UmatIslam=MesinMiliter

UMAT ISLAM SAMA DENGAN MESIN MILITER

The Calcutta Quran Petition

by Sita Ram Goel: Bab 8

Kebanyakan bahan-bahan bacaan mengenai teologi islam ortodoks memberi banyak ruang untuk subjek non-perang seperti: iman, penyucian, sholat, zakat, puasa, naik haji, perkawinan, perceraian, transaksi bisnis, warisan, pahala, pusaka, sumpah, janji, kejahatan, azab, pemerintahan, perburuan, makanan, minuman, cara berpakaian, dekorasi, salam, magis, syair, pandangan-pandangan, mimpi-mimpi, kebaikan, hari kiamat, pertobatan, dll. Tapi aturan yang digelar bagi setiap muslim, dimana saja, kapan saja, semuanya sama. Keseragaman tingkah laku ini menghapus individualitas manusia dan mengubahnya menjadi sekedar anggota dari sebuah perkumpulan sekte ketat yang dinamakan UMAT.

UMAT itu berubah bentuk, begitu diiringi Jihad – sebuah konsep yang tidak kurang pentingnya dalam teologi islam. Umat islam lebih banyak terlihat sebagai MESIN MILITER dibanding sebagai masyarakat sosial yang damai. Aturan-aturan Shariah terbaca persis sebuah manual yang khusus disusun utk digunakan dalam barak-barak militer – bangun tiap pagi buta, segera membereskan tempat tidur, menyapu lantai, menyetrika pakaian, menyemir sepatu, mandi dgn buru-buru, melakukan gerakan-gerakan tertentu dalam sebuah ritual baik bersama maupun sendiri-sendiri, berbagi makanan yang sama, minum dari sumber yang sama dan akhirnya menghadapi pengadilan militer yang sama jika melakukan kesalahan. Orang bisa terheran-heran sekaligus geli ketika kemiripan tingkah laku Muslim ini dijelaskan oleh para pembicara islam sebagai inti paling utama dari moralitas dan spiritualitas yang universal.

Sholat : Bibit Militerisasi
D.S. Margoliouth menyebutkan beberapa sumber Muslim mengenai proses kelakuan para muslim, ketika akan dimulai Perang Badar:

“Utk perang yang akan terjadi sebentar lagi ini kita tidak punya informasi rinci dan jelas tentang keadaan musuh, tapi setidaknya kita tahu beberapa faktor yang akan membuahkan hasil. Kedisiplinan ketika sholat, dimana para muslim diatur dalam barisan-barisan dan harus melakukan apa yang dilakukan oleh pemimpin sholat (imam), keluar barisan akan dihukum berat. Hukuman ini berfungsi sebagai pendisiplinan yang keras dan Muhamad sebelum perang telah membagi tugas kpd jenderalnya agar pasukan tetap bertahan dalam barisan. Jenderal pasukan musuh, ‘Utbah, anak dari Rabiah, terpana oleh penampilan pasukan Muslim, mereka semua berlutut, semuanya diam dan hanya lidah-lidah mereka saja yang bergerak liar seperti ular. Mereka semua siap akan perintah dari nabi mereka, yang sadar bahwa sang nabi tidak perlu mempertaruhkan nyawanya; Bagi sang nabi, jauh dibelakang pasukannya telah berdiri tenda, dijaga oleh para penasihat dan pasukannya yang paling dipercaya, dimana dari sana dia bisa memberi perintah; di dekat tenda terlihat unta-unta terikat, siap digunakan utk ngacir bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.[1]




Pengamatan dari Count Keyserling
Militerisasi dari kehidupan muslim sehari-hari ini diamati oleh Count Keyserling (1880-1946) selama perjalanannya ke negara-negara muslim. Dia merangkum kesan-kesannya dalam buku The Travel Diary of a Philosopher;

“Islam adalah sebuah agama yang pasrah total dan tunduk total pada Auwloh – Auwloh dengan karakter tertentu – seorang Dewa Perang yang merasa punya hak utk melakukan apapun yang Dia inginkan terhadap kita dan yang menginginkan kita tetap berdiri tegak dalam barisan ketika berperang melawan musuh-musuhNya… Ritual dari kepercayaan ini mewujudkan kedisiplinan. Ketika para muslim melakukan sholat setiap hari pada waktu-waktu tertentu dalam urutan/baris tertentu di mesjid, semuanya bergerak dengan gerakan yang sama diwaktu yang hampir bersamaan, ini bukanlah sesuatu yang dilakukan dalam metoda kesadaran-diri, tapi dalam keadaan trance (kerasukan), persis seperti semangat para tentara Prusia yang berbaris dihadapan Kaisarnya. Dasar militer dari islam ini menjelaskan inti dari muslimin, sekaligus juga menjelaskan cacat fundamental – ketidakmajuan, ketidakmampuan utk beradaptasi, kekurangan diri akan penemuan hal-hal baru. Karena seorang tentara cukup hanya mematuhi perintah. Sisanya adalah urusan Auwloh.” [2]

Sholat Jum’at Atau Berjamaah
“Diawal masa Islam”, tulis Professor K.S. Lal dari India, “fitur utama dari hari Jum’at adalah sholat berjamaah, dimana para muslim berdiri pada barisan yang lurus. Wajib mengikuti sholat ini sama seperti disiplin militer. Isi Khotbahnya sama seperti khotbah lainnya, berisi nasehat-nasehat, teguran dan arahan akan kewajiban religius dan politis. Rasa kekaguman merayap masuk pada benak para pengikutnya – membuat kepercayaan mereka bertambah…”[3] Mukjijat-mukjijat dikhotbahkan juga dalam sholat jum’at ini. “Hadits menyatakan bahwa namaz (melakukan sholat di mesjid) dalam sebuah sholat berjamaah dihitung 25 kali dibanding sholat dirumah. Muhammad sangat ketat akan keikut-sertaan sholat berjamaah ini.”[4] Nabi dilaporkan berkata bahwa dia ingin membakar rumah orang yang tidak ikut solat jum’at. Dalam sejarah Islam di India, khotbah Jum’at sampai membuat para pengikutnya merasa “ingin mengasah pedang” dan ingin melakukan kerusuhan-kerusuhan dijalanan. Berbagai kerusuhan memang terjadi hampir selalu sesudah sholat Jum’at.[5]

Islam Memecah Umat Manusia
Gambarnya menjadi makin jelas ketika kita merenungkan kategori-kategori pemikiran yang membentuk fondasi utama islam. Kategori pemikiran ini dihasilkan dari Quran, yang oleh para pengikutnya dikutip pada setiap belokan hidup dan pada setiap masalah kehidupan.

Teologi Islam memecah umat manusia menjadi dua faksi yang bermusuhan. Ada faksi Mu’minin (orang beriman/percaya), orang-orang ini jadi favoritnya Auwloh, dan Auwloh menjanjikan kemenangan di dunia yang sekarang dan di dunia yang berikutnya (surga). Ada faksi Kafir (orang tidak beriman/tidak percaya) yang hidupnya, kebebasannya, harta miliknya dan kehormatannya telah diberikan Auwloh kepada faksi Mu’minin. Faksi Mu’minin boleh membantai, merampok dan memperbudak kaum kafir dengan cara apapun, tujuan apapun, dan mereka melakukan tanpa rasa bersalah sedikitpun. Toh mereka hanya memenuhi apa yang Auwloh kehendaki dan berikan pada mereka.

Islam Mempolarisasi Dunia
Teologi yang sama juga membagi dunia menjadi dua kamp yang bertentangan, yang tidak dapat didamaikan. Disatu pihak ada Darul-Islam, tanah (wilayah) yang dipegang para Muslim dimana hukum Syariah memerintah. Tanah ini menjadi basis bagi para muslim utk beroperasi. Dilain pihak, ada Darul-Harb, tanah (wilayah) dimana para kafir tinggal dan dimana para mu’minin harus melakukan perang tanpa henti. Para Mu’min tidak boleh menyia-nyiakan tenaga maupun harta mereka dalam usaha utuk mengubah setiap Darul-Harb menjadi Darul-Islam.

Islam Membagi Dua Sejarah Manusia
Lagi-lagi, teologi Islam membagi dua sejarah manusia menjadi dua periode yang sangat tajam bedanya. Perioda sebelum Muhammad memproklamasikan kenabiannya disebut Jaman Jahiliyah, dan perioda setelah itu disebut Jaman Pencerahan (Ilm). Semua yang tersisa dari jaman Jahiliyah harus dihancurkan langsung atau harus diubah sedemikian sehingga seakan berasal dari jaman Pencerahan. Norma-norma jahiliyah dan pencerahan ini ditentukan bukan oleh kriteria-kriteria yang objektif maupun komparatif, tapi oleh diktum-diktum yang ada dalam Quran dan Hadis.

Mu’minin Adalah Manusia Yg Lebih Baik
Dalam teologi islam tidak dinyatakan bahwa kaum Mu’minin harus menjadi manusia yang lebih baik dalam hal pikiran dan moral. Mereka cukup bersumpah pada zat tertentu yang dinamai Auwloh dan manusia tertentu yang mereka sebut Rasul (Nabi), dan otomatis mereka berhak utk membunuh mereka yang menolak melakukan sumpah yang sama. Mereka bebas dari sholat, puasa, naik haji dan ritual-ritual lainnya dan semua dosa serta kejahatan mereka diampuni, jika mereka ikut serta dalam peperangan melawan Kafir.

Islam Tak Compatible Dng Perdamaian
Mahatma Gandhi bukanlah spesialis teologi Islam. Dia terima tafsir para apologis muslim modern yang mengatakan bahwa islam artinya damai. Tapi dia tidak bisa melihat apapun dari kelakuan Muslim yang membuktikan tafsiran ini.

“Islam terlahir,” telaah sang Mahatma, “dalam sebuah kondisi lingkungan dimana pedang sudah, sedang dan masih menjadi hukum tertinggi… Pedang ini telah menjadi bukti-bukti yang nyata diantara para muslimin. Pedang itu harus disarungkan jika islam ingin menjadi seperti yang mereka tafsirkan, yaitu ‘damai’.”

Professor Jadunath Sarkar, dilain pihak telah mendedikasikan hidupnya utk mempelajari teori dan praktek islam. Dia tidak bisa menghindar dari kesimpulan suram ini.

“Pembunuhan terhadap para kafir,” tulisnya, “dihitung sebagai suatu kebaikan bagi seorang muslim. Tidak perlu dia mengalahkan keinginan-keinginan duniawinya, tidak perlu dia menderita, tidak perlu dia memperkaya spiritualitasnya. Cukup dengan membunuh sesamanya atau merampok tanah dan kekayaan mereka (kafir), otomatis tindakan ini akan mengangkat jiwanya ke surga. Sebuah agama dimana para pengikutnya diajarkan utk menganggap perampokan dan pembunuhan sebagai sebuah kewajiban religius, tidaklah cocok bagi kemajuan umat manusia ataupun dengan perdamaian dunia.” [6]

Sejarawan dan akademisi Bangladesh mengatakan bahwa Quran “tidak merusak harmonisasi antar agama” dan bahwa “Karena Quran, tidak ada ketenangan umum yang terganggu hingga saat ini dan tidak ada alasan utk menyangka akan adanya gangguan-gangguan tsb dikemudian hari”.

Seluruh sejarah dari Islam, khususnya di India, bertentangan dengan pernyataan tsb diatas. Rakyat Bangladesh tahu sampai ke tulang rusuk mereka, apa yang sebenarnya dikatakan dalam Quran. Banjirnya pengungsi dari Bangladesh sampai sekarang belum juga berhenti.

————————————–

Catatan Kaki:

  1. [Mohammed and the Rise of Islam, op. cit., pp. 258-59. Dia juga bilang bahwa kaum Pagan Arab, dilain pihak, “belum terbiasa dengan peralatan militer yang baru”, bahwa mereka bertempur dengan “tidak disiplin, tanpa kepemimpinan yang kuat”, dan bahwa “banyak istilah2 teknis peperangan dalam Islam telah berkembang, yang mana orang Arab non islam tidak mengenalnya”, hal 259-60]
  2. [Diceritakan oleh Jadunath Sarkar, History of Aurangzib, Volume III, Calcutta, 1928. p. 171.]
  3. [Theory and Practice of Muslim State in India, op. cit., pp. 83-84.]
  4. [ibid, hal 82.]
  5. [Ibid., p. 93.]
  6. Jadunath Sarkar, History of AurangzIb, Calcutta, 1928, Volume III, pp. 168-69.


Sumber:
Klik: UmatIslam=MesinMiliter

Satu Balasan ke UmatIslam=MesinMiliter

  1. wong Fei Hung Muslimin mengatakan:

    HITLER PENGANUT KHATOLIK ROMA

    Hitler Penganut Katholik Roma

    Penandatanganan Reichskonkordat pada 20 July 1933.
    Dari kiri ke kanan: German Vice-Chancellor Franz von Papen,
    representing Germany, Giuseppe Pizzardo, Cardinal Pacelli,
    Alfredo Cardinal Ottaviani,
    Para Jesuit telah mempersiapkan Perang Dunia II secara rahasia dan Hitler adalah mesin perang yang dibentuk dan dibiayai oleh Vatikan untuk menaklukkan dunia demi KeKatolikan Roma. Hitler, Mussolini, dan Franco merupakan pahlawan bagi iman Katolik Roma. Mereka dirancang untuk hmenang dan menaklukkan dunia, dan membentuk kerajaan seribu tahun bagi Paus. Di belakang layar, para Jesuit mengatur Gestapo. Semuanya ini didokumentasikan dalam ‘The Secret History of The Jesuits’.

    Bacalah pernyataan pers dari diktator Spanyol, Franco, yang diterbitkan pada tanggal 3 Mei 1945, yang merupakan hari kematian Hitler. Artikel itu mengatakan, ”Adolf Hitler, seorang anak Gereja Katolik, meninggal karena mempertahankan Kekristenan.” Kemudian lanjutnya, ”Diatas kematiannya tetap meninggalkan seorang figur dengan moral yang berkemenangan. Karena kemartirannya, Tuhan memberikan Hitler mahkota Kemenangan.”

    Hitler sendiri menyatakan, ”Saya belajar banyak dari Ordo Jesuit. Sampai sekarang, tidak satupun di dunia ini yang lebih besar daripada organisasi gereja Katolik. Saya kagum dengan organisasi ini dan menerapkannya dalam kehidupan partai saya.”

    16 November 1922, Parlemen Italia memilih Benito “Il Duce” Mussolini menjadi pemimpin. Sebelumnya Mussolini telah mengadakan negosiasi-negosiasi rahasia dengan para agen Pius XI. Salah satunya adalah Pastor Tacchi Venturi, sekretaris Serikat Yesus (Jesuit) dan bapak rohani Mussolini, yang telah melakukan misinya dengan sangat baik.

    Berawal di Italia ini, tahun 1922 paham fasisme mulai disebarkan oleh Jesuit di Eropa. Mussolini menetapkan Katolik Roma sebagai agama negara, menghadiahkan Tahta Suci 1.750.000.000 lira (± _ 20.000.000) dan kekuasaan atas daerah kota Vatikan. Italia telah membiarkan dirinya jatuh ke tangan Roma yang licik.

    Benito Mussolini, pemimpin gerakan fasisme Italia, terlahir ke dunia di kota Predappio, Italia pada tanggal 21 Mei 1883. Pada tahun 1914, Musolini menerbitkan suratkabar yang beraliran fasis dan mendirikan organisasi fasis.
    Seusai Perang Dunia I, gerakan fasisme ini berkembang menjadi gerakan politik dan pada tahun 1921, Mussolini terpilih sebagai anggota parlemen Italia.

    Tahun berikutnya, ketika pemerintahan Luigi Facta gagal, Mussolini diperintah oleh Raja untuk membentuk pemerintahan. Selama memerintah, Mussolini menerapkan dikatorisme dan sistem sensor yang sangat ketat.

    Dari Italia, paham fasisme memasuki Jerman. Adolf Hitler menerimanya dengan terbuka. Tahun 1923, Facism (pimpinan Mussolini) bergabung dengan National-Socialism (pimpinan Hitler); Mussolini sangat bersahabat dengan Hitler.

    Di Italia, partai Katolik Don Sturzo mendukung Mussolini untuk berkuasa. Sedangkan di Jerman, Monseigneur Kaas, kepala partai “Catholic Centre” juga melakukan hal yang sama kepada Hitler, dan dalam kedua peristiwa itu konkordat ditandatangani.

    30 Januari 1933, Adolf Hitler, pemimpin Partai Nazi di Jerman, menjadi kanselir dan membentuk Pemerintahan ke-Tiga (The Third Reich) yang brutal. Dia mendirikan kamp-kamp konsentrasi didirikan di berbagai tempat untuk menghabisi kaum Yahudi. Juga terdapat 45 kamp konsentrasi di Jerman, dengan 40.000 tahanan yang berasal dari berbagai latar belakang pandangan politik, tetapi kebanyakan adalah yang liberal.

    26 April tahun 1933, polisi rahasia pemerintah atau Gestapo, didirikan oleh rezim Nazi Jerman. Pendiri Gestapo adalah Herman Goering, seorang perwira tinggi Jerman yang merupakan orang dekat Hitler. Tujuan didirikannya Gestapo adalah untuk menangkap dan menghukum orang-orang yang dianggap penentang Nazi dan Hitler.

    Pada tanggal 20 Juli 1933, Terjadi perjanjian (konkordat) antara Jerman dan Tahta Suci (Vatikan). Para Uskup bersumpah untuk setia kepada para pemerintah Jerman (Nazi) dan negara. Ini menunjukkan betapa sangat erat dan saling mendukung hubungan antara Gereja Katolik dengan NAZI Jerman itu.

    Yang ikut dalam penandatanganan itu adalah Kardinal Pacelli (kemudian menjadi Paus Pius XII). Sebelum tahun 1933 dia adalah Sekretaris Negara Vatikan. Juga ada Franz von Papen, seorang nazi yang kejam dan seorang Katolik Roma yang setia dan juga diplomat penting Hitler dan agen Vatikan yang menolong Hitler untuk berkuasa. Lalu ada pula seorang wali gereja Vatikan yang kurang terkenal, Montini, yang kemudian menjadi Paus Paulus VI.

    Hitler adalah seorang yang setia kepada Vatikan. Dia berjanji untuk “mencekik” para anti-paus. Mereka (Pius XI, Pius XII, Hitler) mengirimkan kaum liberal dan orang Yahudi ke kamp konsentrasi. Nasib bangsa Yahudi sudah ditentukan (oleh Hitler): dibunuh atau disuruh bekerja sampai kehabisan tenaga kemudian dibinasakan.

    Walter Schellenberg, mantan kepala spionase Nazi membuat pernyataan ini: “Organisasi S.S. dibentuk oleh Himmler berdasarkan prinsip-prinsip dari Ordo Jesuit. Peraturan dan Latihan Kerohanian yang disusun oleh Ignatius Loyola adalah model yang ditiru habis oleh Himmler. Julukan Himmler sebagai kepala tertinggi S.S. adalah setara dengan Jenderal Jesuit dan seluruh struktur S.S. adalah tiruan dari hierarki ordo dalam Gereja Katolik.”

    Adolph Hitler mengatakan: “Saya yakin akan kekuasaan besar dan pentingnya Kekristenan, dan saya tidak akan membiarkan agama lain manapun muncul ke permukaan. Maka dari itu saya beralih dari Ludendorff dan menolak buku yang ditulis Rosenberg. Buku itu ditulis oleh seorang Protestan. Buku itu bukan buku partai. Buku itu tidak ditulis olehnya sebagai bagian dari Partai. Biarkan saja para Protestan berdebat dengan dia… Sebagai seorang Katolik saya tidak pernah merasa suka berada dalam gereja Injili ataupun di dalam strukturnya. Makanya saya akan menemui kesulitan jika saya mencoba untuk menjalin hubungan dengan gereja-gereja Protestan. Penginjil-penginjil atau orang-orang Protestan akan menolak saya. Tetapi anda tidak perlu khawatir: Saya akan melindungi hak dan kebebasan dari gereja-gereja tersebut dan tidak akan membiarkan mereka dicampuri, jadi anda tidak perlu khawatir tentang masa depan Gereja Injili.”

    Hitler juga bersedia berdiskusi dengan uskup mengenai pandangannya terhadap pertanyaan yang berkenaan dengan bangsa Yahudi: “Mengenai bangsa Yahudi, saya hanya menjalankan kebijakan yang sama yang telah diterapkan oleh Gereja Katolik selama 1500 tahun, dimana sudah ditetapkan bahwa bangsa Yahudi adalah bangsa yang berbahaya dan harus dipaksa masuk ke dalam ghetto (perkampungan khusus untuk orang Yahudi), karena Gereja mengetahui seperti apa orang Yahudi itu. Saya tidak meletakkan sebuah ras diatas agama, saya betul-betul melihat sesuatu yang berbahaya dari ras ini terhadap Gereja dan negara, dan mungkin saya telah memberikan pelayan agung terhadap kekristenan.”

    Anda akan temukan dalam Mein Kampf (buku karangan Hitler), dia berkata: “Disini, aku meyakini bahwa aku bertindak sebagai utusan dari Pencipta kita. Dengan melawan bangsa Yahudi, berarti aku melakukan pekerjaan Tuhan”.

    Hitler mengatakan kembali dalam perayaan natal Nazi tahun 1926: “Kristus adalah pejuang terbesar yang lebih awal dalam pertempuran melawan musuh dunia, yaitu bangsa Yahudi… Pekerjaan yang dimulai oleh Kristus tetapi tidak bisa diselesaikan, Aku –Adolf Hitler– akan menyelesaikannya.”

    Penulis biografi John Toland menulis tentang agama Hitler: “Masih seorang anggota didalam kebaikan yang berdiri pada Gereja Roma di samping kebencian tentang hirarki nya, ia membawa di dalam pengajarannya bahwa orang-orang Yahudi adalah pembunuh Tuhan. Pembasmian, oleh karena itu, harus dilakukan”

    Jadi, Hitler itu melakukan pembantaian terhadap bangsa Yahudi karena dia dendam, Tuhannya Hitler yaitu Yesus Kristus telah dibunuh oleh orang Yahudi. Oleh karena itu sebagai seorang Kristen (Katolik) yang taat, maka Hitler membalaskan dendam kematian Yesus itu dengan mengirim orang-orang Yahudi ke kamp-kamp konsentrasi dan memasukkan mereka ke kamar gas untuk menghirup gas beracun sampai mati.

    Di Reichstag dalam pidatonya tahun 1938, Hitler lagi mengemukakan religius asal dari Perang Salib nya. “Aku percaya hari ini bahwa aku sedang bertindak sebagai perwujudan dari Sang Pencipta Yang Maha Kuasa. Dengan memerangi bangsa Yahudi, aku sedang memperjuangkan pekerjaan Tuhan.”

    Hitler menganggap dirinya sendiri sebagai sebagai seorang Katolik sampai kematiannya. “Aku sekarang sebagaimana sebelumnya adalah seorang Katolik dan akan selalu begitu,” ia menceritakan hal itu kepada Gerhard Engel, salah satu dari jenderalnya, pada 1941.

    Manakala Hitler berhasil selamat dari percobaan pembunuhan terhadapnya di Munich pada bulan November, 1939, ia memberi pujian untuk hal itu. “Sekarang aku dengan sepenuhnya telah berisi,” ia berseru. “Fakta bahwa aku meninggalkan Burgerbraukeller lebih awal dari biasanya adalah suatu bukti-bukti yang menguatkan bahwa Pemeliharaan baik telah memberi aku kesempatan untuk menyelesaikan tujuanku.” surat-surat kabar Katolik mengumumkan bahwa itu adalah sebuah pekerjaan yang ajaib yang telah melindungi Fuhrer (pemimpin) mereka. Satu kardinal, Michael Faulhaber, mengirim sebuah telegram yang menginstruksikan bahwa sebuah Te Deum harus dinyanyikan di katedral Munich, “untuk berterima kasih kepada Tuhan atas nama archdiocese untuk penyelamatan yang beruntung kepada Fuhrer.” Sri Paus juga mengirim ucapan selamat pribadi khususnya!

    Ketika Hitler menyerang Rusia, Sri Paus didepan umum menguraikan serangan Hitler ke Rusia sebagai “keberanian berjiwa besar di dalam pertahanan bagi pondasi kebudayaan Kristen.” Beberapa uskup Jerman secara terbuka mendukung invasi Hitler ke Rusia, dan menyebutnya sebagai “Perang salib Eropa.” Seorang uskup mendesak semua orang Katolik untuk berjuang untuk “sebuah kemenangan yang akan mengijinkan Eropa untuk terbebas lagi dan akan berjanji semua bagi negara-negara sebuah masa depan yang baru.”

    Photobucket – Video and Image Hosting

    Tiga orang pahlawan iman Katolik Roma adalah Hitler, Mussolini dan Franco. Semuanya menandatangani konkordat dengan Vatikan. Ketiganya merupakan pahlawan bagi iman Katolik Roma dan dirancang untuk menang dan menaklukkan dunia, dan membentuk kerajaan seribu tahun bagi Paus.

    Photobucket – Video and Image Hosting

    Mussolini membentuk aliansi militer dengan Nazi Jerman pada tahun 1939 dan tak lama kemudian meletuslah Perang Dunia Kedua. Nazi pertama-tama mencaplok Sudetenland, dengan bantuan Partai Sosial Kristen dan Republik tersebut pun terbagi. Tetapi Hitler berkeinginan untuk mencaplok Slovakia dan berkuasa penuh atasnya. Hal ini tidak terlalu sulit bagi Hitler karena sebagian besar pemimpin politik Slovakia adalah pengikut Katolik, termasuk seorang pastor bernama Hlinka (seorang Jesuit).

    Kita mengetahui, berdasarkan Kanon (hukum dalam lembaga Katolik), tidak seorang pastor pun bisa mempunyai kedudukan baik di publik maupun di dunia politik tanpa persetujuan Tahta Suci. Jadi karena persetujuan Tahta Sucilah, seorang pastor dapat mempunyai kedudukan dalam parlemen Cekoslowakia.

    Pada tanggal 1 September 1939. Pagi-pagi buta, Komando Tertinggi Jerman mengeluarkan perintah harian yang berbunyi: “Saat penuh cobaan telah tiba. Tatkala semua upaya lain telah habis, maka senjatalah yang harus memutuskan. Kami memasuki pertempuran ini dengan menyadari bahwa keadilanlah yang menuntun kami. Kami percaya akan Fuehrer, pemimpin kami. Maju, BERSAMA TUHAN, demi Jerman.”

    Saya sengaja menulis kata-kata “bersama Tuhan” diatas dengan huruf kapital, adalah untuk menunjukkan bahwa erat sekali kaitan antara motivasi agama -dalam hal ini Katolik- dengan ambisi-ambisi NAZI.

    Pada saat Nazi menyapu habis negara Balkan, dalam perjalanannya untuk menyerang Rusia, Yugoslavia menjadi negara yang dikuasai oleh Nazi. Paus pada saat itu memandang rendah para kaum Orthodoks Rusia. Mereka adalah orang-orang Serbia dan harus berbaris untuk kemudian dibunuh di Yugoslavia. Mereka hanya diberi satu pilihan: menjadi Katolik atau mati.

    Hitler mengakui bahwa dia belajar banyak dari Ordo Jesuit. Organisasi S.S. dibentuk berdasarkan prinsip-prinsip Ordo Jesuit, baik itu berdasarkan peraturan-peraturannya, maupun latihan spiritual yang “diresepkan” oleh Ignatius de Loyola; sedangkan struktur perintah/birokrasi meniru susunan hirarki Gereja Katolik. Salah satu prinsip yang dijunjung tinggi pihak kepausan adalah pembunuhan yang terorganisir, yaitu inkuisisi. Apakah inkuisisi hanya terjadi di masa lalu? Tidak! Apakah bisa terjadi pada masa sekarang? Ya. Mengapa? Karena prinsip yang dijunjung tinggi itu tidak berubah!

    Hitler, Joseph Goebbel, Himmler dan sebagian besar anggota Nazi adalah Katolik. Hitler sendiri menganggap Himmler, pimpinan Gestapo, sebagai Ignatius de Loyola-nya Nazi. Hitler mempunyai alasan untuk menyebutnya
    demikian. Kurt Heinrich Himmler, Reichsfuhrer (Jenderal) S.S., Gestapo dan pasukan polisi Jerman adalah seorang yang paling banyak diisi oleh paham Kekatolikan dibandingkan dengan anggota-anggota Katolik lainnya dalam grup Hitler. Ayahnya seorang direktur sekolah Katolik di Munich (Muenchen), guru pribadi Pangeran Ruprecht dari Bavaria. Saudara laki-lakinya seorang biarawan Benedictine. Pamannya memegang posisi penting di Mahkamah Bavaria.

    Para Katolik adalah para tuannya Nazi Jerman yang melaksanakan prinsip-prinsip kepausan. Gereja Roma merasa berhak untuk memusnahkan siapa saja, baik dengan cara lambat atau cepat, yang menghalanginya, yaitu orang-orang liberal dan kaum Yahudi, dikirim ke Auschwitz, Dochau, Belsen, Buchenwald dan kamp-kamp kematian lainnya.

    Vatikan sendiri cuci tangan terhadap kekejaman ini, seperti yang dinyatakan oleh Pius XII kepada Dr.Nerin F. Gun, jurnalis Swiss yang mempertanyakan mengapa paus tidak menolong orang-orang malang tersebut: “Kami mengetahui bahwa, karena asalan politik, adanya pembunuhan kejam terjadi di Jerman, tetapi kami tidak pernah diinformasikan seperti apa penindasan Nazi yang tidak berperikemanusiaan itu”.

    Tahta Suci diketahui terlibat dalam pendeportasian 528 misionaris Protestan dari penjara, oleh orang-orang Jepang, di Kepulauan Pasifik dan diasingkan ke kamp-kamp konsentrasi di Filipina. Cukup banyak bukti yang menyatakan keterlibatan Gereja Roma dalam hal-hal yang dilakukan Oustachi, Nazi, pemusnahan kaum Ortodoks dan bangsa Yahudi. Gereja Roma tidak pernah mengakui bahwa setiap warga negara mempunyai hak yang sama. Gereja Katolik harus bertanggung jawab karena telah menghabisi nyawa ratusan juta manusia sejak awal berdirinya agama mereka.
    Photobucket – Video and Image Hosting

    Mussolini giving the Roman salute. Mussolini funneled arms and money to Hitler
    to help his rise to power.

    Photobucket – Video and Image Hosting

    Nazi Coin with Catholic church on it

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: