan ‘’Quran’’ timbul pada pertengahan abad 8 dari tulisan pembicaraan antara seorang Arab dan seorang pendeta dari Bet Hale. Namun ini belum tentu menunjuk pada buku yang kita kenal sekarang. Baik Crone maupun Cook menyimpulkan bahwa selain referensi kecil ini, tidak ada indikasi apapun bahwa Quran eksis sebelum akhir abad ke 7.

Dalam riset mereka, baik Crone dan Cook bersikeras bahwa kemungkinan besar, Quran (atau dalam bentuk permulaan) disusun sebagai bukunya Muhamad pada masa gubernur HAJJAJ BEN YUSUF (663-714), sekitar tahun 705. Dari kesaksian Leo by Levond, gubernur Hajjaj nampak telah mengumpulkan semua tulisan-tulisan lama kaum Hagarene dan menggantikannya dengan versi yang disusun ‘’menurut keinginannya, dan membagikannya kepada siapaun di negerinya’’. Ini juga sesuai dengan fakta bahwa baik manuskrip Quran di Samarqand dan Topkapi (di Turki), Quran tertua yang kita miliki, ditulis dalam bahasa Kufic, dialek Persia dari Kufa, dan bukan bahasa Arab.

Kesimpulan masuk akal adalah bahwa dalam masa inilah Quran memulai perkembangannya, kemungkinan ditulis, sampai akhirnya disahkan pada pertengahan sampai akhir abad 8 sebagai Quran yang kita kenal sekarang.

Namun demikian, bukti-bukti arkeologis tentang keberadaan Quran adalah yang paling problematik. Bekas-bekas bangunan dan inskripsi dari daerah itu dari abad 7 dan 8 tidak hanya menunjukan kontradiksi bahwa Muhamad mengesahkan Kiblat semasa hidupnya, atau bahwa ia yang menyusun Quran yang kita kenal sekarang, bahkan asal usul ke-nabiannya juga diragukan. Ini merupakan penemuan penting dan problematik.

Sekarang kita menemukan coin-coin yang katanya memuat tulisan Quran, tertanggal 685, yang dibuat pada masa Abdul Malik. Terlebih lagi, the Dome of the Rock yang dibangunnya pada tahun 691 menunjukkan ketidaksesuaian antara inskripsinya dengan pernyataan dalam Quran.

Dua ahli etymologi, Van Berchem and Grohmann, setelah riset ekstensif terhadap inskripsi ini mengatakan bahwa mereka mengandung ‘’variant verbal forms, extensive deviances, as well as omissions from the text which we have today’’(‘’Arabic Papyri from Hirbet el-Mird’’ as cited by Crone-Cook).

Jika inskripsi-inskripsi ini berasal dari Quran, dengan berbagai macam variasi. bagaimana mungkin Quran disahkan (dikanonisasi/qanun) sebelum akhir abad ke 8? Orang hanya bisa menyimpulkan bahwa terjadi sebuah evolusi dalam penyusunan Quran, KALAU MEMANG MEREKA ASALNYA DIKUTIP DARI QURAN.

KESIMPULAN SINGKAT :

  1. Kaum Yahudi dan Arab bersahabat sampai paling tidak tahun 640.

  2. Yerusalem adalah Holy Sanctuary for Islam sebenarnya sampai permulaan abad ke 8.

  3. Mekah tidak dikenal sebagai kota yang viable sebelum akhir abad ke 7 dan tidak juga dikenal sebagai rute perdagangan.

  4. Kiblat baru ditetapkan kearah Mekah setelah abad ke 8.

  5. Muhammad tidak dikenal sebagai rasul semua rasul sebelum akhir abad ke 7.

  6. Referensi paling pertama tentang adanya Quran tidak ada sebelum pertengahan abad ke delapan.

  7. Tulisan Quran original tidak serupa dengan teks Quran sekarang.

  8. Quran yang kita miliki sekarang BUKAN Quran yagn seharusnya dikumpulkan dan dikanonisasi kalif Uthman pada tahun 650, seperti diakui kaum muslimin.

  9. Quran yang kita miliki sekarang (sejak tahun 790) tidak ditulis 16 tahun setelah wafatnya Muhamad, melainkan 160 tahun kemudian!

sumber :
www.indonesia.faithfreedom.orgwww.indonesia.faithfreedom.org

6 Balasan ke Catatan Tentang Sejarah Islam

  1. wong Fei Hung Muslimin mengatakan:

    TUHAN KOK NGETOT KELEDAI….!!! WAKWKWKWK…ITULAH AJARAN KRISTEN…

    KATANYA AJARAN KASIH..!!! GAK BOLEH BUNUH AND SIKSA MANUSIA….. LAAH.. TUHANNYA MATI DISALIB MALAH BANGGA TENAN….!!!! AJARAN KOK TIPU2….WAKWKWKWK……

    1+1+1=1 …WAKWKWKWK…. KALAH ANAK TK…WAKWKWKWK…

    NIH SEBENTAR LAGI TRINITAS AKAN DIREVISI … BUKAN 3 DALAM 1 WAKWKWKW….. TAPI 6 DALAM 1 … AJARAN-NYA SEMAKIN ANEH…!!! …WAKWKWKWK…. :

    Ternyata Yesus Punya 3 Orang Isteri

    Ternyata Yesus Punya 3 Orang Isteri. Tidak akan ada kristianis yang akan mempercayai bahwa Yesus, Tuhan yang mereka sembah itu, mempunyai istri dan keturunan. Bahkan kita umat Islampun, akan tercengang tidak percaya bahwa dalam sejarah hidupnya Yesus pernah kawin dan mempunyai keturunan, karena selama ini kita juga dijejali oleh cerita kaum Kristen bahwa Yesus keburu diangkat kesorga tanpa pernah kawin.

    Yesus sebagai manusia yang terlibat dalam sejarah telah dikaburkan sedemikian rupa, sehingga sejarah Yesus benar-benar gelap bagi sebagian besar umat manusia. Yang tinggal adalah Yesus yang dibungkus dengan pakaian ketuhanan, sehingga bagi orang-orang yang tidak mampu menggunakan akal sehatnya, Yesus benar-benar dianggap sebagai Tuhan.

    Tapi bagi sebagian manusia yang mau menggunakan akalnya, Yesus sebagai semua kesejarahannya, menjadi sumber pertanyaan akal yang tidak pernah berhenti. Mereka-mereka inilah yang sedikit demi sedikit, menguak misteri sejarah hidup Yesus.

    Salah satunya, adalah seorang teolog, pakar Perjanjian Baru dan Gulungan Laut Mati, Prof. DR. Barbara Tiering, dari Univ. of Sidney Australia. Setelah melakukan penelitian terhadap gulungan-gulungan Laut Mati (The Dead Sea Scrolls), selama 20 tahun, sampai kepada kesimpulan bahwa Yesus, beristeri, bahkan lebih dari satu, alias Poligami.

    Menurut sang Profesor, dalam sejarah kehidupan Yesus, Yesus pernah kawin bahkan 2 kali. Dan upacaea perkawinan Yesus, dapat ditelusuri dalam PB sendiri, yaitu dalam Injil Markus-14:3, Yohanes-12:3 dan Lukas-7:37 dan seterusnya.

    Markus-14:3.
    Ketika Yesus berada di Betania, di rumah Simon si kusta, dan sedang duduk makan, datanglah seorang perempuan membawa suatu buli-buli pualam berisi minyak narwastu murni yang mahal harganya. Setelah dipecahkannya leher buli-buli itu, dicurahkannya minyak itu ke atas kepala Yesus.

    Yohanes-12: 3

    Maka Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau minyak semerbak di seluruh rumah itu.

    Hubungan istimewa Yesus dengan Maria Magdalena, berabad-abad dibantah oleh Gereja. Bahkan Maria Magdalena, difitnah sebagai seorang perempuan pendosa.

    Lihatlah Injil Lukas-7:37, bagaimana Maria Magdalena difitnah sedemikian rupa, dengan mengatakan bahwa dia seorang perempuan pendosa :

    Lukas-7:37.
    Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika perempuan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi.

    Tapi lanjutkan dengan membaca ayat-38 dari injil yang sama :

    Lukas-7:38

    Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu.

    Seorang perempuan yang mencurahkan minyak wangi kekepala, , kekaki, dan menciumi lelaki tersebut, menurut Profesor Thiering, adalah upacara perkawinan bangsawan Yahudi.

    Dalam masyarakat Yahudi, tidak akan pernah ada seorang perempuan pun, yang ujug-ujug datang mencium seorang lelaki yang bukan muhrimnya, karena perbuatan itu hukumannya adalah hukuman mati.

    Dan Yesus adalah seorang bagsawan, karena dia adalah keturunan Raja Daud.

    Bantahan Prof. Thiering terhadap klaim gereja yang selama berabad-abad menutupi hubungan istimewa Yesus dengan Maria Magdalena, didukung oleh penemuan Injil Philip di daerah Nag Hamadi, Mesir pada tahun 1945.

    Dalam Injil Philip ini, disebutkan dengan jelas, bahwa :
    There were three who always walked with the lord: Mary his mother and her sister and Magdalene, the one who was called his companion?. And the companion of the [Saviour was ] Mary Magdalene. [He loved] her more than [all] the disciples [and used to] kiss her [often] on her [mouth]. The rest of [the disciples] said to him, ‘Why do you love her more than all of us?’The Saviour answered and said to them,’Why do I not love you like her? ” (59, 6-12; 63, 32- 64, 5)

    Terjemahan ke bahasa Indonesianya :
    “Ada 3 orang yang selalu berjalan bersama Yesus : Maria ibundanya dan Maria saudara ibunya, dan Magdalena, yang disebut sebagai pasangannya?.
    Dan pasangan dari Sang Juru Selamat (Saviour) adalah Maria Magdalena. (Dia mencintai) nya, melebihi cintanya kepada murid-murid yang lain dan sering menciumnya di mulutnya
    Murid-murid yang lain berkata kepadanya : ?Kenapa engkau lebih mencintainya dari pada kami??. ]Sang Juru Selamat menjawab dan berkata : Kenapa aku tidak mencintai kalian seperti mencintai dia?? (59, 6-12; 63, 32; 64, 5)

    Selanjutnya dari hasil penelitian Prof. Thiering, terungkap fakta bahwa acara pernikahan Yesus dgn Maria Magdalena, diselenggarakan pada hari Jum?at tgl 22 Sept. thn 30. Ini adalah upacara pernikahan. Acara resepsinya diselenggarakan 3 thn kemudian, yaitu pada 19 Maret tahun 33 , jam 12 malam. Besoknya Yesus ditangkap, dan disalibkan.

    Pada tgl 14 Juni 37, jadi 4 tahun setelah penyaliban, lahirlah anak Yesus yg pertama, yg diberi nama Jesus Justus. Anaknya yg ke-3 lahir pada 10 April 44. Namanya tidak diketahui. Anaknya yg kedua tidak ada informasi.

    Perkawinan Yesus yg kedua berlanhsung dgn seorang perempuan yg bernama Lidia, pada 17 Maret 50.

    Kalau ditambah dengan cerita rakyat di Kashmir, Yesus juga kawin dengan seorang perempuan desa yg cantik. Lha?, punya 3 istri, dong?.?

    Kalau umat Islam, meragukan bahwa Yesus pernah kawin dan punya keturunan, maka buanglah keraguan itu jauh-jauh, karena Allah SWT berfirman dalam AlQur?an :

    Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-Rasul sebelum engkau, dan Kami memberikan isteri-isteri dan keturunan kepada mereka. Dan tidak ada hak bagi seorang Rasul mendatangkan sesuatu ayat (atau mukjizat) melainkan dengan izin Allah. Bagi tiap-tiap masa ada Kitab. (QS-13: 38).

    Setiapkali membaca ayat Al-Qur’an kita selalu menyatakan dengan takzim : Maha Benar Allah Dengan Segala FirmanNvya.

    Jadi?, siapa bilang Yesus hidup membunjang??

  2. yes mengatakan:

    ya Allah ampuni wong Fei Hung Muslimin kerana dia tidak tahu apa yang dia telah lakukan… amen..

  3. salahudin mengatakan:

    wong edan elo ndak tau ttg trinitas jgn asal ngomong……….muhamad tu bego…..makanya di quran dia ndak bicara trinitas…..dongeng2 agama lain pada masa itu diconteknya…..dimasukan ke quran jadilah versi islam…….

  4. gifari mengatakan:

    hei jaga omongan kalian,kalian emang belom tau semua kebenaran-kebenaran islam? IPTEk yang terkandung di dalamnya,dasar hukum,sistem pemerintahan hingga ekonomi

    Agama islam itu bukan seperti agama kalian yang hanya doktrin belaka,apalagi yang tidak bertuhan naudzu bilah
    semoga kalian cepat mendapatkan hidayahNYA

  5. dalgombes mengatakan:

    Iptek apaan, arah kiblat aja salah, bumi itu bulat, 1000 km dari mekah saja , kalau kamu menghadap ke arah mekah, sebenernya kamu menghadap ke langit, kecuali bumi itu datar, pikir ya gifari

  6. maulana mengatakan:

    Ilmuwan Ini Menjadi Muslim Setelah Melakukan Riset Ilmiah

    “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, atau duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi”. Demikian bunyi surah Ali Imron ayat 190-191.

    Ayat di atas menjelaskan tentang kebesaran Allah; bahwa keberadaan dan kebesaran-Nya dapat dibuktikan melalui adanya alam semesta. Orang-orang yang berakal (ulul Albab/cendekiawan) yang disebutkan dalam ayat itu dapat membuktikan keberadaan Allah melalui penelitian terhadap ciptaan-Nya. Sehingga tidak mengherankan, tidak sedikit manusia yang pada mulanya berada dalam kejahiliyahan, akhirnya memeluk Islam dan menjadi muslim yang teguh setelah menemukan kebenaran pernyataan Alquran tentang tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta.

    Dalam Alquran sendiri, meski baru diturunkan 14 abad yang lalu, sudah banyak mengungkap fakta-fakta alam semesta secara ilmiah. Satu persatu fakta-fakta itu terbuktikan kebenarannya sehingga melahirkan beragam ilmu pengetahuan.

    Pada abad modern ini, pembuktian kebenaran Alquran banyak dilakukan oleh ilmuwan non-muslim. Bahkan tidak sedikit di antara mereka akhirnya yang dengan keikhlasan mengucap dua kalimat syahadat.

    1. Maurice Bucaille, masuk Islam karena jasad Fir’aun

    Prof Dr Maurice Bucaille adalah adalah ahli bedah kenamaan Prancis dan pernah mengepalai klinik bedah di Universitas Paris. Ia dilahirkan di Pont-L’Eveque, Prancis, pada 19 Juli 1920. Kisah di balik keputusannya masuk Islam diawali pada tahun 1975.

    Pada saat itu, pemerintah Prancis menawari bantuan kepada pemerintah Mesir untuk meneliti, mempelajari, dan menganalisis mumi Firaun. Bucaille lah yang menjadi pemimpin ahli bedah sekaligus penanggung jawab utama dalam penelitian.

    Ternyata, hasil akhir yang ia peroleh sangat mengejutkan. Sisa-sisa garam yang melekat pada tubuh sang mumi adalah bukti terbesar bahwa dia telah mati karena tenggelam. Jasadnya segera dikeluarkan dari laut dan kemudian dibalsem untuk segera dijadikan mumi agar awet. Namun penemuan yang dilakukan Bucaille menyisakan pertanyaan: Bagaimana jasad tersebut bisa terjaga dan lebih baik dari jasad-jasad yang lain (tengkorak bala tentara Firaun), padahal telah dikeluarkan dari laut?

    Bucaille lantas menyiapkan laporan akhir tentang sesuatu yang diyakininya sebagai penemuan baru, yaitu tentang penyelamatan mayat Firaun dari laut dan pengawetannya. Laporan akhirnya ini dia terbitkan dengan judul ‘Mumi Firaun; Sebuah Penelitian Medis Modern’, dengan judul aslinya, ‘Les Momies des Pharaons et la Midecine’.

    Saat menyiapkan laporan akhir, salah seorang rekannya membisikkan sesuatu di telinga Bucaille seraya berkata: “Jangan tergesa-gesa karena sesungguhnya kaum Muslimin telah berbicara tentang tenggelamnya mumi ini”.

    Dia mulai berpikir dan bertanya-tanya. Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi? Bahkan, mumi tersebut baru ditemukan sekitar tahun 1898 M, sementara Alquran telah ada ribuan tahun sebelumnya.

    Setelah perbaikan terhadap mayat Firaun dan pemumiannya, Prancis mengembalikan mumi tersebut ke Mesir. Namun, ia masih bertanya-tanya tentang kabar bahwa kaum Muslimin telah saling menceritakan tentang penyelamatan mayat tersebut.

    Dari sini kemudian terjadilah perbincangan untuk pertama kalinya dengan peneliti dan ilmuwan Muslim. Ia bertanya tentang kehidupan Musa as, perbuatan yang dilakukan Firaun, dan pengejarannya terhadap Musa hingga dia tenggelam dan bagaimana jasad Firaun diselamatkan dari laut.

    Maka, berdirilah salah satu di antara ilmuwan Muslim tersebut seraya membuka Alquran dan membacakan untuk Bucaille firman Allah SWT yang artinya: “Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” (QS Yunus: 92).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: